Categories: Ekonomi Bisnis

Minyak Goreng Jadi Penyumbang Inflasi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Setelah aturan harga eceran tertinggi (HET) dicabut, harga minyak goreng kemasan kembali naik, karena diserahkan pada mekanisme pasar. Naiknya harga minyak goreng ini diperkirakan akan menjadi penyumbang inflasi di bulan April.

Pada bulan Maret, Riau mengalami inflasi 0,90 persen (mtm) atau 3,22 persen (yoy). Tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi minyak goreng, telepon seluler, beras, cabai rawit, dan tarif angkutan udara. Deflasi minyak goreng sebagai dampak pemberlakuan HET minyak goreng sesuai Permendag 6/2022 yang berlaku hingga pertengahan Maret lalu, hingga menyebabkan rata-rata harga pada bulan Maret lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Riau Muhamad Nur mengatakan, melihat perkembangan harga terkini, minyak goreng diperkirakan berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada bulan selanjutnya, sebagai dampak perbedaan harga HET dan nilai ekonomisnya.

Ia mengungkapkan, dalam rangka pemantauan stabilisasi harga dan ketersediaan bapokting di masyarakat menjelang Idulfitri, Disperindagkop dan UKM Provinsi Riau bersama BI dan stakeholder TPID lainnya telah melakukan kunjungan ke pasar dan gudang distributor, serta rapat koordinasi selama bulan Maret 2022. "Menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri, TPID Riau akan kembali melaksanakan High Level Meeting (HLM), serta terus melakukan monitoring ketersediaan dan stabilisasi harga bapokting," ujarnya, Selasa (5/4).

Hal ini untuk memastikan keperluan masyarakat selama bulan Ramadan dapat terpenuhi, serta risiko defisit pasokan komoditas utama dapat segera ditindaklanjuti.  "Secara umum, realisasi inflasi Riau pada Maret 2022 masih berada dalam level terkendali dan on-track dengan target inflasi 2022 secara keseluruhan," ujarnya.

Ia menambahkan, terjaganya inflasi menunjukkan pemulihan ekonomi Riau terus berlangsung dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Untuk itu, TPID Provinsi Riau perlu mewaspadai sejumlah risiko yang berpotensi menimbulkan gejolak harga. Risiko itu di antaranya gangguan pasokan komoditas pangan karena tingginya ketergantungan Riau terhadap daerah lain.(esi)

Laporan MUJAWAROH ANNAFI, Pekanbaru

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Ketua DPRD Kuansing Diperiksa KPK Selama 12 Jam, Kuasa Hukum Beberkan Materi Pemeriksaan

Ketua DPRD Kuansing Juprizal diperiksa KPK selama 12 jam terkait pelepasan kawasan hutan. Kuasa hukum…

1 hari ago

Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Uraikan Dugaan Aliran Uang Rp2,4 Miliar

Jaksa KPK menuntut Abdul Wahid 8 tahun 6 bulan penjara dan mengungkap lima dasar tuntutan…

1 hari ago

Bupati Meranti Ingatkan Pilkades 2026 Jangan Sampai Picu Perpecahan

Bupati Kepulauan Meranti mengajak masyarakat menjaga persatuan saat Pilkades 2026 dan menyiapkan hadiah umrah bagi…

1 hari ago

Nelayan Korban Serangan Buaya di Rokan Hilir Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Nelayan korban serangan buaya di Sungai Rokan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif. Korban…

1 hari ago

Tiga PKS di Rohul Masih Beli TBS Sawit di Bawah Harga Provinsi, Petani Diminta Lebih Selektif

Tiga PKS di Rohul masih membeli TBS sawit Rp2.850 per kg atau di bawah harga…

2 hari ago

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai, Pembayaran ke Malaysia Kini Bisa Pakai QRIS

Pelabuhan Penumpang Dumai resmi menjadi Kawasan Non Tunai. Pembayaran gate pass hingga tiket ferry internasional…

2 hari ago