Catatan Sepakbola, HARY B KORIUN
PERTARUNGAN antara Spanyol melawan Argentina dalam final Piala Dunia 2026 ini bisa disebut ideal dan istimewa karena kedua tim memainkan sepakbola menyerang sejak awal. Meski mengejutkan ketika ditahan Tanjung Verde 0-0 di pertandingan pertama babak penyisihan, namun setelah itu pelan-pelan La Furia Roja memperbaikinya. Bukan hanya tentang mencetak gol dan menang, tetapi juga soal bagaimana menjaga gawang Unai Simon minim kebobolan.
Hingga maju ke babak final ini, baru anak muda Belgia bernama Charles De Ketelaere yang bisa membobol jala kiper Athletic Bilbao tersebut. Itu terjadi saat perempatfinal yang dimenangkan Spanyol 2-1. Sebiji gol kebobolan dalam 7 pertandingan Piala Dunia adahal hal istimewa: meyakinkan dan memberi peringatan. Ini bukan hanya tentang tangguhnya duet Pau Cubarsi-Aymeric Laporte, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem sepakbola menyerang yang penuh determinasi dibangun oleh klub-klub Spanyol yang dipelopori Barcelona yang menular ke timnas. Dulu, di zaman Josep Guardiola melatih klub Catalan itu, disebut tiki-taka: operan pendek dengan penguasaan bola sangat ketat, jarak pemain dekat merapat, mendikte lawan dalam penguasaan bola, hingga bola sampai di kotak penalti lawan dan tercetak gol.
Di tim nasional Spanyol, pola penguasaan bola yang bisa membuat lawan sangat minim menyentuh bola ini dimodifikasi oleh Vicente Del Bosque saat membawa Si Pemarah Merah memenangkan gelar juara dunia pertamanya di Piala Dunia 2010 yang dipentaskan di Afrika Selatan. Spanyol menang 1-0 atas salah satu skuad terbaik Belanda, lewat gol tunggal Andres Iniesta saat perpanjangan waktu. Saat itu, dengan skema 4-2-3-1, skuad final Del Bosque diisi mayoritas pemain Barcelona –7 pemain: Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Iniesta, David Villa, dan Pedro–, tiga pemain Real Madrid (Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Xabi Alonso), dan satu pemain Villarreal (Joan Capdevila).
Dengan dasar 7 pemain Barcelona yang biasa memainkan tiki-taka dikembangkan dengan lebih longgar, keberadaan pemain non-Barcelona seperti Ramos, Alonso, dan Capdevila di lapangan dan Casillas di bawah mistar, membuat pertahanan dan lini tengah Spanyol memang benar-benar solid. Sulit ditembus. Xavi, Iniesta, Pedro, dan Villa dengan atau tanpa bola, memang membuat lawan sulit merebut dan menguasai bola dari mereka. Meski begitu, setelah Piala Dunia 2010, gaya permainan ini sudah dibaca oleh lawan-lawannya. Ini bisa dilihat bagaimana Spanyol babak belur di Piala Dunia 2014, termasuk ketika dihajar Belanda 5-1 dan Cili 2-0, dan gagal lolos ke babak kedua dari persaingan Grup B. Padahal Del Bosque ketika itu juga membawa sebagian besar skuad yang juara di Afsel.
Di Piala Dunia 2026 ini, Luis De la Fuente mungkin terlihat seperti membawa roh Del Bosque di tahun 2010. Mengusung pola sama, 4-2-3-1, sejak awal, Spanyol memang dominan di lini tengahnya dengan kapten Rodrigo sebagai kalisator permainan. Dia yang mengendalikan semuanya: perebut bola yang handal, jembatan antarpemain, mengontrol irama permainan, dan disiplin dalam menyaring serangan lawan. Duetnya dengan Fabian Ruiz atau Pedri sangat padu dan saling melengkapi yang membuat empat pemain di depan mereka –Alex Baena, Dani Olmo, Lamine Yamal, dan Oyarzabal— bebas bergerak secara plastis. Dengan itulah mereka mendominasi lini tengah dan mengontrol pertandingan.
Jika Del Bosque menduetkan Busquets-Alonso sejajar di depan Pique-Puyol pada 2010 sebagai pivot, De la Fuente sedikit mendorong Fabian Ruiz –yang mulai mengambil alih peran Pedri yang dianggap De la Fuente kurang pas dengan sistem yang dibangunnya— ke depan, membantu Olmo, Baena, dan Yamal dalam menyuport Oyarzabal. Itu yang memungkinkan Ruiz bisa sering masuk ke kotak penalti saat menyerang. Bahkan mencetak gol saat melawan Belgia. Namun, Ruiz tahu, Rodri tetap perlu teman di depan Cubarsi-Laporte saat lawan melakukan serangan sebagai penyaring pertama sebelum lawan berhadapan dengan Cubarsi-Laporte, atau kiper Simon. Dia akan tetap menutup di sisi kiri, menambal posisi Marc Cucurella jika terlambat turun. Komposisi Spanyol ini sangat plastis sehingga mereka bisa mengkreasikan serangan sama baiknya.
Lalu bagaimana dengan Argentina? Semula saya menganggap Albicelestes hanya akan terpusat kepada Lionel Messi, dan pemain lainnya hanya supporting seperti di awal-awal babak penyisihan yang memperlihatkan dominasi pemain yang memperkuat Miami City ini. Namun, belakangan, memasuki fase gugur, Messi bisa menggerakkan gerbongnya dengan baik, dengan membangun agresivitas serangan dari berbagai sisi dan oleh hampir semua pemain, termasuk pemain belakang. Merasa kesulitan melakukan tusukan di kotak penalti, Messi berubah menjadi pelayan untuk gol-gol rekannya, termasuk dua assist-nya saat menang 2-1 atas Inggris.
Dalam tiga pertandingan fase gugur menghadap Mesir, Swiss, dan Inggris, peran tiga gelandang mereka, Lendro Paredes, Mac Allister, dan Enzo Fernandez sangat vital dalam memberikan ruang kepada Messi menjadi pemain bebas. Dalam komposisi 4-1-4-1 atau 4-1-3-2, Messi sebenarnya diplot sebagai penyerang utama. Namun di lapangan, dia sering meninggalkan posisi itu dan menjelajah dari tengah hingga ke flank kanan. Dengan begini, Paredes, Allister, Fenandez maupun Julian Alvarez yang beroperasi di sayap kiri juga bebas bergerak, tukar tempat, atau malah berada di depan gawang lawan.
Namun, menghadapi Spanyol yang hampir pasti tetap ingin memegang kendali permainan dari lini tengah, Lionel Scaloni harus berpikir dua kali untuk menempatkan hanya satu gelandang bertahan, Paredes, di depan duet Christian Romero-Lisandro Martinez. Paling tidak Mac Allister atau Fernandez harus lebih berhati-hati dulu agar tak terlalu agresif menyerang. Sebab, jika Paredes dibiarkan menghadapi komposisi lini tengah Spanyol yang sudah terbukti determinasinya melawan lini tengah lawan-lawan tangguh seperti Portugal, Belgia, maupun Prancis, akan sangat keteteran. Ini belum agresivitas dua posisi flank kanan kiri Spanyol yang diisi Yamal yang didukung agresivitas Porro plus Baena dan Cucurella di kiri.
Jika pertandingan-pertandingan sebelumnya menjadi alat analisa, Spanyol lebih unggul dari sisi permainan maupun statistik. Determinasi mereka dalam mengendalikan permainan sangat terlihat di hampir semua pertandingannya melawan tim-tim dengan komposisi pemain mewah di hampir semua fase gugur. Ini berbeda dengan Argentina yang sebenarnya praktis menghadapi lawan yang berpengalaman “hanya” saat menghadapi Inggris. Tanjung Verde, Mesir, atau Swiss, praktis tak memiliki kemewahan skuad dibanding Inggris.
Meski begitu, jika melihat pertandingan sebelumnya, Argentina akan menggila jika mereka tertinggal. Mereka akan melupakan filosofi taktikal dasar dan secara sporadis akan mengirim bola apa pun ke jantung pertahanan lawan. Ini terlihat saat melawan Inggris, Tanjung Verde, dan Mesir. Jika itu terjadi dalam final ini, maka kiper Unai Simon dan seluruh komposisi bertahan Spanyol akan dibuat sibuk oleh Messi dan gerbongnya.
Siapa yang menang? Sulit menebaknya. Sebab dalam turnamen seperti ini, hasil akhir menjadi yang utama. Memiliki determinasi, menguasai permainan, dan memiliki banyak peluang belum tentu bisa memenangkan pertandingan, meski tetap hal itu yang menjadi basis dan dasar semua analisis.***
Listrik di Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti, sempat padam berjam-jam akibat tiga gangguan beruntun. PLN pastikan…
Pimpinan Universitas Riau mendatangi Polres Siak dan TKP tewasnya dokter PPDS Alex Cristo Lotis. Polisi…
Terduga pengedar pil ekstasi di Pekanbaru dilumpuhkan setelah menyerang polisi dengan cutter saat penangkapan. Satu…
Buaya sepanjang 2,5 meter yang meresahkan warga Sungai Gaung, Inhil, selama tiga bulan akhirnya berhasil…
Mahasiswa UNPRI Kampus Pekanbaru meraih empat penghargaan di ajang LETIN 8 tingkat nasional, mulai dari…
Pemprov Riau menggelar nobar final Piala Dunia 2026 di halaman Kantor Gubernur Riau. Masyarakat diundang…