Categories: Olahraga

Indonesia Berat Gelar World Tour Finals

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Kamis lalu, kantor berita Cina, Xinhua, memuat berita yang cukup bikin resah. Yakni, Cina bakal meniadakan seluruh kegiatan olahraga hingga akhir 2020.

General Administration of Sports of China menyebutkan, tidak ada rencana olahraga internasional di Negeri Panda tahun ini kecuali uji coba Olimpiade Beijing 2022.

Jika demikian, tentu bulu tangkis bakal kembali terdampak. Cukup banyak event akbar yang digelar di Cina hingga akhir tahun. Pertama China Open Super 1000 yang diagendakan pada 15–20 September. Lalu, ada Fuzhou China Open Super 750 pada 3–8 November. Kemudian, yang terakhir, tentu event puncak BWF World Tour Finals pada Desember.

Sub Bidang Hubungan Luar Negeri PP PBSI Bambang Roedyanto menuturkan, keputusan batalnya China Open maupun Fuzhou China Open tersebut belum resmi. "Kabar itu dari Xinhua," katanya kepada Jawa Pos kemarin.

Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto menambahkan, pihaknya sudah mendapat info untuk kans batalnya kejuaraan di Cina. Hanya, PBSI masih menunggu informasi resmi dari BWF selaku induk organisasi bulu tangkis dunia. "Itu kan sebelumnya statement dari pihak pemerintah Cina. Kami tunggu BWF, karena acuan kami BWF," jelasnya.

Karena itu, Budi belum bisa berkomentar secara detail. Soal World Tour Finals, Budi menyebut ada kemungkinan batal atau dipindahkan ke negara lain. Apakah mungkin Indonesia yang menjadi tuan rumah? Budi menilai itu sangat berat.

"Indonesia juga kesulitan lah. Kami terus melihat perkembangan. Kalau seperti ini (kasus positif Covid-19 terus meningkat, Red), ngeri juga," ucapnya. Selain situasi pandemi, biaya untuk menyelenggarakan World Tour Finals sangat besar.

Event tersebut merupakan kejuaraan dengan bayaran tertinggi, dengan prize money 1,5 juta dolar AS atau sekitar Rp22 miliar. Tentu, standar penyelenggaraannya lebih tinggi dari turnamen BWF Tour biasa.

Di sisi lain, pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi memaklumi kalau memang berbagai kejuaraan di Cina dibatalkan. "Ya mau gimana lagi, memang keadaan dunia seperti ini. Kami harus bisa terima," tuturnya.

Pihaknya tentu bakal mengikuti instruksi dari PBSI dan BWF ketika hendak mengikuti kejuaraan di luar negeri. Bahkan di negara yang sudah zona hijau sekalipun. Dia tidak ingin memaksakan pemainnya tampil tanpa jaminan keamanan dan keselamatan.

"Paling kan cari solusinya bikin Home Tournament seperti kemarin itu untuk menjaga suasana atmosfer pertandingan. Meskipun tidak seperti pertandingan sesungguhnya," kata Herry.

Sektor ganda putra membuka rangkaian Home Tournament dengan sukses dua pekan lalu (24–26/6). Duet Fajar Alfian/Yeremia Erich Yotje Yacob Rambitan secara mengejutkan menjadi juara.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Basarnas Gunakan Alat Pendeteksi, Balita Tenggelam di Kuansing Belum Ditemukan

Balita 4,5 tahun diduga hanyut di Sungai Kuantan belum ditemukan. Basarnas turunkan alat pendeteksi, pencarian…

21 jam ago

Tak Mau Sampah Menumpuk, Wali Kota Pekanbaru Terapkan Komposter

ASN Pekanbaru diwajibkan punya komposter di rumah. Kebijakan ini jadi langkah awal Pemko mengurangi sampah…

22 jam ago

Banyak Tak Berizin, Kabel Fiber Optik di Pekanbaru Siap Ditata Ulang

Kabel semrawut di Pekanbaru jadi sorotan. Banyak provider belum berizin, Pemko siapkan aturan tegas demi…

22 jam ago

Siak Lakukan Efisiensi Besar, Tapi PPPK Tetap Dipertahankan

Bupati Siak pastikan PPPK tidak dirumahkan meski anggaran tertekan. Pemkab fokus efisiensi dan dorong ekonomi…

23 jam ago

Pacu Sampan Kampar 2026 Meriah, 25 Tim Ramaikan Sungai Kampar

Pacu sampan Kampar 2026 diikuti 25 tim. Selain melestarikan budaya, ajang ini juga menjadi daya…

23 jam ago

Belasan Pasien Terlantar di RSUD Bengkalis, Jadwal JKN Tak Sinkron

Belasan pasien gagal berobat di RSUD Bengkalis karena poli tutup saat libur nasional, meski aplikasi…

2 hari ago