Aksi unjuk rasa honorer K2.(INTERNET)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Umum Aliansi K2 Indonesia (AK2I) Edy Kurniadi alias Bhimma curiga rekrutmen PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) dari jalur honorer K2 merupakan jebakan.
Bhimma mengatakan, pemerintah seolah-olah memberikan solusi tapi sebenarnya menjebak honorer K2. Honorer K2 digiring menjadi PPPK sehingga melupakan perjuangan untuk diangkat menjadi PNS.
"Ini harus diwaspadai. Jangan sampai seluruh honorer K2 karena waswas tidak terakomodir menjadi ASN PNS akhirnya ramai-ramai melamar ASN PPPK. Istilahnya daripada dua-duanya enggak dapat ambil saja yang sudah di depan mata," tuturnya kepada JPNN.com.
Bhimma mengimbau seluruh honorer K2 tetap fokus pada perjuangan menjadi PNS.
Hal sama diungkapkan Atep Lesmana, koordinator AK2I Jawa Tengah. Dia khawatir banyak honorer K2 yang tidak komitmen lagi dengan perjuangan karena setuju dan ikut mendaftar PPPK.
"Yang galau honorer K2 di atas 50 tahun. Mereka khawatir pensiun jadi honorer, makanya karena dibilang terakhir 2024, semua rame-rame pengin daftar PPPK," ucapnya.
Atep meminta seluruh honorer K2 mencermati kebijakan pemerintah. Gembar-gembor tidak akan ada lagi honorer K2, dinilai Atep hanya untuk mengelabui mereka, yakni agar segera mendaftar PPPK.
Atep mengatakan, selama honorer K2 kompak menolak, pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa.
Sumber: Jpnn.com
Editor: Edwir
Atlet difabel asal Rokan Hulu, Niken, sukses meraih empat medali di ASEAN Para Games 2025…
Pemkab Inhu lakukan tes urine terhadap 29 anggota Satpol PP sebagai langkah deteksi dini narkoba…
Enam pelaku pencurian dengan kekerasan di Jalan Lingkar Pasirpengaraian ditangkap polisi. Aksi mereka sempat meresahkan…
Oknum anggota DPRD Pelalawan jalani pemeriksaan usai ditetapkan tersangka kasus dugaan penggunaan ijazah milik orang…
Dua warga Alam Panjang, Kampar, diamankan usai kepergok mencuri 54 tandan sawit. Pelaku diserahkan warga…
DPUPR Meranti menyusun prioritas peningkatan dan rekonstruksi jalan 2026 pascapergeseran anggaran, sejumlah ruas terpaksa ditunda.