Categories: Nasional

Periuk Kera Jadikan Negeri Junjungan Ternama

Arboretum Gambut di Sungai Pakning merupakan konservasi keanekaragaman hayati dimiliki masyarakat bersama PT Pertamina. Di arboretum ini berbagai jenis kantong semar atau periuk kera bisa ditemui bahkan yang langka sekalipun. Kelangkaan periuk kera ini membuat Negeri Junjungan dan PT Pertamina ikut ternama di mata negara.

Laporan ERWAN SANI, Sungai Pakning

Aboretum gambut merupakan salah satu  wilayah konservasi keanekaragaman hayati yang dimiliki masyarakat bekerjasama dengan PT Pertamina Internasional Unit Sungai Pakning.

Kehadiran konservasi ini menyelamatkan flora dan fauna yang masih selamat dari ganasnya kebakaran hutan dan lahan di Riau, khususnya di Kecamatan Bukitbatu, Bengkalis. Di lahan hutan yang selamat inilah diinisiasi untuk melakukan  konservasi  flora dan fauna khas gambut.

Di lahan seluas 1,1 hektare di Kelurahan Sungai Pakning, Dusun Kampung Jawa, Kecamatan Bukitbatu,  bersama masyarakat peduli api dan Koperasi  Tani Tunas Makmur melakukan konservasi tanaman endemik gambut seperti kantong semar (Nepenthes sp) atau akrab bagi warga pesisir dengan nama periuk kera. Selain itu juga fauna Simpai Hitam (presbytis melalophus sumateranus) dengan status endangered.

Namun kebahagaian terasa ketika ada sepsies kantong semar di lahan konservasi itu, yaitu spesies Nepenthes spectabilis (vurnerable) dan Nepenthes Sumatrana (critically endangered).

Untuk itu, sepekan lalu berkesempatan untuk turun melihat flora bernama periuk kera atau kantong semar ini. Jadi, bicara tentang periuk kera atau kantong semar atau Nephentes terbayang akan tumbuhan berkantong berisi air dan pemakan serangga. Makanya tumbuhan ini karnivora, pemangsa serangga dan hewan-hewan kecil. Sebagian besar kantong semar banyak tumbuh di daerah tanah gambut dengan berbagai jenis.

Namun periuk kera ini tumbuhan yang sangat unik dan dilindungi. Di Riau, kantong semar atau periuk kera ini sebenarnya bisa saja ditemui di banyak tempat tapi karena ketidaktahuan masyarakat tumbuhan karnivora terancam kelestariannya.

Risau akan kelistariannya tumbuhan ini dan berbagai pohon hutan lainnya, pelopor Arboretum Sadikin bersama teman-teman terpikir untuk melestarikan tanaman itu dari lahan sisa kebakaran.

Dirinya sebagai penggagas Arboretum Gambut Sadikin mengatakan, lahirnya pusat pendidikan, penelitian juga wisata gambut di Provinsi Riau ini bermula dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sungai Pakning di tahun 2014 -2015. 

‘’Alhamdulillah saat itu  terdapat lahan seluas 1,1 hektare  yang tidak terbakar dan masih banyak tumbuhan hutan di dalamnya,’’ jelas Sadikin.

Menurut dia, Arboretum Gambut di Sungai Pakning fokus dijadikan tempat melestarikan kantong semar. 

‘’Di tempat ini, ada sekitar tujuh spesies kantong semar atau periuk kera. Dua di antaranya berstatus dilindungi yakni Nephentes Sumatrana, Nephentes Spectabilis,’’ jelas Sadikin sambil memegang periuk kera atau kantong semar jenis Nephentes Sumatrana, Sabtu (16/10/2021).

Setelah beberapa menit, kemudian Sadikin mengajak menuju ke jenis kantong semar dilindungi lainnya. 

‘’Ini dia kantong semar dilingdungi juga. Jenis Nephentes Spectabilis,’’ jelasnya sambil kembali memegang flora dilindungi itu.

Saat itu Sadikin sambil memegang kantong semar bercerita, kalau lahan yang dikelola dan saat ini menjadi surga jenis periuk kera atau kantong semar tersebut juga memiliki biodiversitas khas gambut lainnya. Di antaranya seperti meranti, mentangor, gaharu, geronggang dan gelam. 

‘’Berbagai jenis kantong semar atau periuk kera (nephentes) ini, menggerakan hati masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem lahan ini melalui kegiatan konservasi secara mandiri,” kata Sadikin di depan pengunjung saat itu ikut sibuk mengabadikan foto bersama periuk kera saat itu.

Sadikin saat bersyukur karena di Arboretum Gambut saat ini sudah hadir  fasilitas penunjang seperti saung edukasi, rumah bibit dan musala  sehingga saat ini minat masyarakat untuk mengatahui keanekaragaman hayati di sekitar sudah bisa.

Bahkan saat ini, para peneliti dari berbagai perguruan tinggi atau universitas di Indonesia telah hadir di Arboretum Gambut di Dusun Jawa, Kelurahan Sungai Pakning itu. Bahkan dari perguruan tinggi pertanian terkemuka di Indonesia seperi IPB juga melakukan penelitian tentang kantong semar langka di sini. 

‘’Berbulan juga mereka di sini kemarin,’’ jelasnya sambil menyusuri jalan setapak menuju dari satu rimbunan jenis kantong semar ke kantong semar lainnya.

Tidak hanya di luar Sumatera, dari Unri, UIR dan juga Polbeng juga melakukan penelitian dan peninjauan langsung terkait kantong semar ini. Dengan ramainya kunjungan ini diharapkan pengembangan arboretum gambut ini makin mudah. Terutama mengembang biakan rumpun yang ada.

Sadikin juga sempat menceritakan saat ini di Arboretum sudah ada penggabungan jenis kantong semar. 

‘’Jadi dalam sekantong bisa gabungan dua jenis, terutama warna dan coraknya,’’ jelasnya sambil memegang kantong semar gabungan dari dua jenis yang ada di Arboretum Gambut.

Berada di kawasan Arboretum Gambut 1,1 hektare ini terasa di berada di tengah hutan belantara. Suasana teduh dan udara segar. Saat berada di Arboretum juga berkesempatan mencicipi air gambut yang sejuk dan menyegarkan tenggorokan.

Kini tempat wisata, pendidikan dan penelitian itu itu telah menjadi lokasi konservasi tanaman khas gambut serta pembibitan Kantong Semar. Kawasan konservasi di Kecamatan Bukitbatu ini menjadi lokasi tujuan outbond sekolah dengan materi Pendidikan Cinta Lingkungan Dini dan Pengenalan Ekosistem Gambut.

 

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Lelang Aset Meranti Tahap Dua Segera Dibuka, Motor Dinas hingga Scrap Dijual Online!

Pemkab Meranti akan lelang ulang aset daerah 28 April 2026 secara online. Kendaraan dinas dan…

15 menit ago

CJH Riau Kloter Pertama Masuk Asrama Haji 23 April, Siap Terbang ke Tanah Suci!

CJH Riau kloter pertama masuk Asrama Haji 23 April 2026 dan berangkat 24 April. Jemaah…

29 menit ago

Bangunan Bersejarah Rohul Dibersihkan, Pj Sekda Ajak Hidupkan Goro

Pj Sekda Rohul pimpin goro Selasa Bersih di kawasan aset bersejarah Pasirpengaraian untuk menjaga kebersihan…

18 jam ago

Tinggal Tunggu SK Mendagri, 19 Desa di Rohul Siap Naik Status

Sebanyak 19 desa persiapan di Rohul tinggal menunggu penetapan kode desa dari Mendagri untuk menjadi…

21 jam ago

30 Ton Ikan Mati, DPRD Minta DLH Transparan Soal Sungai Tapung

DPRD Kampar mendesak DLH segera merilis hasil uji dugaan pencemaran Sungai Tapung setelah 30 ton…

22 jam ago

BPNT Segera Cair di Meranti, 41 Ribu KK Masuk Daftar Penerima

Sebanyak 41 ribu KK di Meranti akan menerima BPNT berupa beras dan minyak. Jumlah penerima…

22 jam ago