Orang yang malas bergerak bisa terserang penyakit yang mematikan. (BOLDSKY)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Teknologi yang semakin maju membuat masyarakat secara tidak langsung menciptakan pola hidup kurang gerak. Memesan makanan atau membeli sesuatu hanya tinggal menggerakkan jemari, pesanan pun segera sampai. Padahal, kurang gerak bisa menyebabkan seseorang terkena penyakit yang cukup fatal.
Kepala Subdirektorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan dr Theresia Sandra Diah Ratih menjelaskan, penyakit tidak menular (PTM) kini bukan penyakit yang hanya diderita lansia. Penyakit seperti stroke, diabetes dan hipertensi kini sudah bergeser ke usia yang lebih muda.
"Zaman dulu dengar kakek nenek kalau ke mana-mama jalan kaki atau naik sepeda. Sekarang anak-anak semua berangkat naik ojek online atau motor, ibu-ibu ke warung saja pergi naik motor. Karena sekarang teknologi membuat kita kurang gerak, nggak pernah masak, tinggal pesan online," tukas Theresia, Senin (14/10).
Maka catatan Kementerian Kesehatan ada 3 penyakit yang trennya meningkat dari tahun ke tahun. Faktornya adalah obesitas, merokok, aktivitas fisik kurang, kurang makan sayur dan buah, serta polusi udara.
1. Stroke. Penyakit stroke digolongkan menjadi dua, yakni stroke hemoragik (perdarahan) dan stroke iskemik. Selain mengancam nyawa, stroke menyebabkan kecacatan seumur hidup. Stroke merupakan penyakit yang menyebabkan adanya kelainan di otak.
"Teman saya di Kemenkes 30-40 tahun usianya sudah kena stroke. Sudah bergeser ke usia lebih muda," jelasnya.
2. Diabetes. Diabetes tipe 2 saat ini semakin banyak mengancam kaum urban. Gemar makan makanan tinggi gula, garam dan lemak adalah penyebab utama penyakit ini. Diabetes juga memicu penyakit jantung dan gagal ginjal.
3. COPD. COPD adalah Chronic Obstructive Pulmonary Disease yang merupakan penyakit paru kronis yang tak bisa disembuhkan. Penhyakit ini membuat penderintanya kesulitan bernapas. Salah satu penyebabnya adah polusi dan asap rokok.
"Penyakit COPD ini mulai naik trennya. Penderitanya tak bisa disembuhkan, hanya bisa bertahan. Terutama karena polusi udara dan kebiasaan rokok. Di Indonesia perokok ada 67 persen pada laki-laki. Kalau secara totalnya ada 36 persen," tegasnya.
Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi
Pemkab Rohul mencatat realisasi APBD 2025 sebesar Rp1,9 triliun atau 92,87 persen dan kembali meraih…
Mahasiswa FK Unri mengubah lahan kosong di Teluk Makmur, Dumai, menjadi kebun TOGA produktif untuk…
Disdik Riau mengumumkan 70.616 peserta lulus SPMB 2026. Bagi yang belum diterima, tersedia 2.179 kursi…
Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 km pada 2026, disertai pembangunan drainase…
Buron 3 tahun kasus 15 kg sabu di Bengkalis berinisial A (48) akhirnya ditangkap Polres…
DPRD Kampar melantik Idris sebagai anggota PAW Fraksi PAN untuk sisa masa jabatan 2024–2029 dalam…