Categories: Indragiri Hilir

Terjebak Perangkap, Monyet Liar yang Diduga Serang 18 Warga Masih Diperiksa

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Monyet liar yang diduga menyerang dan menggigit 18 warga di Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), akhirnya berhasil masuk perangkap, Kamis (6/8). Satwa tersebut ditangkap dalam operasi gabungan di Jalan Tampomas Parit 14 setelah tim melakukan pemantauan dan memasang perangkap di sejumlah titik.

Meski seekor monyet telah diamankan, pemerintah belum memastikan satwa tersebut merupakan hewan yang selama ini menyerang warga. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau masih harus melakukan identifikasi untuk mencocokkan ciri, perilaku, serta kemungkinan keterkaitannya dengan serangkaian serangan yang terjadi hampir dua pekan terakhir.

Penangkapan dilakukan setelah tim gabungan meningkatkan pemantauan di sejumlah lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan monyet. Operasi tersebut melibatkan BBKSDA Riau, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Polres Inhil, TNI, Pemerintah Kecamatan Tembilahan, relawan, serta masyarakat.

Kepala DPKP Inhil Junaidi Ismail mengatakan, perangkap mulai dipasang sekitar pukul 08.00 WIB di Jalan Tampomas Parit 14. Lokasi tersebut dipilih karena sebelumnya beberapa kali dilaporkan menjadi tempat munculnya monyet.

Sekitar pukul 14.20 WIB, seekor monyet akhirnya masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang dengan menggunakan umpan. Tim kemudian mengevakuasi satwa tersebut ke Kantor DPKP untuk penanganan sementara sebelum diperiksa BBKSDA Riau.

“Alhamdulillah, satu ekor monyet berhasil masuk ke dalam perangkap. Namun kami belum dapat memastikan apakah ini monyet yang selama ini meresahkan masyarakat. BBKSDA Riau akan melakukan pengamatan dan identifikasi terlebih dahulu,” ujar Junaidi.

Ia menegaskan, proses identifikasi diperlukan agar pemerintah tidak langsung menyimpulkan bahwa ancaman terhadap warga telah berakhir. Pemeriksaan akan menentukan apakah karakteristik monyet yang tertangkap sesuai dengan satwa yang sebelumnya dilaporkan menyerang masyarakat.

“Kalau hasil identifikasi menunjukkan ciri-cirinya sesuai, tentu ini menjadi perkembangan yang baik. Namun jika tidak, kami bersama BBKSDA akan terus melakukan pemantauan dan langkah-langkah penanganan lainnya,” katanya.

Sebelumnya, kemunculan monyet liar telah membuat warga di sejumlah kawasan Tembilahan Hilir khawatir. Serangan dilaporkan terjadi di Lorong Bintan, Lorong Sepakat Karya, Jalan Malagas, Lorong Sederhana, Lorong Brata, Gang Kubur, Jalan Setia Budi, hingga Jalan Pangeran Hidayat.

Serangan terjadi secara tiba-tiba ketika warga sedang berjalan, berada di depan rumah, maupun menjalankan aktivitas. Sebanyak 18 warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, mengalami luka akibat gigitan dan cakaran. Mereka telah mendapat perawatan medis, termasuk vaksin antirabies sesuai prosedur.

Kondisi tersebut juga sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Sejumlah sekolah di kawasan terdampak bahkan menerapkan pembelajaran daring setelah monyet beberapa kali terlihat di sekitar lingkungan sekolah untuk mengurangi risiko terhadap siswa dan guru.

Camat Tembilahan Ari Syuria mengingatkan warga agar tidak mengejar atau mencoba menangkap monyet liar jika kembali terlihat. Menurutnya, satwa yang merasa terancam dapat bereaksi spontan dan menjadi lebih agresif.

“Kalau melihat monyet liar, jangan dikejar, jangan dipancing, apalagi mencoba menangkapnya sendiri. Segera laporkan ke posko agar petugas bisa segera turun ke lokasi dan melakukan penanganan sesuai prosedur,” tegasnya.

Pemkab Inhil bersama tim gabungan juga telah membuka Posko Penanggulangan Kera Liar sebagai pusat koordinasi penanganan apabila monyet kembali ditemukan.

Sementara itu, drh Yopan Rakhmatullah menyebut perilaku agresif monyet dapat dipengaruhi perubahan habitat, berkurangnya sumber makanan, meningkatnya interaksi dengan manusia, hingga kondisi kesehatan satwa.

“Setiap kasus memiliki penyebab yang berbeda. Karena itu, perlu dilakukan pengamatan terhadap satwa yang tertangkap. Faktor lingkungan, kesehatan, maupun perilaku satwa harus diperiksa sebelum menyimpulkan penyebab agresivitasnya,” jelas Yopan.

Menurutnya, identifikasi BBKSDA bukan hanya untuk memastikan apakah monyet tersebut merupakan pelaku serangan, tetapi juga menjadi dasar menentukan langkah penanganan agar kejadian serupa tidak terulang.

Hingga pemeriksaan selesai, pemerintah belum menyatakan teror monyet di Tembilahan berakhir. Tim gabungan masih melakukan pemantauan, sementara warga diminta tetap waspada dan segera melapor apabila kembali melihat monyet liar di permukiman.(*2)

Redaksi

Recent Posts

Bawa Sabu di Jok Motor, Remaja 15 Tahun Ditangkap Polsek Rupat

Seorang remaja 15 tahun di Rupat, Bengkalis, diamankan polisi usai kedapatan membawa paket sabu 0,38…

4 jam ago

Suara Merdu Hantar Afif Muhammad Thoifur Harumkan Nama Siak di Tingkat Nasional

Siswa kelas VI MI Assidigiyah Siak, Afif Muhammad Thoifur, sukses mengharumkan nama Riau usai meraih…

4 jam ago

Disdikbud Meranti Petakan 208 Kepala Sekolah: 62 Diganti, 13 Diusulkan Definitif

Disdikbud Kepulauan Meranti melakukan penataan jabatan kepala sekolah. Sebanyak 62 posisi bakal diganti, sementara 13…

4 jam ago

Terdampak Kabut Asap, Perayaan Festival Kue Bulan 2026 di Pekanbaru Ditiadakan

Akibat kabut asap dan kualitas udara buruk di Pekanbaru, Panitia Imlek Bersama memutuskan meniadakan perayaan…

5 jam ago

Tekuk Mongolia 3-0, Tim Bulutangkis Putri Indonesia Melaju di Asian Games 2026

Tim bulutangkis putri Indonesia menang telak 3-0 atas Mongolia pada babak 16 besar Asian Games…

10 jam ago

Tabrak Truk Box di KM 25 Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar, Dua Penumpang Minibus Tewas

Kecelakaan maut di Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar KM 25 menewaskan seorang ustaz dan dosen akibat…

15 jam ago