Kepala Galeri Hang Nadim (GHN), Furqon LW (paling kiri) foto bersama Koordinator Widyaswara Disdikprov Riau M Yuzar MPd (dua kiri) foto bersama dengan para perupa yang karyanya dipamerkan dalam pameran “Alih Generasi” di Anjungan Kampar, Kawasan Bandar Serai, Pekanbaru, yang dibuka pada Ahad (15/6/2025) lalu. Evan Gunanzar/Riau Pos
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Galeri Hang Nadim (GHN) kembali menghadirkan pameran seni rupa yang tak hanya menyuguhkan karya-karya visual, tetapi juga menyatukan lintas generasi dalam satu ruang imajinasi. Bertajuk “Alih Imajinasi”, pameran ini menyuguhkan 40 karya dari seniman beragam usia—mulai dari profesional hingga siswa sekolah dasar—yang menggambarkan pergeseran cara berimajinasi seiring perkembangan zaman.
Dibuka sejak 15 Juni 2025 lalu, pameran ini menjadi ruang inklusif bagi pelajar, mahasiswa, hingga seniman umum dan profesional. Semua diberi kesempatan mengekspresikan pandangan mereka terhadap realitas zaman, baik secara reflektif maupun eksperimental.
Koordinator Widyaswara Disdik Riau, M Yuzar MPd, yang membuka pameran, menyampaikan apresiasi atas konsistensi GHN dalam memajukan seni rupa. Ia menyambut baik keterlibatan siswa dalam pameran kali ini, karena menurutnya, ini bisa menjadi bagian dari pembelajaran luar kelas yang mampu memicu kreativitas anak-anak.
“Ini bukan hanya soal memajang karya, tapi juga membuka ruang bagi siswa untuk menuangkan ide dan merasakan langsung dunia seni,” kata Yuzar.
Ketua GHN Furqon LW menjelaskan bahwa tema “Alih Imajinasi” ingin mengajak masyarakat meninjau kembali cara kita berimajinasi dari waktu ke waktu. Dulu, lukisan anak-anak identik dengan dua gunung, matahari di tengah, dan sawah. Kini, hal itu nyaris tak ditemui. Sebaliknya, anak-anak menggambar karakter anime, robot, hingga kota futuristik.
Furqon juga menyinggung tantangan yang dihadapi dunia seni saat ini. Kebijakan efisiensi anggaran dan kondisi ekonomi yang belum stabil berpengaruh langsung terhadap akses masyarakat terhadap karya seni. Namun, GHN tetap berkomitmen menghadirkan pameran sebagai bentuk tanggung jawab budaya dan ruang apresiasi seni.
Kurator pameran, Cak Winda, menjelaskan bahwa imajinasi bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus berubah mengikuti arus zaman. Jika dulu sumber inspirasi bersifat lokal dan sederhana, kini anak-anak lebih terhubung dengan dunia digital. Ia menekankan bahwa perubahan ini layak dibaca ulang—bukan sekadar nostalgia, tapi sebagai refleksi arah budaya visual kita.
Menurutnya, karya seni dari generasi muda tak kalah menarik dibanding seniman profesional. Namun seniman senior umumnya memiliki kedalaman gagasan dan kepekaan terhadap fenomena sosial yang menjadikan karya mereka kaya makna.
“Pameran ini mencoba mempertemukan itu semua dalam satu ruang,” ujarnya.
Sebanyak 40 karya ditampilkan dalam pameran ini. Peserta berasal dari berbagai kalangan dan daerah. Dari Pekanbaru, tampil nama-nama seperti Dewi Purwanti, Alza Adrizon, Parlindungan R, dan lainnya. Dari luar Riau hadir seniman dari Yogyakarta, Sumbar, Jatim, hingga Banten dan Sumsel.
Kalangan mahasiswa juga berkontribusi besar, termasuk dari ISI Padangpanjang, Universitas Riau, Unilak, UIR, dan Telkom University Bandung. Dari kalangan siswa SMA, ada peserta dari SMAN 4, SMA Santa Maria, dan SMA Darma Yudha Pekanbaru. Peserta termuda datang dari SD Muhammadiyah 6 Palembang.
Ada pula karya kolektif dan peserta dari komunitas khusus seperti Artrungu dan siswa homeschooling.
Furqon dan Cak Winda berharap, pameran ini menjadi ruang terbuka bagi semua generasi untuk terus berkarya, berekspresi, dan terhubung secara kreatif.
“GHN akan terus menjadi rumah bagi mereka yang ingin tumbuh dan belajar lewat seni,” tutup Furqon.***
Padati Bike Community Pariaman mengirim tiga goweser untuk ikut Riau Pos Fun Bike 2026, mendukung…
Aksi penjambretan di Bukit Raya berujung maut. Korban tewas saat mempertahankan tas, dua pelaku diamankan…
Kennedy dan Melissa resmi dinobatkan sebagai Koko Cici Riau 2026 dalam grand final di Mal…
Roadshow Kopi Good Day Goes to School kembali digelar di SMAN 6 Pekanbaru dan disambut…
Museum Sang Nila Utama Pekanbaru resmi ditetapkan sebagai museum Tipe B oleh Kementerian Kebudayaan RI…
BPBD Siak, polisi, dan BBKSDA memastikan video dugaan serangan harimau di Kandis adalah hoaks dan…