Categories: Pekanbaru

Kemenkes Gelar Bimtek Akreditasi di Klinik Pratama Aisyiyah

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengadakan bimbingan teknik (bimtek) pelaksanaan mutu dan akreditasi klinik,  bekerja sama dengan BPJS. Acara tersebut juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Riau, lalu diserahkan ke Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru untuk memfasilitasi.

Acara pembukaan di Dinas Provinsi Riau pada, Kamis (5/12). Kemudian acara bimtek di Klinik Pratama Aisyiyah dengan mendatangkan 10 klinik yang ada di Pekanbaru dan 40 klinik lainnya dari seluruh kabupaten dan kota di Riau.

Pemateri dari Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (puskesmas, klinik dan praktik) dr Fredy Ied Fitriadi, DNA dihadiri Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Klinik Pratama Aisyiyah Woro Surti Andayani MKes, Pimpinan Klinik Pratama Aisyiyah dr Marlina, Penanggung jawab Klinik Pratama Aisyiyah/Ketua Asosiasi Klinik dr H Nuzelly Husnedi, MARS serta peserta bimtek dari 12 kabupaten dan kota di Riau.

Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas, klinik dan praktik) dr Fredy Ied Fitriadi mengatakan, setelah program akreditasi puskesmas berjalan pada 2016 bahkan sudah da yang reakridasi ulang, kini giliran klinik yang harus diakreditasi khususnya ynag bekerja sama dengan BPJS. Selanjutnya, ke klinik yang tidak bekerja sama dengan BPJS.

"Program ini sebenarnya sudah ada sejak 2017 dan berakhir pada 2021. Namun ada perpanjangan sampai 2023. Berdasarkan permenkes, surveyor di Indonesia masih terbatas sebanyak 400-an," ucapnya.

Katanya, akreditasi itu untuk memaksa pegawai bekerja sesuai dengan prosedur, supaya memiliki standar yang sama di Indonesia. Setelah akreditasi, hasilnya pun terdapat perbaikan seperti dari sisi pelayanan.

Selanjutnya Penanggung Jawab Klinik Aisyiyah/Ketua Asosiasi Klinik dr H Nuzelly Husnedi, MARS menjelaskan, Klinik Aisyiyah sangat komit tentang akreditasi karena berhadapan dengan mutu DNA pasien. "Maka, dengan adanya sosialisasi kami sudah mempersiapkannya dan menyediakan diri untuk memfasilitasi belajar bimtek bersama-sama supaya dapat jadi contoh bagi klinik yang lain," jelasnya.

Hal itu pun dipertegas oleh Pimpinan Klinik Aisyiyah dr Marlina. Menurutnya, tentunya adanya bimtek disambut hangat sebab menjadi lebih tahu tentang kupasan materi. “Jadi kalau terakreditasi itu sudah mempunyai standar yang sama dan sudah diakui, tidak beda-beda. Ibaratnya seperti helm ada yang standar SNI dan yang belum,” paparnya.

Harapannya, dapat target nilai yang tertinggi yaitu paripurna. Persiapan bisa lebih dari tiga bulan, katanya, karena banyaknya poin. Namun demikian harus tetap semangat dalam mencapai akreditasi.

Klinik Aisyiyah yang sudah berdiri lebih dari 30 tahun kata dr Marlina itu buka selama 24 jam, melayani pasien umum dan pribadi, BPJS dan Inhealt. Terdapat dokter umum dan dokter gigi, persalinan, KB dan imunisasi, farmasi, IGD dan UGD serta lainnya. Terdapat 25 tenaga kerja di antaranya enam dokter umum, satu dokter gigi,  bidan empat, perawat empat, farmasi tiga, apoteker satu, selebihnya pendaftaran dan admin.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Klinik Aisyiyah Woro Surti Andayani MKes menambahkan, Klinik Aisyiyah yang punya pimpinan daerah Aisyiyah Kota Pekanbaru. "Akreditasi ini memang perlu supaya kita menjadi pekerja sesuai dengan SOP," ujarnya.(*3/c)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Ketua DPRD Kuansing Diperiksa KPK Selama 12 Jam, Kuasa Hukum Beberkan Materi Pemeriksaan

Ketua DPRD Kuansing Juprizal diperiksa KPK selama 12 jam terkait pelepasan kawasan hutan. Kuasa hukum…

1 hari ago

Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Uraikan Dugaan Aliran Uang Rp2,4 Miliar

Jaksa KPK menuntut Abdul Wahid 8 tahun 6 bulan penjara dan mengungkap lima dasar tuntutan…

1 hari ago

Bupati Meranti Ingatkan Pilkades 2026 Jangan Sampai Picu Perpecahan

Bupati Kepulauan Meranti mengajak masyarakat menjaga persatuan saat Pilkades 2026 dan menyiapkan hadiah umrah bagi…

1 hari ago

Nelayan Korban Serangan Buaya di Rokan Hilir Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Nelayan korban serangan buaya di Sungai Rokan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif. Korban…

1 hari ago

Tiga PKS di Rohul Masih Beli TBS Sawit di Bawah Harga Provinsi, Petani Diminta Lebih Selektif

Tiga PKS di Rohul masih membeli TBS sawit Rp2.850 per kg atau di bawah harga…

2 hari ago

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai, Pembayaran ke Malaysia Kini Bisa Pakai QRIS

Pelabuhan Penumpang Dumai resmi menjadi Kawasan Non Tunai. Pembayaran gate pass hingga tiket ferry internasional…

2 hari ago