Warga Kampung Dosan, Kecamatan Pusako, masih bertahan di tenda pengungsian akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir, Sabtu (27/12/2025). Monang Lubis/Riau Pos
SIAK (RIAUPOS.CO) – Selama dua pekan terakhir, banjir di Kecamatan Pusako memaksa puluhan warga mengungsi. Tanpa mengenal hari libur, tim gabungan terus bekerja melakukan penanganan guna mempercepat surutnya genangan air.
Bupati Siak, Afni Z, menegaskan bahwa meskipun titik banjir berada di ruas jalan nasional, dampaknya sangat dirasakan masyarakat Kabupaten Siak sehingga penanganan harus dilakukan secara cepat dan serius.
Sejumlah alat berat telah dikerahkan untuk mengatasi banjir. Alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum bekerja di Km 28 dan Km 29 Simpang Obor. Sementara itu, PT Arara Abadi menurunkan alat berat untuk membersihkan kanal sepanjang tiga kilometer, sedangkan PT BSP mengoperasikan alat berat long arm di kanal Sungai Limau guna memperlancar aliran air menuju sungai.
“Alhamdulillah, alat berat yang bekerja di sekitar pipa Dosan mulai menunjukkan hasil dalam mengurai genangan air pada Sabtu (27/12) sore,” ujar Bupati Afni.
Meski demikian, ia mengakui kondisi masih mengkhawatirkan karena intensitas hujan yang tetap tinggi serta meluapnya air dari Danau Naga Sakti ke permukiman warga. “Kami terus berupaya maksimal agar air bisa segera surut,” tambahnya.
Selain penanganan teknis, bantuan logistik dan layanan kesehatan juga terus disalurkan. Tim dari Dinas Kesehatan, Baznas, dan Dinas Sosial secara rutin membantu warga terdampak banjir.
“Dapur umum masih aktif. Saya juga sudah turun ke lokasi dan terus memantau laporan lapangan. Insyaallah akan kembali meninjau perkembangan berikutnya,” tegas Bupati.
Data terbaru mencatat sebanyak 88 jiwa warga Desa Dosan masih berada di pengungsian. Mereka terdiri dari enam lansia, 43 orang dewasa, 24 pelajar, 12 balita, satu ibu hamil, dan dua bayi.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Siak berharap adanya solusi permanen dari Kementerian Pekerjaan Umum agar banjir tidak kembali terjadi di lokasi yang sama. Bupati Afni menekankan bahwa normalisasi sungai dan pengaturan kanal idealnya dilakukan saat musim kemarau.
“Kalau sudah banjir seperti sekarang, kita harus bekerja ekstra keras agar masyarakat bisa segera kembali ke rumah,” ujarnya.
Banjir ini sendiri telah melanda tujuh dari 14 kecamatan di Kabupaten Siak sejak dua pekan terakhir, yakni Kandis, Sungai Mandau, Koto Gasib, Mempura, Siak, Pusako, dan Sungai Apit. Saat ini, wilayah yang masih terdampak adalah Kecamatan Pusako dan Sungai Mandau.
Di Kecamatan Sungai Mandau, tepatnya di Desa Muara Kelantan, sebanyak 12 kepala keluarga atau 43 jiwa masih bertahan di posko pengungsian. Sementara itu, banjir di Kampung Teluk Lancang dan Sungai Selodang dilaporkan telah surut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, menyebut fokus penanganan saat ini adalah pembersihan kanal. Ia juga menilai normalisasi kanal seharusnya dilakukan pada musim kemarau sebagai langkah pencegahan bencana hidrometeorologi.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas PU dan perusahaan sekitar wilayah rawan banjir. Ini masalah tahunan, semoga ke depan tidak terulang lagi,” tutup Novendra. (mng)
Grand Zuri Pekanbaru gelar Showcase Iftar Nusantara Ramadan 2026, perkenalkan paket buka puasa untuk klien…
PTPN IV PalmCo salurkan 6 juta bibit sawit bersertifikat, dampingi 93 koperasi dan dorong sertifikasi…
Mitsubishi hadirkan Destinator 55th Anniversary Edition berbasis varian tertinggi, berstatus limited dengan harga Rp520,5 juta.
Rayakan HUT ke-7, The Zuri Hotel Pekanbaru gelar donor darah dan kumpulkan 63 kantong untuk…
Pegadaian perkuat posisi sebagai investasi emas nomor 1, tawarkan layanan mudah, aman, dan dukung misi…
Polresta Pekanbaru ubah nama tiga Polsek sesuaikan pemekaran wilayah, demi permudah layanan kepolisian bagi masyarakat.