Categories: Kepulauan Meranti

Kasus DBD, Balita Dua Tahun Meninggal Dunia

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang balita perempuan berusia dua tahun, Syafa Aghnia, meninggal dunia akibat Dengue Shock Syndrome (DSS) di RSUD Kepulauan Meranti, Ahad (12/10) pagi.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Nyamuk Aedes aegypti kini semakin aktif menyebar di berbagai wilayah Meranti.

Menurut data Dinas Kesehatan (Diskes) Kepulauan Meranti, sejak Januari 2025 tercatat 301 kasus DBD dan Demam Dengue (DD), terdiri dari 144 kasus DBD dan 157 kasus DD. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun 2024 yang hanya 35 kasus.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Ade Suhartian, membenarkan adanya peningkatan kasus signifikan tersebut. “Benar, sudah ada dua korban meninggal dunia akibat DBD tahun ini. Salah satunya anak berusia dua tahun dari Desa Banglas,” ujarnya, Selasa (14/10).

Dari hasil pemeriksaan medis, Syafa mulai demam pada 7 Oktober disertai bintik merah dan batuk berdahak. Kondisinya sempat membaik, namun kembali menurun pada Sabtu (11/10). Ia dibawa ke RSUD Meranti dalam kondisi kritis dengan trombosit 45.000 dan hasil uji dengue positif. Setelah mengalami kejang dan muntah darah, nyawanya tak tertolong meski sempat dirawat intensif.

“Pasien datang sudah dalam kondisi shock septic akibat Dengue Shock Syndrome,” terang Ade.
Diskes Meranti juga mencatat empat anak lainnya masih dirawat karena DBD dan DD di beberapa desa seperti Lemang dan Banglas.

Peningkatan kasus hingga empat kali lipat ini menunjukkan penyebaran DBD masih aktif di tengah lemahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa desa belum rutin melakukan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk sejak awal musim hujan.

“Kami sudah minta puskesmas meningkatkan pemantauan jentik dan fogging fokus. Tapi masyarakat juga harus aktif menjaga lingkungan, jangan menunggu ada korban,” tegas Ade.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Meranti Darsini menilai daerahnya kini di ambang Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. “Dua anak meninggal dalam sepuluh bulan adalah tanda bahaya. Pemerintah harus segera tetapkan status siaga DBD dan lakukan fogging serentak,” ujarnya.(wir)

Redaksi

Recent Posts

Peringati Waisak, PSMTI Riau Kumpulkan Ratusan Kantong Darah untuk PMI

PSMTI Riau bersama PMI Pekanbaru menggelar donor darah dalam rangka Waisak 2570 BE. Ratusan peserta…

3 jam ago

Kloter Pertama Haji Riau Berangkat dari Jeddah 4 Juni, Jemaah Diminta Patuhi Aturan

Jemaah haji Riau mulai dipulangkan dari Jeddah pada 4 Juni. Kemenhaj mengingatkan larangan membawa air…

3 jam ago

Belasan Gajah Liar Masuk Kebun Warga di Rumbai, Tim Gabungan Bergerak Tengah Malam

Sekitar 12 gajah liar masuk ke perkebunan warga di Muara Fajar, Rumbai. Tim gabungan berhasil…

3 jam ago

Program CKG Belum Diminati, Baru Setengah Juta Warga Riau Periksa Kesehatan Gratis

Program Cek Kesehatan Gratis di Riau masih minim peminat. Hingga akhir Mei 2026, baru 8,54…

6 jam ago

Awas! Buaya “Beni” Kembali Muncul di Arena Pacu Jalur Tepian Lubuak Sobae Baserah

Kemunculan buaya "Beni" di arena Pacu Jalur Tepian Lubuak Sobae Baserah membuat warga diminta waspada…

6 jam ago

Rumah Bulat dan Dua Kontrakan di Marpoyan Damai Ludes Terbakar, Motor Ikut Hangus

Kebakaran di Marpoyan Damai Pekanbaru menghanguskan rumah bulat, dua kontrakan, dan sepeda motor. Delapan unit…

1 hari ago