Categories: Pekanbaru

Kasus Stunting di Pekanbaru Alami Penurunan

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sebanyak 318 anak usia di bawah lima tahun atau balita di Kota Pekanbaru masih mengalami stunting. Namun, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru angka stunting di Kota Pekanbaru mengalami penurunan yang signifikan dari tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dr Zaini Rizaldy Saragi, Rabu (15/12), saat ini angka stunting di Kota Pekanbaru turun drastis, di mana hanya ada 318 anak yang mengalami stunting dibandingkan tahun lalu yang mencapai 869 balita. "Tahun 2021, 318 balita stunting atau 7,9 persen dari total balita yang ada. Tahun 2020, 869 balita," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Disdalduk KB Kota Pekanbaru, Muhammad Amin menuturkan, stunting merupakan  masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Di mana dalam mencegah peningkatan stunting di Kota Pekanbaru, pihaknya telah membentuk satuan tugas atau Satgas Peduli Stunting yang digerakkan oleh remaja.

Saat ini sudah terbentuk sebanyak 12 Satgas stunting di 12 Kampung Keluarga Berkualitas (KB) yang tersebar di 12 kecamatan. Terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Satgas Stunting guna menangani permasalahan tersebut, di antaranya memberikan pembinaan terhadap calon pengantin dan menyampaikan pesan kepada ibu hamil agar menjaga asupan gizi selama kehamilan. "Ibu hamil itu sangat perlu diberikan edukasi, karena mereka harus mengetahui risiko stunting yang dapat mengancam perkembangan tubuh anak dan pentingnya memberikan nutrisi selama masa kandungan," kata Amin.

Lanjutnya, setelah ibu hamil bersangkutan melahirkan, satgas stunting akan memberikan pendampingan hingga anak/bayi berusia dua tahun ke bawah atau Baduta. Jadi, sejak 0 tahun, itu sudah menjadi perhatian.

"Untuk itu, satgas stunting ini harus memiliki data tentang berapa ibu hamil, yang baru melahirkan, karena itu akan menjadi tolok ukur dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan," kata Amin.

Tak hanya itu saja, Disdalduk KB Kota Pekanbaru saat ini juga tengah menjalankan program Dapur Sehat Atasi Stunting atau Dashat untuk percepatan penurunan kasus stunting. Dalam program ini setiap bulannya tim Dashat akan menjemput bantuan yang diberikan oleh masyarakat untuk disalurkan kepada warga yang masuk dalam kategori stunting.

"Kami bersyukur kepedulian masyarakat Kota Pekanbaru sangat tinggi untuk membantu pencegahan dan penurunkan risiko anak terkena stunting akibat gizi yang buruk dengan selalu rutin memberikan bantuan melalui tim Dashat yang saat ini sudah terbentuk," tuturnya.(ayi)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Kapolda Riau Tinjau TKP Gajah Sumatera Dibunuh, Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah

Kapolda Riau meninjau TKP dugaan pembunuhan gajah sumatera di Pelalawan dan memastikan penyelidikan dilakukan serius…

16 jam ago

Tradisi Mandi Balimau 2026, Muara Lembu Disiapkan Jadi Lokasi Utama

Pemkab Kuansing merencanakan tradisi mandi balimau jelang Ramadan dipusatkan di Kelurahan Muara Lembu, namun masih…

16 jam ago

Meriah! Festival Perang Air Selatpanjang Digelar 17–22 Februari, Resmi Masuk KEN 2026

Festival Perang Air Meranti kembali digelar 17–22 Februari 2026. Tradisi budaya ini resmi masuk Karisma…

2 hari ago

Pria 46 Tahun di Inhu Diamankan Polisi, Diduga Cabuli Anak Tiri yang Masih Balita

Polisi Inhu mengamankan pria 46 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak tiri berusia…

2 hari ago

Pustu Tak Layak, Warga Desa Patah Parang Terpaksa Melahirkan di Kantor Desa

Bangunan Pustu rusak parah membuat warga Desa Patah Parang terpaksa melahirkan di kantor desa. Perbaikan…

2 hari ago

Daftar Produk dan Harga ASICS Sonicblast di Blibli

Daftar Produk dan Harga ASICS Sonicblast di Blibli

3 hari ago