Categories: Riau

Realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat di Riau Minim

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting di Provinsi Riau untuk 2021, masih tergolong minim. Di mana dari target 26.500 ektare (Ha), hingga saat ini baru tercapai seluas 392 a.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau Zulfadli mengatakan, meski progres PSR masih rendah, pihaknya akan terus berupaya menggesa agar realisasi replanting sawit di Riau meningkat.

"Kami terus memberi support kepada kabupaten/kota agar cepat mengusulkan PSR ke provinsi dengan data sudah clear. Artinya jangan lagi di provinsi membahas verifikasi sehingga memperlambat pengusulan PSR ke pusat. Karena dari target tahun 2021 26.500 ha, namun sampai Agustus baru tercapai 392 hektare," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, upaya yang lakukan pihaknya agar progres PSR meningkat, yakni dengan melakukan percepatan pemberkasan dokumen program PSR secara nasional, dengan melibatkan pihak Kementerian Pertanian, Kemenko Perekonomian, Kementerian BPN/ATR, Kementerian LHK, BPKH dan Disbun Kabupaten/Kota.

"Jadi nanti semua pihak yang terlibat dalam program PSR ini nanti akan memverifikasi secara serentak usulan PSR kabupaten. Kami harap dengan upaya ini bisa meningkatkan progres PSR," ujarnya.

Dengan upaya yang dilakukan tersebut, pihaknya berharap bisa memperkecil kemungkinan data usulan PSR yang tak sesuai persyaratan. "Dengan adanya percepatan pemberkasan dokumen program PSR tersebut, kita menargetkan sampai Oktober 2021 progres PSR di Riau bisa mencapai 1.600 hektare," ungkapnya.

Zulfadli menyatakan, jika merujuk realisasi PRS secara nasional khusus di Sumatera, realisasi PSR di Provinsi Sumatara Utara, Jambi, Sumatera Selatan dan Aceh relatif sama.

"Bahkan Aceh sampai saat progresnya baru 168 hektare. Untuk itu kita harus ada upaya khusus untuk mendorong realisasi PSR ini," sebutnya.

Zulfadli menjelaskan, lambatnya realisasi PSR disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena tingginya harga sawit. Dimana banyak kelompok tani yang awalnya sepakat mengusulkan PSR membubarkan diri karena harga sawit tinggi karena menganggap sawitnya masih bisa menghasilkan.

"Kemudian persoalan lain banyak kebun masyarakat yang lahannya tidak clear. Misalnya alas haknya tidak jelas dan tumpang tindih. Namun ada juga kebun masyarakat yang sudah ada sertifikat masuk kawasan hutan," paparnya.(ade)

Laporan: Soleh Saputra (Pekanbaru)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Tiga Bulan Belajar di Dunia Media, Mahasiswa Unri Rampungkan Program Magang Berdampak di Riau Pos

Mahasiswa Unri sukses menyelesaikan program Magang Berdampak selama tiga bulan di Riau Pos dengan bekal…

2 hari ago

Tangis dan Bangga Warnai Pelepasan 250 Siswa SMPN 25 Pekanbaru

Pelepasan 250 pelajar kelas IX SMPN 25 Pekanbaru berlangsung khidmat, meriah, dan penuh suasana haru.

2 hari ago

Sewa Lima Hari, Mobil Malah Digelapkan, Pasutri Berakhir Ditangkap

Pasutri di Tapung ditangkap polisi setelah diduga menggelapkan mobil rental yang tak dikembalikan kepada pemiliknya.

2 hari ago

Pantai Solop Diawasi Ketat Saat Iduladha, Maksiat dan Narkoba Jadi Perhatian

Pengawasan di Pantai Solop diperketat selama libur Iduladha untuk mencegah maksiat, miras, narkoba dan perilaku…

2 hari ago

Korupsi Bibit Kopi Liberika di Meranti, Kerugian Negara Rp663 Juta Berhasil Dipulihkan

Kejari Kepulauan Meranti berhasil memulihkan kerugian negara Rp663 juta dari kasus korupsi pengadaan bibit kopi…

2 hari ago

Kursi Kadis PUPR Riau Berganti, SF Hariyanto Tunjuk Zulfahmi Jadi Plt

SF Hariyanto menunjuk Zulfahmi sebagai Plt Kadis PUPR-PKPP Riau untuk penyegaran dan percepatan pembangunan infrastruktur.

2 hari ago