Categories: Pendidikan

Bobby Ferly: Tantangan UMKM Perempuan Bukan Akses, tapi Literasi Digital

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Imam Syafii (IMSYA) Indonesia, Bobby Ferly SH MH, menjadi narasumber dalam seminar bertajuk Digital Gender Gap dalam Ekosistem UMKM dengan tema “Strategi dalam Mendorong Literasi Perempuan Pelaku Usaha”. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-97.

Seminar tersebut berlangsung di Gedung Daerah Balai Pauh Janggi, Kota Pekanbaru, Senin (15/12). Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan dan pelaku UMKM perempuan yang ingin meningkatkan pemahaman literasi digital di era ekonomi modern.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Riau, Hj Fariza SH MH. Dalam sambutannya, ia menyoroti tantangan besar di era digital, khususnya kesenjangan akses dan pemanfaatan teknologi antara laki-laki dan perempuan di sektor UMKM.

Menurut Hj Fariza, perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Lebih dari 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus penopang ketahanan ekonomi negara.

Sejalan dengan hal tersebut, Bobby Ferly SH MH yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah IMSYA serta berprofesi sebagai advokat dan penyuluh literasi digital, menegaskan bahwa anggapan perempuan tertinggal karena tidak memiliki akses atau perangkat digital tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, persoalan utama saat ini bukan lagi ketiadaan gawai, melainkan minimnya kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bisnis. Riset terbaru menunjukkan adanya digital gender gap yang cukup krusial, di mana tingginya kepemilikan ponsel pintar di kalangan perempuan tidak sejalan dengan pemanfaatannya untuk produktivitas ekonomi.

Bobby menambahkan, sebagian besar perempuan pelaku UMKM sejatinya telah memiliki teknologi di tangan mereka. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada fungsi komunikasi dasar. Kesenjangan kecakapan digital inilah yang menjadi penghambat utama, membuat banyak perempuan terhubung secara perangkat, tetapi belum terkoneksi dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar global. (nto/c)

Redaksi

Recent Posts

Kuansing Dapat Tambahan Dana Rp70 Miliar, Gaji PPPK dan TPP ASN Jadi Prioritas

Kuansing mendapat tambahan dana Rp70 miliar dari Kemenkeu. Dana diprioritaskan untuk gaji ASN, PPPK, dan…

14 jam ago

290 Bilik Santri Ludes Terbakar, Bupati Kampar Langsung Turun ke Ponpes Syekh Burhanuddin

Kebakaran menghanguskan 290 bilik santri Ponpes Syekh Burhanuddin Kampar. Pemkab bergerak cepat mendirikan tenda dan…

14 jam ago

Harga Kelapa Anjlok, Ratusan Mahasiswa dan Petani Kepung Kantor Bupati Inhil

Ratusan mahasiswa dan petani kelapa menggelar aksi di Kantor Bupati Inhil. Mereka mendesak pemerintah memperjuangkan…

16 jam ago

7.341 PKH dan 10.428 Sembako Kemensos Proses Penyaluran, Terlibat Pinjol dan Judol Tak Lagi Mendapat Bantuan

Penerima bansos di Siak menurun pada triwulan III. Dinsos menyebut pindah, pinjol hingga judol sebagai…

16 jam ago

Pasien Koma Meninggal Usai Dirujuk ke Pekanbaru, Keluarga Ungkap Kronologinya

Video pasien koma viral di media sosial. Keluarga menyoroti lamanya proses rujukan, sementara RSUD Bagansiapiapi…

16 jam ago

14 Tim Basket Kampar dan Rohul Berebut Juara di Riau Pos-HSBL 2026

Sebanyak 14 tim basket pelajar Kampar dan Rohul siap bertarung di Riau Pos-HSBL 2026 Seri…

16 jam ago