Categories: Riau

23 Gajah Tewas dalam 10 Tahun, BBKSDA Soroti Krisis Habitat di Tesso Nilo

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kondisi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau semakin mengkhawatirkan. Selain kerusakan hutan yang terus meluas, konflik antara manusia dan satwa liar pun makin sering terjadi. Salah satu dampaknya paling nyata adalah kematian gajah Sumatera yang terus berulang dalam sepuluh tahun terakhir.

Berdasarkan catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, sebanyak 23 ekor gajah Sumatera tercatat mati di kawasan TNTN sejak 2015. Seluruh kasus tersebut terjadi pasca-penetapan luas kawasan TNTN melalui SK Menteri Kehutanan Nomor: SK.6588/MenhutVII/KUH/2014 pada 28 Oktober 2014.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa angka tersebut mencerminkan situasi darurat konservasi di TNTN. “Kebanyakan kasus kematian gajah terjadi akibat konflik dengan manusia. Mulai dari diracun, terkena jerat, hingga penyakit yang muncul karena habitat alaminya makin rusak,” ujarnya, Jumat (27/6).

Secara rinci, Supartono menyebut, ada 8 kasus kematian gajah pada 2015, 2 kasus pada 2016, 2 kasus pada 2018, dan 1 kasus pada 2019. Kemudian pada 2020 tercatat 3 ekor mati, 3 ekor lagi pada 2023, 2 ekor pada 2024, dan terakhir 1 kasus kematian pada 2025 ini.

Salah satu kasus paling tragis terjadi pada Januari 2024, ketika seekor gajah jinak bernama Rahman ditemukan mati akibat racun. Salah satu gadingnya hilang, diduga kuat diambil pemburu.

Supartono yang juga pernah menjabat Kepala Balai TNTN menyebutkan, penyebab utama terus berulangnya konflik antara manusia dan gajah adalah kerusakan habitat. “Lebih dari 40 ribu hektare hutan di Tesso Nilo kini telah berubah menjadi kebun sawit ilegal dan pemukiman liar. Gajah kehilangan ruang hidupnya dan akhirnya masuk ke wilayah manusia,” katanya.

Meski begitu, BBKSDA Riau tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah, pemulihan habitat alami, hingga edukasi ke masyarakat sekitar taman nasional.

Pihak BBKSDA juga menyambut baik keberadaan Satuan Tugas Penanganan Kawasan Hutan (Satgas PKH). Menurut Supartono, tindakan tegas berupa penyitaan lahan ilegal dan relokasi warga dari kawasan TNTN adalah langkah penting untuk menyelamatkan populasi gajah Sumatera yang kian terdesak.

Redaksi

Recent Posts

Dampak Asap Karhutla Makin Pekat, Pemkab Kuansing Liburkan Sekolah Dua Hari

Kualitas udara di Kuansing nyaris menyentuh level sangat tidak sehat. Disdikpora Kuansing memutuskan kembali menerapkan…

9 jam ago

Kabut Asap Karhutla Kian Pekat, 2.220 Warga Pelalawan Terserang Penyakit ISPA

Dampak kabut asap karhutla di Pelalawan sebabkan 2.220 warga terserang ISPA. Pemkab Pelalawan menyiagakan posko…

9 jam ago

Kualitas Udara Memburuk, Kasus ISPA di Kabupaten Kampar Tembus 1.740 Pasien

Kualitas udara Bangkinang masuk kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap karhutla. Dinkes Kampar mencatat…

10 jam ago

PSPS Pekanbaru vs Persiraja Banda Aceh: Momentum Asykar Bertuah Bangkit di Laga Kandang

Gagal meraih poin di laga pembuka, PSPS Pekanbaru fokus melakukan evaluasi total jelang laga kandang…

10 jam ago

Menggugah Selera, Grand Elite Hotel Pekanbaru Hadirkan Menu Ayam Goreng Serundeng Sambal Bawang

Grand Elite Hotel Pekanbaru menghadirkan promo menu nusantara Ayam Goreng Serundeng Sambal Bawang lezat buatan…

18 jam ago

Operasional 1.276 SPPG Dihentikan Sementara, BGN Pastikan Pasokan Makan Bergizi Gratis Tetap Aman

Badan Gizi Nasional menindak tegas 1.276 SPPG dengan menghentikan sementara operasionalnya akibat belum memenuhi kriteria…

19 jam ago