Categories: Pekanbaru

Walhi Riau Gelar Diskusi Melawan Asap

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Menghentikan masyarakat yang sudah berkecimpung dan menjadikan hutan sebagai mata pencaharian, seperti melakukan pembalakan tidak serta merta dilakulan secara langsung. Hal yang harus dilakukan bagi pejuang lingkungan adalah dengan memutus mata rantai tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh penyair dan sastrawan Riau dari Komunitas Seni Rumah Sunting Kunni Masrohanti dalam agenda diskusi bersama Walhi di Sekretariat Walhi, Jalan Belimbing, yang membahas tema lingkungan Melawan Asap.

Kunni menuturkan, salah satu hal yang bisa dilakukan oleh seniman-seniman dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan adalah dengan menggunakan seni. “Kami melahirkan dalam bentuk pertunjukan panggung. Dari satupanggung ke panggung lain, mengajak orang banyak bersama-bersama mencintai konservasi dan menjaga lingkungan,” kata Kunni kemarin.

Kunni bercerita, ia juga mengenalkan pentingnya menjaga lingkungan kepada anak-anak di daerah konservasi melalui jalan puisi, mulai dari mengenalkan apa itu puisi hingga membacakan puisi di sebuah pertunjukan kecil di desa, sampai menerbitkan buku yang ditulis anak-anak tersebut.

“Kami ajarkan belajar menulis puisi yang bercerita tentang lingkungan hijau, sampai bisa lalu menjadi buku. Tidak hanya puisi dan buku puisi, tapi juga mengusungkan berbagai persoalan lingkungan melalui tari dan teater. Dalam rangka merayakan hari puisi Indonesia di Riau tahun ini, kami juga mengundang seluruh penyair Indonesia dan Asean untuk menulis puisi tentang alam dengan judul Membaca Asap. Saya sering bilang, ini jalanku, pasti kalian punya jalan yang lebih jitu untuk lingkungan dan bumi sebagai rumah kita ini,” ujar Kunni lagi.

Diskusi lingkungan itu selain menghadirkan Kunni sebagai seniman dan dan sastrawan di Riau, juga menghadirkan narasumber lain. Di antaranya Deputi Walhi Riau Fandi Rahman dan beberapa yang lain. Berbagai kegiatan baik dikusi maupun upaya seni konservasi, diharapkan secara tak langsung dapat memutus mata rantai pengrusakan lingkungan dari generasi sebelumnya kepada generasi sesudahnya. Hal-hal kecil seperti menulis puisi lingkungan diharapkan membuat anak-anak dan generasi tidak meneruskan pembalakan seperti yang dilakukan orang tuanya atau melakukan pengrusakan lingkungan.

Diskusi berjalan santai dan semarak terlebih diwarnai dengan pembacaan puisi oleh Kunni yang juga Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI) ini. Banyak peserta yang bertanya. Mereka berasal dari berbagai komunitas, antara lain Laskar Penggiat Ekowisata Riau (LPE), Komunoitas Penggiat Konservasi (KPK), Komunitas Seni Rumah Sunting, penggiat budaya, berbagai Mapala di Riau, jurnalis dan banyak lainnya. (*2)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Modus Masukkan Kerja, Pria di Mandau Tipu Korban Hingga Jutaan Rupiah

Warga Duri tertipu Rp7 juta dengan modus janji kerja. Pelaku berhasil ditangkap polisi setelah korban…

5 jam ago

AFF U-17 2026, Kurniawan Tanamkan Mental Juara ke Garuda Muda

Pelatih Timnas U-17 Kurniawan targetkan juara AFF 2026. Tekankan mental juara sebagai persiapan menuju Piala…

5 jam ago

45 Ribu Hektare Mangrove Hilang, Pesisir Inhil Kian Rentan

Mangrove di Inhil menyusut drastis, picu abrasi dan banjir. Warga mulai menanam kembali demi menyelamatkan…

5 jam ago

Wako Tinjau Kebakaran Rumah di Senapelan, Pastikan Bantuan untuk Korban

Wako Pekanbaru tinjau lokasi kebakaran di Senapelan dan pastikan bantuan untuk korban. Satu rumah hangus,…

5 jam ago

Sampah Semrawut, Kuansing Gagal Raih Adipura 2025

Kuansing gagal meraih Adipura 2025 akibat masalah sampah. Kondisi kebersihan Telukkuantan dinilai belum memenuhi standar…

5 jam ago

Ruang Panel Fakultas Saintek UIN Suska Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Kebakaran terjadi di ruang panel Fakultas Saintek UIN Suska Pekanbaru. Diduga akibat korsleting listrik saat…

5 jam ago