Categories: Nasional

Angka Kunjungan Tembus 76 Ribu

Replika tongkang kembali dibakar pada puncak event Bakar Tongkang 2019. Sejak dilakoni puluhan tahun lalu, siapa sangka sebuah ritual yang bertolak dari peristiwa sederhana berupa pembakaran kapal, kini menjadi salah satu atraksi budaya yang mampu menyedot kunjungan puluhan ribu wisatawan setiap tahun.

 

(RIAUPOS.CO) — SOFYAN (51), salah seorang warga Bagansiapi-api menuturkan masih ingat saat remaja menyaksikan betapa sederhananya kegiatan Bakar Tongkang yang dipusatkan di Klenteng Ing Hok King pada era 80-an.

“Waktu itu orang yang menyaksikan sedikit saja, tak seperti sekarang. Waktu itu bedanya, yang dibakar ada yang berupa uang kertas asli,” kata Sofyan.

Tak jarang, terang Sofyan, warga yang menyaksikan mendekati titik pembakaran kertas untuk mengambil uang yang masih bisa diselamatkan.  Menimbang kerawanan yang bisa terjadi karena hal itu belakangan penggunaan uang asli sepenuhnya digantikan dengan kertas yang biasa dipakai untuk sembahyang atau Kim Chua.

Tokoh setempat Tan Guan Tio pada satu kesempatan menerangkan peristiwa pembakaran Tongkang menjadi titik tolok dari kedatangan masyarakat Tionghoa ke Bagansiapi-api. Migrasi besar-besaran terjadi karena kondisi konflik yang terjadi waktu itu. Upaya pencarian tempat baru merupakan pilihan yang terbaik namun tidak sedikit dari pelayaran yang dilakukan berakhir di tengah lautan atau hilang. Tan merupakan salah seorang yang turut pindah. Dirinya berasal dari Cina. Namun kedatangannya terbilang belakangan. Pasalnya saat sampai di Bagansiapi-api ia sudah menemukan sebuah tempat yang dinilai cukup berkembang pada saat itu dengan jumlah warga, akvititas perekonomian yang baik bersumber pada perikanan laut dan sebagainya.

Ia mengaku sempat melihat prosesi ritual Bakar Tongkang telah dilaksanakan, namun replika tongkang tidak dihias sedemikian rupa seperti sekarang. Hanya berupa kapal kecil sederhana saja dan diberikan kayu pancang.

Dari keterangan sejumlah tokoh, tradisi pembakaran tongkang merupakan napak tilas dari perjalanan 18 orang yang secara awal terdampar di Bagansiapi-api. Belasan orang ini selamat sampai ke daratan baru di antara belasan tongkang lain yang karam. Keberadaan patung dewa Ki Hu Ong Ya di dalam tongkang itu dipercaya sebagai berkah yang menyelamatkan para pengembara.  Sebagai wujud komitmen untuk hidup di tanah yang baru para pengembara tersebut memutuskan membakar Tongkang.  Mereka kemudian membangun klenteng pada 1826, dan menata kehidupan.  

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Sopir Truk Pembawa Ratusan Karung Bawang Ilegal Diciduk di Teluk Meranti

Polres Pelalawan menggagalkan pengiriman 7,5 ton bawang merah ilegal tanpa dokumen karantina di Teluk Meranti.

9 jam ago

Miris, 3.011 Anak di Bengkalis Putus Sekolah, Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama

Dinas Pendidikan Bengkalis mencatat 3.011 anak putus sekolah hingga 2026. Faktor ekonomi keluarga menjadi penyebab…

10 jam ago

Proyek Drainase Mangkrak, Jalan di Perumahan Lumba-Lumba Digenangi Air Kotor

Proyek drainase di Jalan Merpati, Binawidya, terhenti hampir tiga pekan dan menyebabkan air kotor menggenangi…

10 jam ago

Kabel Semrawut di Pekanbaru Bakal Ditanam Bawah Tanah, Penataan Dilakukan Bertahap

Pemko Pekanbaru mulai menata kabel telekomunikasi semrawut menuju sistem bawah tanah demi estetika dan kenyamanan…

10 jam ago

Sejak Januari, Damkar Pekanbaru Sudah Evakuasi 214 Ular dari Permukiman Warga

Damkar Pekanbaru mencatat 214 evakuasi ular sejak Januari 2026. Ular piton hingga kobra ditemukan masuk…

10 jam ago

Rohul Perkuat Promosi Wisata Lewat Branding Wonderful Indonesia Berbasis Medsos

Pemkab Rohul memperkuat promosi wisata melalui branding Wonderful Indonesia berbasis media sosial untuk mengenalkan destinasi…

10 jam ago