Categories: Opini

Mari Bangun Komunikasi Antara Orangtua-Guru

Jagad pendidikan dihebohkan viralnya video kasus salah satu wali murid, yang marah-marah kepada seorang ustaz (guru) di salah satu lembaga pendidikan. Tanggapan nitizen atas viralnya video juga beragam, mayoritas  nitizen menganggap bahwa perlakuan wali murid sudah melewati batas, apalagi di depan para santri. Pada saat pendidikan di Indonesia sedang menatap masa gemilang dengan hadirnya slogan-slogan posistif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai “merdeka belajar” dan didukung dengan memanusiakan hubungan antara “guru-murid-orangtua”, ditambah juga program sekolah ramah, sekolah sahabat keluarga, hal seperti di atas seharusnya diantisipasi dan tidak boleh terjadi.

Muncul ketidakharmonisan dalam sebuah hubungan di tengah masyarakat, ketidaknyamanan, saling serang, perkelahian karena tidak terjalin komunikasi antara dua pihak sehingga saling menyalahkan. Apatah lagi pada lembaga pendidikan komunikasi yang tidak terjalin baik antara “guru-murid-orangtua” akan menyebabkan hal-hal demikian terjadi. Biasanya kenakalan anak didik karena tidak adanya komunikasi antar teman, tidak mampu bersosialisasi baik dengan teman dan lingkungan. Oleh karena itu tindakan, bantuan, bimbingan dari guru kepada anak didik harus terus dilakukan sampai benar-benar anak didik sampai pada tahap kematangan perkembangan. Tidak bisa dibayangkan keberlangsungan suatu lembaga pendidikan jika tidak terjalin komunikasi dengan baik, pendidikan akan semakin jauh dari yang diharapkan dan lembaga pendidikan menjadi semacam alergi bagi orangtua dan murid, orangtua juga semakin tidak percaya kepada lembaga pendidikan.

Di sini perlu adanya perubahan pola komunikasi antara orangtua dan guru atau pihak sekolah. Komunikasi yang selama ini sifatnya satu arah berubah menjadi komunikasi banyak arah, komunikasi yang sifatnya komando berubah menjadi komunikasi persuasif, penuh kehangatan dan bahasa ajakan. Untuk memulai perubahan pola komunikasi itu dapat dimulai dari yang paling dasar, yakni berkaitan dengan tata tertib anak didik yang sedang belajar pada suatu lembaga pendidikan.

Segala bentuk tata tertib lembaga pendidikan dikomunikasikan oleh banyak pihak, bisa jadi orangtua dan murid boleh mengajukan dan menentukan tata tertib sesuai karakteristik lembaga pendidikan, bisa juga lembaga pendidikan membuka diri untuk menerima pengajuan tata tertib lembaga dibahas bersama-sama dengan orangtua dan murid, di sinilah hakikat “memanusiakan hubungan” antar guru-murid-orangtua. Persamaan tujuan antara orangtua dan guru tidak boleh terabaikan sehingga dapat menimbulkan kejadian serupa. Sehingga persamaan untuk mengantarkan anak didik pada kesuksesan duniawi dan ukhrawi, teraplikasi pada praktik pendidikan.

Sudah seharusnya orangtua ikut serta menjadi subjek pendidikan, informasi perkembangan anak didik yang hanya sebatas saat menerima raport saja, berubah menjadi lebih intens dan orangtua ikut terlibat dalam kemajuan perkembangan anak didik.

Kunjungan orangtua yang sebatas “antar-jemput” berubah menjadi kunjungan “tanya-jawab” walau alasan keterbatasan waktu masih menjadi pekerjaan besar, kerelaan meluangkan waktu, untuk “bertanya–jawab” dengan guru dan pihak sekolah adalah bagian bijak untuk menatap perkembangan anak didik yang lebih baik. Ada semacam kolaborasi antara Sekolah dan orangtua, prinsip kolaborasi menghendaki adanya satu kesatuan utuh dari tiga dimensi guru-murid-orangtua tanpa terpisah-pisah. Pihak sekolah juga terbuka untuk menjawab, memberitahu, menyampaikan perkembangan anak didik yang diperlukan oleh orangtua. Pihak sekolah memaknai keterlibatan orangtua sebagai usaha bersama untuk mengantarkan anak didik pada kesuksesan duniawi dan ukhrawi.

Pendidikan tetap pada tujuan utama yakni menjadikan manusia yang penuh nilai (berakhlak). Slogan merdeka belajar haruslah dimaknai oleh guru-murid-orangtua pada orientasi ilmu tertinggi yakni akhlak al-karimah.***

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Tiga Bulan Belajar di Dunia Media, Mahasiswa Unri Rampungkan Program Magang Berdampak di Riau Pos

Mahasiswa Unri sukses menyelesaikan program Magang Berdampak selama tiga bulan di Riau Pos dengan bekal…

1 hari ago

Tangis dan Bangga Warnai Pelepasan 250 Siswa SMPN 25 Pekanbaru

Pelepasan 250 pelajar kelas IX SMPN 25 Pekanbaru berlangsung khidmat, meriah, dan penuh suasana haru.

1 hari ago

Sewa Lima Hari, Mobil Malah Digelapkan, Pasutri Berakhir Ditangkap

Pasutri di Tapung ditangkap polisi setelah diduga menggelapkan mobil rental yang tak dikembalikan kepada pemiliknya.

1 hari ago

Pantai Solop Diawasi Ketat Saat Iduladha, Maksiat dan Narkoba Jadi Perhatian

Pengawasan di Pantai Solop diperketat selama libur Iduladha untuk mencegah maksiat, miras, narkoba dan perilaku…

1 hari ago

Korupsi Bibit Kopi Liberika di Meranti, Kerugian Negara Rp663 Juta Berhasil Dipulihkan

Kejari Kepulauan Meranti berhasil memulihkan kerugian negara Rp663 juta dari kasus korupsi pengadaan bibit kopi…

1 hari ago

Kursi Kadis PUPR Riau Berganti, SF Hariyanto Tunjuk Zulfahmi Jadi Plt

SF Hariyanto menunjuk Zulfahmi sebagai Plt Kadis PUPR-PKPP Riau untuk penyegaran dan percepatan pembangunan infrastruktur.

1 hari ago