Categories: Opini

RAPBD Berbasis Tane, Tape, dan Take

Kornas Kohati mengusulkan sebuah inovasi RAPBD Provinsi Riau berbasis TANE, TAPE dan TAKE. Mungkin inovasi yang diusulkan ini terdengar asing dan lain di telinga masyarakat pada umumnya namun ini juga merupakan hal yang baru didengar di kalangan pemerintahan. Apa, siapa yang akan menjalankan, bagaimana, kapan dan di mana hal ini akan diimplementasikan. Hal inilah yang menjadi pertanyaan mendasar pada kalangan umum.

Melirik dari pada pembangunan daerah, hal ini merupakan bagian integral dari pembangunan nasional mencakup seluruh segi kehidupan masyarakat, sudah tentu memerlukan pengorganisasian pemerintahan yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Pelaksanaan pembangunan yang ditujukan demi kemakmuran rakyat, penyelenggaraannya dilakukan menyeluruh sampai ke pelosok daerah dan desa sesuai dengan kondisi daerah masing-masing, dengan kata lain bahwa negara memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.

Salah satu aspek yang sangat penting dalam melaksanakan fungsi pemerintahan adalah melayani masyarakat dari berbagai aktivitasnya dan untuk itulah maka pemerintah membentuk sistem administrasi dan birokrasi dari pemerintah tingkat yang tertinggi sampai ketingkat pemerintahan yang terendah agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi seluruh masyarakat dalam fungsi pelayanan masyarakat atau public service. 

Oleh sebab itu dalam mewujudkan tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, pengelolaan keuangan daerah dilakukan berdasarkan hakikat tata kelola yaitu transparan, akuntabel dan partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. Transparansi, akuntabel dan partisipatif dalam pengelolaan keuangan daerah merupakan aspek penting dalam menciptakan tata kelola yang baik. Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban daerah, tidak dapat dipungkiri alokasi anggaran pusat ke daerah melalui mekanisme transfer pusat  ke daerah merupakan bagian yang teramat penting dalam agenda meruntuhkan kesenjangan antara pusat dan daerah. 

Tentunya, penggelontoran sejumlah anggaran tersebut diharapkan mampu menjadi stimulus bagi daerah untuk berkembang. Namun, bukan malah menjadi kreatif dan kuat secara domestik, stimulus fiskal tersebut malah membuat candu dan ketergantungan. Tanggapan ini lah yang memunculkan wacana inisiatif pemberian insentif fiskal berbasis ekologi, yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing daerah. Hal serupa yang dilakukan masyarakat sipil bersama sejumlah praktisi ekonomi dan pemerhati lingkungan mendorong wacana transfer serupa berupa insentif untuk daerah yang menjaga hutan dan alamnya dengan mekanisme Transfer Anggaran Nasional Berbasis Ekologi (Tane). Wacana ini pun berkembang menjadi mekanisme Transfer Anggaran Provinsi berbasis Ekologi (Tape) untuk alokasi anggaran kepada provinsi dan mekanisme Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (Take) untuk alokasi anggaran kepada kabupaten. Untuk memperkuat gagasan itu, maka mekanisme Tape dan Take ini pun ditunjang oleh Peraturan Pemerintah (PP) No.12 tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 45 dan 67 mengenai bantuan keuangan. Khusus untuk TAKE,  PP No.47 Tahun 2015 tentang Perubahan PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa ikut memperkuat gagasan ini sehingga wacana ini sangat rasional dan realistis untuk diterapkan.

Provinsi Riau yang terdiri dari 12 kabupaten/kota  yang kaya akan sumberdaya alam pun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah baru dalam memperbaiki sistem pelayanan perbaikan ekonomi ke depannya berbasis ekologi. Dengan tidak melihat pada 1 sektor saja namun lebih kepada hal yang menguntungkan masyarakat. Seperti pemuliaan tanaman pertanian, perkebunan serta hal-hal yang menyangkut tindak langsung yang beroperasional di tengah masyarakat, namun pembinaan, bimtek serta mengindentifikasi daerah-daerah yang berpotensi dalam penyelamatan lingkungan benar benar dilakukan pembinaan, serta suversi atau pengawasan yang serius dengan adanya Tape tentu ini akan sedikit banyak dana akan tersentuh kemasyarakat langsung penggunaannya bukan tidak mungkin untuk desa pun akan ada Transfer Anggaran Desa berbasis Ekologi (Tade). 

Ketika ini terselenggara bukan tidak mungkin pemerintah yang mengidentifikasi daerah atau wilayah yang berpotensi bisa menaikkan rating ekonomi masyarakat, karena pemerintah pun bisa menentukan arah pasar dan peredaran dari hal yang menghasilkan hasil binaan kepada masyarakat. ***
 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Batal Diusulkan di Desa Wonosari, Dinsos Bengkalis Cari Lokasi Alternatif Pembangunan Sekolah Rakyat

Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Bengkalis terkendala setelah lahan usulan di Desa Wonosari ditolak Kemensos…

18 jam ago

Modus Investasi Pengangkutan Batu Bara, Pria Berinisial S Ditangkap Polresta Pekanbaru

Satreskrim Polresta Pekanbaru menetapkan pria berinisial S sebagai tersangka penipuan investasi proyek pengangkutan batu bara…

18 jam ago

UIN Suska Riau Kukuhkan Prof Afrizal Nur Sebagai Guru Besar Tafsir Kontemporer Pertama

Prof Dr Afrizal Nur dikukuhkan sebagai Guru Besar Tafsir Kontemporer UIN Suska Riau usai menyampaikan…

18 jam ago

Kabut Asap Makin Pekat, Jarak Pandang di Kota Pekanbaru Jadi 800 Meter

Kondisi kabut asap karhutla di Pekanbaru kian memburuk hingga menurunkan jarak pandang menjadi 800 meter…

21 jam ago

Putusan Banding PT Pekanbaru: Hukuman Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Diperberat 4 Tahun Penjara

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Pekanbaru memperberat hukuman Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid menjadi 4 tahun…

2 hari ago

Panjat Atap Hingga Lompat Tembok, Tahanan Narkoba Kabur dari Lapas Pasirpengaraian

Seorang tahanan kasus narkotika berinisial RI melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Pasirpengaraian, Rohul, usai…

2 hari ago