Categories: Ekonomi Bisnis

Pengamat: Orang Kaya Tak Mungkin Migrasi ke Oktan Rendah

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel tentunya sangat memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Semakin tinggi kenaikan harga minyak, beban APBN makin berat.

Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai bahwa pemerintah perlu terus memantau pergerakan harga minyak dunia. Sejauh ini, dia melihat pemerintah berada di jalur yang tepat, salah satunya terlihat dari intervensi terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi.

"Minimal mengurangi beban APBN, kalau tidak dinaikkan kan nomboknya itu cukup banyak untuk dana kompensasi. Setidaknya bisa sedikit mengurangi beban secara bertahap, sambil melihat perkembangannya," ungkapnya kepada JawaPos.com, Jumat (4/3).

Apalagi, saat ini terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina, tentu ini menambah ketidakpastian harga minyak dunia. Bahkan, dikhawatirkan bisa menembus angka 200 dolar AS per barel jika perang terus belanjut.

"Sulit memprediksi itu (naik 200 dolar AS), tapi itu saya kira tergantung dengan eskalasi perang. Tapi, kan NATO sudah menempatkan peralatan perang di sekitar Rusia. Kalau Rusia marah, itu bisa jadi perang meluas, harga minyak bisa 200 dolar AS," tambahnya.

"Indonesia tidak bisa mencegah terjadinya perang tadi. Ini adalah variabel yang tidak bisa terkontrol, tapi berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Makanya, perlu monitor dan tepat dalam mengambil keputusan," sambung Fahmy.

Oleh karena itu, langkah Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi dinilainya sudah bagus. Apabila tidak ada kenaikan harga BBM di dalam negeri, hal ini akan memperparah daya beli masyarakat karena akan ada inflasi besar.

"Itu saya kira tepat, karena proporsi hanya 5 persen dan pengguna Pertamax ke atas itu orang kaya yang menggunakan mobil-mobil bagus. Sehingga kalau itu naik, tidak mungkin dia pindah ke Pertamax atau Pertalite, karena mobil bagus itu tentu memakai bensin (oktan) yang lebih baik," tutupnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Tiga Bulan Belajar di Dunia Media, Mahasiswa Unri Rampungkan Program Magang Berdampak di Riau Pos

Mahasiswa Unri sukses menyelesaikan program Magang Berdampak selama tiga bulan di Riau Pos dengan bekal…

16 jam ago

Tangis dan Bangga Warnai Pelepasan 250 Siswa SMPN 25 Pekanbaru

Pelepasan 250 pelajar kelas IX SMPN 25 Pekanbaru berlangsung khidmat, meriah, dan penuh suasana haru.

16 jam ago

Sewa Lima Hari, Mobil Malah Digelapkan, Pasutri Berakhir Ditangkap

Pasutri di Tapung ditangkap polisi setelah diduga menggelapkan mobil rental yang tak dikembalikan kepada pemiliknya.

16 jam ago

Pantai Solop Diawasi Ketat Saat Iduladha, Maksiat dan Narkoba Jadi Perhatian

Pengawasan di Pantai Solop diperketat selama libur Iduladha untuk mencegah maksiat, miras, narkoba dan perilaku…

17 jam ago

Korupsi Bibit Kopi Liberika di Meranti, Kerugian Negara Rp663 Juta Berhasil Dipulihkan

Kejari Kepulauan Meranti berhasil memulihkan kerugian negara Rp663 juta dari kasus korupsi pengadaan bibit kopi…

17 jam ago

Kursi Kadis PUPR Riau Berganti, SF Hariyanto Tunjuk Zulfahmi Jadi Plt

SF Hariyanto menunjuk Zulfahmi sebagai Plt Kadis PUPR-PKPP Riau untuk penyegaran dan percepatan pembangunan infrastruktur.

17 jam ago