Categories: Opini

Perilaku Konsumen dalam Islam

SEBAGAI makhluk sosial yang tidak akan mungkin lepas dari bertransaksi, baik itu dalam hal jual-beli atau kegiatan lainnya, tentu memerlukan manusia lain. Untuk bisa bersosial dengan baik, dibutuhkan etika atau perilaku yang baik pula agar tidak ada yang dirugikan. Saat ini, dunia bisnis sedang ramai-ramainya dan berlomba mengunggulkan bisnisnya masing-masing. Semakin banyak produsen, semakin leluasa juga konsumen dalam memilih dan membeli.

Dalam hidup manusia tidak bisa terlepas dari konsumsi. Jika manusia mengabaikan konsumsi, maka sama saja mengabaikan kehidupan. Konsumsi memegang peran penting dalam perekonomian. Karena dengan adanya konsumsi, akan mendorong terjadinya produksi dan distribusi yang bisa menggerakkan perputaran perekonomian. Sehingga tidak ada manusia yang mengabaikan kehidupan.

Prinsip konsumsi dalam Islam harus memmerhatikan halal dan haram untuk barang yang dikonsumsi. Tidak memakan makanan yang dilarang seperti bangkai, daging babi, dan daging binatang yang disembelih tidak menyerukan nama Allah Swt. Walaupun yang dimakan itu sesuatu yang halal, tetapi jika yang dikonsumsi itu tidak bersih, jorok, dan menjijikkan maka sesuatu itu tidak boleh dikonsumsi karena yang diperbolehkan ialah makanan dan minuman yang bersih dan bermanfaat. Prinsip yang terakhir ialah sederhana, tidak boleh mengonsumsi sesuatu itu secara berlebihan.

Konsumsi bagi seorang muslim adalah konsumsi yang memiliki peran sebagai penolong dalam beribadah kepada Allah Swt. Jika niatnya dalam mengkonsumsi sesuatu untuk meningkatkan stamina dalam beribadah dan pengabdian kepada Allah  maka bisa menjadi konsumsi yang bernilai ibadah dan mendapat pahala. Namun, jika dalam mengkonsumsi sesuatu tanpa ada niat yang jelas dan mengabaikan larangan Allah, bisa jadi konsumsi tersebut tidak bernilai ibadah, bahkan mendapat dosa.

Manusia dikenal sebagai makhluk Allah yang memiliki akal dan nafsu, termasuk dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Sering kali manusia sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan, sehingga banyak konsumen yang berlebihan dalam membelanjakan hartanya, atau yang dikenal dengan hedon. Yang termasuk sikap hedon ialah membeli barang yang tidak perlu, membeli barang mewah hanya untuk mengikuti tren, dan tidak mempedulikan maslahah sehingga terjadi konsumsi tanpa batas.

Hedonisme merupakan etika yang dalam memenuhi kebutuhannya dengan menghasilkan sebanyak-banyaknya kesenangan. Kesenangan yang dimaksud di sini adalah kesenangan yang bersifat individual. Kesenangan yang baik adalah kesenangan untuk banyak orang, karena jika kesenangan hanya untuk diri sendiri maka bisa jadi itu kesengsaraan bagi banyak orang. Karena itu Islam mengajarkan untuk berbagi ke sesama.

Ada beberapa faktor yang menimbulkan sifat hedonisme pada diri. Salah satunya adalah tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapat dan pembauran budaya hedonisme pada masyarakat sudah mengubah perilaku yang signifikan pada umat Islam. Adanya dorongan untuk hidup bebas yang menutup mata pada ajaran Islam. Menyamakan kepentingan orang lain dengan diri sendiri. Padahal kepentingan tiap orang itu berbeda. Jika melihat orang lain hidup dengan gaya yang mewah, maka tidak baik jika seorang muslim juga mengikuti gaya hidup yang seperti itu karena bisa merusak diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Tak heran jika dalam memenuhi keinginannya, konsumen sering merugikan orang lain demi memenuhi keinginannya. Menghalalkan segala cara dan tidak peduli jika hal itu memiliki dampak buruk, serta menimbulkan sifat egois dan tidak ada kepekaan sosial. Harus ada keseimbangan dalam konsumsi karena sesungguhnya harta seorang muslim itu harus dinafkahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan fi sabilillah. Dengan tidak bersifat kikir, boros, dan menghamburkan uang.

Jika seorang muslim mampu memprioritaskan konsumsi yang dibutuhkan dan bermanfaat serta menjauhkan konsumsi yang berlebihan, maka timbullah kesejahteraan yang islami. Karena kesejahteraan tidak dapat diukur dengan kemewahan, melainkan bisa diukur dengan terpenuhinya maslahah kebutuhan dasar. Jika tidak mampu, maka tidak akan ada kesejahteraan dan hidup dengan kemurkaan Allah.

Ajaran Islam menyarankan untuk mengkonsumsi sesuatu yang halal dan baik sesuai kebutuhan setiap individu. Namun, hal ini bukan berarti seseorang boleh menimbun hartanya. Islam juga melarang manusia menyimpan atau menahan hartanya, maka dari itu gunakanlah harta sebaik-baiknya di jalan Allah dan untuk kebutuhan yang halal dan bermanfaat.

Hedonisme hanya mementingkan hawa nafsu. Sementara konsumsi yang baik dalam Islam adalah menerapkan konsep maslahah pada diri.***

Anjeli Wijaya adalah mahasiswi Jurusan Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam Tazkia, Bogor.

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Kasus Eksploitasi Anak di Pelalawan Terungkap, Psikolog: Jangan Anggap Ini Hal Biasa

Kasus tiga anak diduga dieksploitasi di Pelalawan menjadi alarm perlindungan anak. Psikolog mengingatkan pentingnya peran…

2 jam ago

Pemko Pekanbaru Raih Penghargaan Pembangunan Daerah Riau 2026

Pemko Pekanbaru meraih Terbaik II Penghargaan Pembangunan Daerah Riau 2026 berkat kualitas perencanaan dan capaian…

2 jam ago

Motor Tabrak Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengendara Tewas dan Satu Kendaraan Kabur

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Sudirman Pekanbaru. Pengendara motor tewas setelah terlibat tabrakan dengan dua…

22 jam ago

Riau Rayakan HUT ke-69, Terus Berinovasi Hadapi Tantangan Ekonomi

HUT ke-69 Riau menjadi momentum memperkuat persatuan, inovasi, dan pembangunan di tengah tantangan ekonomi daerah.

23 jam ago

31 Anggota TGC Siap Meriahkan Riau Pos Gowes Merdeka 2026 di Pekanbaru

TGC Pekanbaru mendaftarkan 31 anggota untuk meramaikan Riau Pos Gowes Merdeka 2026 yang digelar pada…

23 jam ago

Go-SoC Perawang Kembali Ramaikan Riau Pos Gowes Merdeka, Puluhan Goweser Siap Berangkat

Go-SoC Perawang menyiapkan 25 goweser untuk Riau Pos Gowes Merdeka 2026 dan menargetkan jumlah peserta…

2 hari ago