Categories: Kampar

Waduk Surut Ekstrem, Kampung yang Hilang di PLTA Koto Panjang Muncul Lagi

KAMPAR (RIAUPOS.CO)Fenomena surut ekstrem yang melanda Waduk PLTA Koto Panjang tahun ini tidak sekadar soal cuaca atau teknis pembangkit listrik. Surutnya permukaan air hingga titik terendah justru mengungkap kembali jejak tujuh desa yang puluhan tahun lalu tenggelam demi pembangunan energi.

Dari dasar waduk yang kini mengering, tampak fondasi rumah, puing masjid, hingga sisa makam lama. Desa Tanjung Alai menjadi jejak yang paling jelas terlihat, seolah menghadirkan kembali suasana masa lalu yang lama hilang.

“Yang terlihat itu bekas rumah warga, fondasi masjid, bahkan kuburan yang dulu sudah dipindahkan. Sekarang muncul lagi,” ujar Julian, warga sekitar, Selasa (11/11).

Julian menyebut, dari tujuh desa yang ditenggelamkan—termasuk Pulau Gadang, Batu Bersurat, Kota Tuo, Pongkai, dan Muara Takus—jejak Desa Tanjung Alai tampak paling utuh. “Tiang-tiang rumah panggung masih kelihatan, terutama yang dari semen atau batu. Puingnya masih kuat,” tambahnya.

Di antara lumpur yang mengering, batang kayu besar dan pohon mati terlihat berdiri kaku. Ogi, warga lainnya, juga mengakui banyaknya tapak rumah yang tersisa. “Dulu fondasi dibangun tradisional seperti rumah lontiok. Bahan lain sudah rapuh, tapi batu-batunya masih kuat,” katanya.

Wilayah yang kini tampak berada di sekitar Desa Tanjung Alai dan dekat Batu Bersurat serta Lubuk Ogung. Warga mengingat kembali masa ketika sebagian besar penduduk Batu Bersurat harus direlokasi saat pembangunan waduk dimulai.

Kali ini, surutnya air disebut paling parah dan berlangsung lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya, sisa bangunan terlihat jauh lebih jelas dan dalam waktu lebih panjang.

Fenomena ini menarik perhatian warga yang datang untuk melihat langsung kampung lama yang muncul kembali. Bahkan, wisata dadakan mulai tumbuh. Dari Dermaga Gulamo, warga menyediakan perahu kecil bagi pengunjung dengan tarif Rp20.000–Rp30.000 per orang.

“Sekarang ada paket wisata sampan. Banyak yang penasaran,” ujar Julian yang juga mengelola perahu wisata.

Meski belum dipromosikan secara masif, minat warga terus meningkat. Fenomena “kampung timbul” ini menjadi tontonan sekaligus ruang refleksi: tentang sejarah, pengorbanan, dan jejak kehidupan yang harus ditinggalkan demi pembangunan PLTA Koto Panjang.

Di antara fondasi yang retak dan tiang rumah tua yang kembali muncul, tersimpan cerita tentang orang-orang yang pernah hidup di sana—mereka yang meninggalkan tanah kelahirannya demi sebuah proyek besar. Kampung yang sempat hilang itu kini seakan bernapas lagi, mengingatkan bahwa di balik aliran listrik yang kita nikmati hari ini, ada kisah kehilangan dan ketabahan yang tak pernah benar-benar tenggelam.***

Redaksi

Recent Posts

Semarak Ramadan, Pemuda Pangkalan Batang Barat Siapkan Menara Lampu Colok Raksasa

Pemuda Pangkalan Batang Barat Bengkalis menyiapkan menara lampu colok dengan 10 ribu botol untuk memeriahkan…

13 jam ago

Tas Berisi Emas Rp48 Juta Dijambret, Dua Pelaku Diamankan Warga di Pangkalankuras

Dua penjambret tas berisi emas senilai Rp48 juta di Pangkalankuras, Pelalawan ditangkap warga setelah merampas…

13 jam ago

10 Titik Penukaran Sampah Disiapkan di Pekanbaru, Warga Bisa Ubah Sampah Jadi Uang

Pemko Pekanbaru menghadirkan program tukar sampah jadi uang melalui 10 drop point. Warga cukup gunakan…

13 jam ago

Oknum Guru Diduga Lecehkan Siswi SMAN di Pekanbaru, Kasus Dilaporkan ke Polisi

Oknum guru di salah satu SMAN Pekanbaru diduga melakukan pelecehan terhadap siswi saat kegiatan sekolah…

4 hari ago

THR Wajib Dibayar H-7 Lebaran, Disnaker Bengkalis dan Kuansing Buka Posko Pengaduan

Disnaker Bengkalis dan Kuansing menetapkan pembayaran THR pekerja paling lambat H-7 Idulfitri 1447 H dan…

4 hari ago

Bukber Ala Timur Tengah, Whiz Prime Hotel Hadirkan Iftar Sahara Mulai Rp115 Ribu

Whiz Prime Hotel Sudirman Pekanbaru hadirkan program Iftar Sahara dengan menu Timur Tengah dan Nusantara…

4 hari ago