Categories: Riau

Jumlah Jamaah Wafat Lampaui Tahun Lalu

MAKKAH (RIAUPOS.CO) – Jumlah jamaah haji wafat tahun ini sudah melampaui jumlah tahun lalu. Padahal masa operasional haji 2019 masih berjalan sampai 6 September depan. Kasus serangan jantung akut menjadi penyebab tertinggi.

Tahun lalu jumlah jamaah wafat sampai akhir masa operasional haji berjumlah 388 orang. Sementara itu memasuki hari ke-57 operasional kemarin (31/8) jumlah jamaah haji meninggal mencapai 392 orang. Kasus kematian paling banyak ada di Kota Makkah dengan jumlah 314 orang.

Dilihat dari asal embarkasinya, kasus kematian terbanyak untuk jamaah Surabaya (SUB) dan Bekasi (JKS). Masing-masing 62 orang. Kemudian dari Embarkasi Solo (SOC) berjumlah 55 orang. Catatan kematian terkecil ada di Embarkasi Lombok (LOP) yakni tujuh orang.
Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Daker Makkah M Imran menuturkan, faktor kelelahan turut berperan atas tingginya jumlah jamaah yang wafat.

"Pasca Armuzna, jamaah haji terus melakukan tawaf Ifadah," katanya kemarin (31/8).

Setelah itu, lanjutnya, melakukan ibadah Sunnah seperti tawaf wada. Imran menambahkan. faktor kelelahan itu dapat memicu kondisi darurat. Misalnya memperparah penyakit yang diderita sejak dari tanah air. Atau bisa juga memicu penyakit baru. Dia mengatakan banyak kasus jamaah wafat karena serangan jantung akut.

"Faktor cuaca juga berpengaruh. Cuacanya esktrem. Panas sekali," jelasnya.

Imran menuturkan sampai saat ini masih ada 49 jamaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Kemudian ada 111 jamaah di RS Arab Saudi. Mereka akan terus dirawat dan distabilkan sehingga bisa menempuh perjalanan ke Madinah.

Imran menuturkan Sabtu malam merupakan flight terakhir pemulangan jamaah dari Jeddah. Kloter terakhir pemulangan adalah BTH-15 dari Embarkasi Batam. Karena sudah tidak ada flight pemulangan dari Jeddah, maka jamaah yang sebelumnya dirawat dievakuasi ke Madinah.

Proses pemulangan jamaah dari Madinah masih panjang. Yakni sampai 15 September mendatang. "Tadi diantar ke Madinah sebanyak enam jamaah," jelasnya.

Imran menuturkan perjalanan ke Madinah memakan waktu enam sampai tujuh jam. Jamaah yang tidak bisa duduk, dievakuais sambil berbaring.

Sementara itu proses pencarian jamaah atas nama Tapsirin Wajat Ratam masih terus dilakukan. Jamaah asal Palembang itu dinyatakan hilang sejak proses Mabit di Mudzalifah pada 10 Agustus lalu. Kemarin (31/8) Kepala Bidang Perlindungan Jamaah Jaetul Muchlis mengunjungi kembali titik awal hilangnya Tapsirin di Mudzalifah.

 

>>Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Sumber : Jawa Pos
Editor : Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Tekan Balap Liar dan Knalpot Brong, Polisi Sita 12 Motor di Pekanbaru

Satlantas Polresta Pekanbaru menggelar patroli Blue Light dini hari dan mengamankan 12 sepeda motor pelanggar…

11 jam ago

Inovasi Layanan Umrah, Menang Tour & Travel Launching MMC

PT Butala Menang Abadi meluncurkan Menang Member Card di awal 2026 untuk mempermudah jemaah umrah…

12 jam ago

Baznas Riau Catat Zakat ASN Pemprov Riau Tembus Rp52 Miliar

Baznas Riau mencatat zakat ASN Pemprov Riau tahun 2025 mencapai Rp52,5 miliar dan terus mengoptimalkan…

12 jam ago

Penolakan Relokasi Menguat, Masyarakat Cerenti Tanda Tangani Petisi

Masyarakat Cerenti menggelar aksi damai dan menandatangani petisi menolak rencana relokasi warga TNTN ke Desa…

12 jam ago

Kantin SDN 169 Pekanbaru Terbakar Dini Hari, Damkar Kerahkan 5 Unit

Kantin SDN 169 Pekanbaru terbakar dini hari. Lima unit damkar dikerahkan untuk memadamkan api dan…

13 jam ago

Dermaga Peranggas Meranti Kian Memprihatinkan, DPRD Minta Perhatian Pemerintah

Dermaga Peranggas di Kepulauan Meranti kian memprihatinkan dan dinilai tak layak pakai. DPRD mendesak pemerintah…

13 jam ago