Categories: Nasional

40 Persen Pasien Covid-19 Kehilangan Bau dan Rasa

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Gejala pasien Covid-19 ketika terinfeksi virus korona semakin lama semakin berkembang. Sudah bukan lagi sesak, demam dan batuk saja, tetapi ada tambahan gejala lainnya sepertu kehilangan kemampuan untuk mencium bau dan rasa. Kondisi ini semakin banyak dialami pasien.

Dilansir dari Express.co.ukAhad (13/9), pada 18 Mei, diumumkan bahwa kehilangan atau perubahan indra penciuman atau rasa secara resmi ditambahkan ke daftar gejala virus Korona oleh Pusat Kesehatan Nasional (NHS Inggris. Pada bulan Maret, Asosiasi Otorhinolaringologi Inggris (THT UK) menerbitkan pernyataan yang menguraikan gejala yang telah ditemukan di antara sejumlah pasien dengan tidak adanya gejala lain.

Presiden British Rhinological Society Profesor Claire Hopkins dan Ahli THT Inggris Profesor Nirmal Kumar mengatakan dalam pernyataan bersama telah terjadi peningkatan gejala dalam kasus anosmia terisolasi. Yaitu kehilangan bau total atau sebagian di Inggris, AS, Prancis, dan Italia utara.

Wakil kepala petugas medis Profesor Jonathan Van Tam mengatakan penambahan hilangnya bau dan rasa itu menjadi gejala resmi. Profesor Rhinology dan Olfaktologi di Norwich Medical School Carl Philpott, mengatakan gangguan bau dan rasa sudah diakui sebagai gejala lain. Organisasi Kesehatan Dunia WHO juha sudah menambahkannya ke dalam daftar.

Mengapa Bisa Terjadi?

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Profesor Hopkins dan Profesor Kumar dijelaskan ada sejumlah kasus seperti itu secara signifikan dialami pasien virus Korona di Italia, Korea Selatan, dan Eropa lainnya serta Tiongkok. Gejala anosmia dan hiposmia adalah berkurangnya kemampuan untuk mencium dan mendeteksi bau.

Rilis tersebut menguraikan bahwa anosmia pasca-virus adalah salah satu penyebab utama hilangnya indera penciuman pada orang dewasa. Bahkan jumlahnya bisa terhitung sekitar 40 persen kasus.

Padahal sebelumnya diperkirakan menyebabkan 10 hingga 15 persen kasus. Para peneliti di Harvard Medical School mengidentifikasi jenis sel mana terkait indera penciuman yang paling rentan terhadap infeksi Covid-19. Studi tersebut menemukan bahwa kondisi itu terjadi karena virus menyerang sel-sel yang mendukung neuron sensorik penciuman. Kabar baiknya, Associate Professor Neurobiology di Harvard Medical School dan rekan penulis penelitian, Dr Sandeep Robert Datta, yakin gejala ini tidak mungkin menyebabkan hilangnya bau secara permanen. 

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Ketua DPRD Kuansing Diperiksa KPK Selama 12 Jam, Kuasa Hukum Beberkan Materi Pemeriksaan

Ketua DPRD Kuansing Juprizal diperiksa KPK selama 12 jam terkait pelepasan kawasan hutan. Kuasa hukum…

1 hari ago

Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Uraikan Dugaan Aliran Uang Rp2,4 Miliar

Jaksa KPK menuntut Abdul Wahid 8 tahun 6 bulan penjara dan mengungkap lima dasar tuntutan…

1 hari ago

Bupati Meranti Ingatkan Pilkades 2026 Jangan Sampai Picu Perpecahan

Bupati Kepulauan Meranti mengajak masyarakat menjaga persatuan saat Pilkades 2026 dan menyiapkan hadiah umrah bagi…

1 hari ago

Nelayan Korban Serangan Buaya di Rokan Hilir Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Nelayan korban serangan buaya di Sungai Rokan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif. Korban…

1 hari ago

Tiga PKS di Rohul Masih Beli TBS Sawit di Bawah Harga Provinsi, Petani Diminta Lebih Selektif

Tiga PKS di Rohul masih membeli TBS sawit Rp2.850 per kg atau di bawah harga…

2 hari ago

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai, Pembayaran ke Malaysia Kini Bisa Pakai QRIS

Pelabuhan Penumpang Dumai resmi menjadi Kawasan Non Tunai. Pembayaran gate pass hingga tiket ferry internasional…

2 hari ago