Sampah di Pantai Padang mengganggu wisata Masjid Al-Hakim, pemerintah harus membersihkannya secara rutin. (Mengki Kurniawan/Padeks)
PADANG (RIAUPOS.CO) – Kawasan Pantai Padang, khususnya di sekitar Masjid Al-Hakim, kembali menjadi sorotan akibat tumpukan sampah yang mengganggu estetika dan kenyamanan. Jumat (20/2), hamparan limbah plastik dan kayu terlihat menyelimuti bibir pantai tepat di depan rumah ibadah yang menjadi ikon wisata religi Sumatera Barat tersebut.
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan wisatawan. Vahid Ahmad (28), pengunjung asal Malaysia yang datang bersama keluarga besarnya, mengaku terkejut melihat kontras antara arsitektur masjid yang megah dengan lingkungan sekitar yang tampak kumuh akibat sampah.
Sambil memandang ke arah laut, Vahid menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai potensi wisata Pantai Padang sangat besar, namun terkendala persoalan kebersihan yang belum tuntas.
“Sangat disayangkan, kawasan ini sudah cukup cantik dengan Masjid Al-Hakim yang megah seperti Taj Mahal itu. Tapi saat melihat ke bawah, ke pantai, banyak sekali sampah plastik. Tidak nyaman rasanya ingin berfoto atau membawa anak-anak jalan. Seharusnya tempat suci seperti ini harus bersih, barulah tenang untuk beribadah,” ujarnya, Jumat (20/2).
Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Menurutnya, pembersihan perlu dilakukan lebih sering dan penggunaan plastik sebaiknya dikurangi.
Secara visual, kawasan ini menghadirkan ironi. Masjid Al-Hakim dengan cat putih bersih berdiri megah sebagai kebanggaan warga. Namun, hanya beberapa meter dari gerbang masjid, terlihat tumpukan limbah rumah tangga dan kayu-kayu lapuk.
Fenomena ini dipicu faktor geografis dan alam. Sebagai kota dengan banyak muara sungai, Padang kerap menerima sampah kiriman saat hujan deras di wilayah hulu. Sampah terbawa arus sungai menuju laut, lalu terdampar kembali ke daratan akibat ombak.
Letak Pantai Padang yang berada di cekungan teluk membuat arus laut cenderung menjebak sampah di titik tersebut, sehingga limbah dari berbagai penjuru seolah berkumpul dan menetap.
Masalah ini juga memunculkan kontradiksi nilai. Kebersihan yang merupakan bagian dari iman menjadi sorotan ketika kawasan wisata religi dipenuhi sampah. Bau tidak sedap dan pemandangan kotor tentu mengurangi kenyamanan pengunjung yang datang untuk beribadah.
Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah berupaya melakukan pembersihan dengan mengerahkan petugas secara rutin. Namun, upaya tersebut kerap berkejaran dengan waktu. Area yang dibersihkan pada pagi hari bisa kembali dipenuhi sampah pada sore harinya, terutama setelah pasang naik atau hujan di perbukitan.
Selain faktor alam, kurangnya kedisiplinan sebagian pengunjung dan pedagang kaki lima turut memperburuk keadaan. Meski tempat sampah tersedia di sepanjang jalur pedestrian, perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan.
Situasi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur fisik, seperti Masjid Al-Hakim, perlu diiringi pembangunan karakter masyarakat. Sinergi antara pemerintah dalam penyediaan sarana dan kesadaran warga menjaga lingkungan menjadi kunci utama.
Jika kondisi ini terus berlanjut, pencemaran mikroplastik dan limbah dikhawatirkan menurunkan minat kunjungan wisatawan secara permanen dan berdampak pada ekonomi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. (rpg)
Kualitas udara Pekanbaru memburuk, siswa PAUD hingga SMP belajar daring dari rumah. MBG tetap disalurkan…
Pacu jalur hari keempat di Tepian Narosa berlangsung sengit. Sebanyak 13 jalur berhasil melaju ke…
Tiga desa di Kepulauan Meranti masih kekurangan calon kepala desa untuk Pilkades 2026. Pendaftaran diperpanjang…
Pasangan suami istri terseret arus Sungai Kuantan saat mandi di tengah pacu jalur. Sang istri…
SBK Apparel mendukung Riau Pos Gowes Merdeka 2026 dan menyiapkan doorprize kulkas satu pintu untuk…
PSPS Pekanbaru meraih tiga kemenangan beruntun dalam laga uji coba dan mencetak enam gol sebagai…