Categories: Pekanbaru

Tiga Regu Pemantau Api Disiapkan

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Setelah ditetapkan status siaga karhulta oleh Gubernur Riau H Syamsuar MSi beberapa waktu lalu, Badan Penanggulagan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru telah mempersiapkan tiga regu pemantau api di Kota Bertuah, Ahad (16/2).

Menurut Kepala BPBD Kota Pekanbaru Zarman, keberadaan tim regu pemantau api tersebut guna meminimalisir terjadinya kebarakan hutan dan lahan kosong milik warga Kota Pekanbaru. Apalagi, saat ini Kota Bertuah sudah masuk dalam musim kemarau dimana, titik api bisa jauh lebih besar penyebarananya karena kuatnya daya dorong angin.

"Ketiga tim itu adalah tim regu tanggap, tim regu tangguh dan tim regu tangkas. Di mana masing-masing regu terdiri dari 16 anggota yang akan stand by 24 jam di posko dan juga berpatroli ke sejumlah lahan areal yang rawan karhutla," ucapnya.

Apalagi selama 2019 lalu. BPBD Kota Pekanbaru telah mencatat dari 218 titik api di 12 kecamatan di Kota Pekanbaru terdapat kurang lebih sebanyak 279 hektare lahan terbakar. Dibandingkan 2018 yang hanya berkisar 35,8 hektare lahan yang terbakar dari 57 titik api.

"Kami mempersiapkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Dengan armada dan personel yang kami miliki serta selalu berkoordinasi dengan instansi terkait. Kami mohon doa dari masyarakat agar kami semua bisa menanggulangi dan mencegah bencana karhutla tahun 2020 ini. Ya Mungkin tidak bisa nol persen, tapi setidaknya kami bisa mengurangi angka karhutla dari tahun yang lalu," ucapnya.

Selain itu, ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat dan juga pihak kecamatan dan keluarahan yang ada di Pekanbaru untuk tidak membakar sampah ataupun membuka lahan dengan cara dibakar.

Namun, sebaiknya melakukan serangkaian kegiatan yang bermanfaat seperti mengubur daun atau pun rumput liar yang ada dilahan kosong tersebut agar nantinya dapat dijadikan sebagai kompos.

"Kan sebenarnya sudah ada larangannya kalau tidak boleh membakar. Baik itu sampah, rumput atau kayu sekalipun. Karena selain asapnya membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan sekitar. Lahan kita ini adalah lahan gambut yang sudah pasti titik panasnya itu tidak berada di dasar melainkan di bawah tanah dan perlu waktu panjang untuk melakukan pendinginannya," ucapnya.(ayi)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

25 Dapur MBG Dibangun di Daerah 3T Inhu, Sekda Turun Langsung Meninjau

Pemkab Inhu membangun 25 dapur SPPG MBG di daerah 3T tahun 2026. Sekda Inhu meninjau…

2 jam ago

Bupati Kuansing Optimalkan Lahan Bekas Tambang untuk Ketahanan Pangan

Pemkab Kuansing berkomitmen mengubah bekas lahan tambang menjadi pertanian produktif demi mendukung IP 200 dan…

2 jam ago

Bupati Siak Teken Komitmen Manajemen Talenta ASN Bersama BKN

Pemkab Siak menandatangani komitmen manajemen talenta ASN bersama BKN untuk memperkuat sistem merit dan menempatkan…

4 jam ago

Tumpukan Limbah Kayu Ancam Sungai Bukit Batu Bengkalis

Tumpukan limbah kayu mencemari Sungai Bukit Batu Bengkalis. Warga khawatir dampak lingkungan dan mendorong penyelesaian…

4 jam ago

UMK Meranti 2026 Belum Berjalan Optimal, Pemkab Meranti Siapkan Aturan Khusus

Penerapan UMK 2026 di Meranti dinilai belum optimal. Pemkab pun menyiapkan Perbup sebagai aturan teknis…

4 jam ago

PSMTI Riau Matangkan Persiapan Musprov V, Pemilihan Ketua Jadi Agenda Utama

PSMTI Riau akan menggelar Musprov V akhir pekan ini di Pekanbaru untuk memilih ketua definitif…

4 jam ago