Categories: Riau

22 Tahun Jatuh di Lubang Sama

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Setiap musim kemarau sejak 1997 kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu terjadi di Riau. Karhutla ini telah menyebabkan terjadinya kabut asap. Setelah 2015, kabut asap parah terjadi lagi tahun ini.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger, luasan lahan terbakar tahun ini dari Januari hingga awal Oktober mencapai 8.968,25 hektare.

Karhutla yang terjadi membuat kualitas udara berada pada level berbahaya hampir dua pekan. Sekolah pun terpaksa diliburkan. Ribuan orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini membuat warga ada yang mengungsi sementara ke daerah lain yang tidak terdampak kabut asap. Sebagian ada yang mengungsi ke posko-posko kesehatan untuk mendapatkan udara segar. Status darurat bencana pencemaran udara pun ditetapkan oleh Pemprov Riau pada 23 September dan akhirnya dicabut pada 30 September dengan kualitas udara yang berangsur-angsur normal.

Wakil Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Okto Yugo mengatakan, seharusnya karhutla yang berulang di Riau sudah cukup menjadi pelajaran bagi semua pihak. Apakah itu pemerintah pusat, pemerintah daerah dari provinsi hingga ke desa, korporasi, dan masyarakat. Terlebih pemerintah harus menemukan akar persoalannya ada di mana. Dikatakan Okto, Pemprov Riau harus melakukan penyelesaian akar persoalan secara serius dan menyeluruh.

"Karena sudah berulang terjadi, seharusnya Pemprov Riau harus bisa belajar dan menemukan solusi untuk mengatasi karhutla ini. Jangan sampai karhutla ini terus terulang terjadi. Keledai saja tidak mau jatuh di lubang yang sama," kata Okto kepada Riau Pos.

Hal serupa dikatakan aktivis lingkungan Riau, Jhony S Mundung. Menurutnya, mencegah karhutla agar tidak terjadi lagi di tahun-tahun depan semudah membalikkan telapak tangan. Karena saat ini teknologi sudah begitu canggih dan informasi dapat dengan mudah didapatkan.

"Kalau mau, hanya semudah membalikkan telapak tangan kok. Karena setiap hari kita mendapatkan informasi terkait titik api dan lokasinya. Dengan informasi itu, pemerintah kan bisa memberdayakan masyarakat desa yang ada di sekitar lokasi terbakar. Termasuk kepada pihak perusahaan yang ada titik apinya," katanya.
Dikatakan Mundung, setiap desa di Riau ini bisa menganggarkan dana untuk penanggulangan karhutla.

"Artinya kan memang mudah, tapi ini tidak dilakukan karena karhutla ini diproyekkan. Terbukti tiga Gubernur Riau sebelumnya tersangkut masalah hukum karena masalah lingkungan ini. Hal tersebut semakin membuktikan bahwa ada kejadian-kejadian korupsi pada isu lingkungan ini," sebutnya.

>>Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Laporan : Tim Riau Pos
Editor : Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Kementerian Agama Gandeng BPJS Lindungi Dai 3T di Riau

Kemenag, Baznas, dan BPJS Ketenagakerjaan beri perlindungan JKK dan JKM bagi dai 3T di Riau…

1 jam ago

Agung Nugroho Targetkan 5.000 Warga Ramaikan Petang Belimau

Pemko Pekanbaru targetkan 5.000 warga ikuti Petang Belimau, lepas 10.000 bibit patin di Sungai Siak…

1 jam ago

Pemuda Padel Hadirkan Lapangan Super Panoramik di Pekanbaru

Pemuda Padel resmi hadir di Pekanbaru dengan lima lapangan standar internasional dan program latihan bersama…

2 jam ago

Imlek 2026, JNE Hadirkan Barongsai dan Banjir Promo hingga 77 Persen

JNE rayakan Imlek 2577 dengan barongsai, bagi angpau, dan promo ongkir hingga 77 persen, termasuk…

2 jam ago

Honda Bikers Fun Motour Camp 2026, Touring Seru Plus Edukasi Safety

Honda Bikers Fun Motour Camp 2026 di Kampar diikuti 100 bikers Hobiku, padukan touring, camping,…

2 jam ago

Jantung hingga Kanker, Biaya Penyakit Kronis Tembus Rp50 Triliun

BPJS Kesehatan keluarkan Rp50,2 triliun untuk 59,9 juta kasus penyakit kronis sepanjang 2025, jantung tertinggi.

2 jam ago