Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Riau (Unri) dalam sidang pengukuhan yang digelar di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1). Ia meraih gelar profesor dalam bidang Manajemen Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri.
Pria kelahiran Air Muruh, Ranai, 17 Maret 1961 ini merupakan putra dari almarhum H Daeng Tina dan almarhumah Wan Aminah. Ia menikah dengan almarhumah Hj Hefilina SE dan dikaruniai tiga orang anak, yakni dr D Alfhiradina, D Aqlielhafiz SPd, dan D Arasshilfajri.
Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN 01 Ranai, PGA 4 Tahun Ranai, PGAN 6 Tahun Tanjungpinang, kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Riau, S2 di Universitas Negeri Jakarta, serta S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Dalam orasi ilmiah pengukuhan yang berjudul “Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu”, Prof Daeng Ayub menekankan bahwa tuntutan abad ke-21 terus berkembang di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, sehingga menuntut peran pemimpin dengan gaya pemikiran yang adaptif.
Menurutnya, gaya pemikiran seorang pemimpin sangat menentukan tindakan dan perilaku dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan di era perubahan yang cepat.
Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan abad 21 yang berlandaskan budaya Melayu merupakan amanah yang disertai sifat siddiq, tabligh, dan fathonah, serta harus dijalankan dengan keimanan, kejujuran, keadilan, dan akhlak mulia.
Nilai-nilai tersebut bertujuan membentuk kelurusan hati, akal, niat, dan perbuatan, sehingga setiap kerja yang dilakukan memberi manfaat berkelanjutan serta membawa keberkahan dunia dan akhirat dengan berpegang pada agama, adat, dan undang-undang.
Transformasi kepemimpinan pendidikan, lanjutnya, menjadi prasyarat utama keberhasilan sistem pendidikan di era disrupsi. Filosofi Melayu seperti “yang tua dituakan, yang pandai diturutkan” mencerminkan penghormatan terhadap pengalaman, keilmuan, dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.
Budaya Melayu juga menegaskan pentingnya kesinambungan nilai lintas generasi, di mana pemimpin boleh berganti, tetapi nilai-nilai pendidikan harus tetap hidup.
Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang bermartabat tercermin dari sikap teguh memegang adat, bijak menimbang langkah, dan lurus menata niat, sebagaimana falsafah “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah”.
Dalam pandangan budaya Melayu, adat dan nilai merupakan marwah yang wajib dijaga, karena hilangnya adat berarti runtuhnya martabat kepemimpinan.
Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan dipandang sebagai jalan pengabdian yang menuntut keikhlasan, keberanian, serta kesetiaan pada nilai, yang dijalankan sebagai amanah di dunia dan dipertanggungjawabkan sebagai amal di akhirat. (nto/c)
Kebakaran di Marpoyan Damai Pekanbaru menghanguskan rumah bulat, dua kontrakan, dan sepeda motor. Delapan unit…
Desa Bokor di Kepulauan Meranti berhasil menjaga 13 spesies mangrove dan mengembangkan ekowisata berkelanjutan berbasis…
Sebanyak 117 kendaraan ditindak dalam razia gabungan di Jalan Sudirman Pekanbaru, termasuk truk ODOL dan…
Universitas Hang Tuah Pekanbaru menyembelih empat sapi kurban pada Iduladha 1447 H dan membagikannya kepada…
Jalan Pesisir di Rumbai yang puluhan tahun rusak segera diperbaiki. Anggaran pembangunan mencapai Rp11,8 miliar.
Arus penyeberangan Roro Bengkalis meningkat jelang Iduladha. Pengendara motor bahkan harus antre hingga empat jam.