Categories: Olahraga

“Saya Sudah Bekerja Keras, Saya Bersyukur dengan Hasil Ini…”

Meski tak diunggulkan, Tengku Anggito Wicaksono berhasil meraih medali perunggu di cabang sepatu roda PON 2021 Papua. Pengprov Porserosi Riau ditantang untuk terus melahirkan atlet sepatu roda yang bisa besaing secara nasional.

Laporan: Hary B Koriun (Jayapura)

RIAU tak masuk dalam peta olahraga sepatu roda nasional. Karena itu, keberhasilan Tengku Anggito Wicaksono meraih medali perunggu di nomor 300 meter individual time trial (ITT), menjadi istimewa.

Di Klementinal Roller Sport Arena, Sentani, Jayapura, Kamis (30/9/2021), Anggito harus mengakui keunggulan Dinda (Aceh) dan Rangga (Kaltim). Anggito mencatat waktu 25,253 detik.

Di temui Riaupos.co di Arena Jalan Raya Jembatan Merah, Jayapura, Jumat (1/10/2021), seusai dirinya gagal menyelesaikan nomor marathon 42 Km, pemuda asli Kabupaten Siak ini mengaku senang meski hanya mempersembahkan medali perunggu.

Di nomor sprint yang menjadi spesialisasi dia itu, Anggito sudah bekerja keras untuk meraih yang terbaik, namun harus mengakui keunggulan lawan.

"Saya sudah bekerja keras, dan inilah hasilnya (perunggu, red). Saya bersyukur dengan hasil ini," ujar pemuda 20 tahun tersebut.

Dijelaskannya, hampir semua lawan-lawannya di cabang ini memiliki kesempatan berlatih bersama di Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah dengan fasilitas yang baik dan punya lawan tanding yang berkualitas. Beberapa di antaranya malah berlatih di Geisingen, Jerman,

Sementara dirinya bersama atlet Riau lainnya tak punya kesempatan melakukan try-out ke luar Riau karena pandemi corona dan pengetatan-pengetatan yang dilakukan pemerintah. Dia hanya berlatih di Siak bersama pelatih Khairul Minan dan yang lainnya.

"Tapi itu bukan alasan gagal meraih medali terbaik. Sekali lagi, saya bersyukur dengan hasil ini," jelasnya lagi.

Ke depan, dia berjanji akan berlatih lebih giat lagi. Jika pandemi sudah berakhir, dia dan tim pelatih ingin berlatih di Geisingen, Jerman. Hampir seluruh atlet yang meraih emas di PON Papua ini, rata-rata berlatih di Geisingen.

Geisingen adalah sebuah kota di Distrik Tuttilingen, di Baden-Wurttemberg. Selain menjadi salah satu pusat turis  karena memiliki alam indah dan gedung-gedung bersejarah, di kota ini kebiasaan warganya adalah bermain sepatu roda.

Iklim yang baik sepatu roda di kota ini ditunjang dengan fasilitas berkelas internasional, sport science, klub-klub sepatu roda terbaik, dan pelatih-pelatih berkelas internasional juga, membuat Geisingen dianggap sebagai representasi sepatu roda dunia. Banyak negara yang mengirim atlet terbaiknya  ke sini untuk melakukan trainning camp sebelum mengikuti berbagai kejuaraan.

Menurut Anggito, berlatih di kota tersebut adalah sebuah impiannya, juga atlet sepatu roda Riau lainnya. Menurutnya, dia ingin merasakan gemblengan ala Geisingen yang terbukti sudah melahirkan atlet-atlet terbaik dunia di berbagai iven.

"Mudah-mudahan keinginan ini terkabul," jelas pemuda yang saat berumur 15 tahun sudah turun di PON Jawa Barat tersebut.

Sebelum turun di PON Papua ini, Anggito sudah berprestasi sebagai juara nomor sprint 1000 M Kejurnas Piala Bupati Siak Tahun 2019, juara ketiga ITT 300 M Pra PON Papua di Bekasi 2019, dan prestasi lain di berbagai kejuaraan yang diikutinya.

Pelatih sepatu roda Riau, Khairul Minan, menjelaskan, meski tak mempersembahkan emas atau perak, keberhasilan Anggito bersaing di tingkat elit sepatu roda Indonesia adalah prestasi yang harus diapresiasi.

"Dia masih muda dan punya masa depan yang baik. Selama ini dia dan yang lainnya hanya berlatih di Siak. Jika dia bisa berlatih di tempat yang lebih baik seperti atlet berprestasi lainnya, dia masih sangat bisa berkembang," ujar Minan.

Di bagian lain, dia juga mengakui bahwa di Riau tak banyak atlet sepatu roda yang benar-benar serius ingin berkarir di sana. Dia berharap Pengprov Porserosi Riau terus bekerja keras melahirkan atlet-atlet sepatu roda yang nantinya bisa menjadi penerus Anggito dkk.

"Ini sebuah tantangan bersama di Riau," jelas Minan.

Terkait kegagalan Anggito dkk di nomor marathon 42 Km, Minan mengakui, sejak awal pihaknya memang tidak menargetkan di nomor. Selain belum pernah mencoba trek ini, kondisi trek juga cukup ekstrem.

"Kami sejak awal memang tidak menargetkan medali di nomor marathon. Karena memang kita belum pernah uji coba dan treknya yang ekstrem, cuacanya juga berbeda dari Sumatra. Suhunya bisa sampai 40 derajat celsius," ujarnya.***

Editor: Eka G Putra

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Pemko Pekanbaru Targetkan Perbaiki Jalan Rusak Lebih dari 42 Kilometer

Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 kilometer tahun ini, menyasar pusat kota…

13 jam ago

Konsisten Sejak 2019, DBC Kembali Kirim 15 Peserta Meriahkan Riau Pos Fun Bike 2026

Duri Bike Community memastikan ikut Riau Pos Fun Bike 2026 dengan menurunkan 15 peserta dan…

13 jam ago

Butuh Pegawai Tangguh, BPR Indra Arta Perpanjang Pendaftaran Rekrutmen

BPR Indra Arta Indragiri Hulu memperpanjang pendaftaran rekrutmen pegawai baru hingga 26 Januari untuk menjaring…

13 jam ago

Jalan Berlubang di Pangkalankerinci Dikeluhkan, Pemkab Pelalawan Diminta Bertindak

Warga dan DPRD Pelalawan mendesak pemkab segera menambal jalan berlubang di Pangkalankerinci karena dinilai rawan…

13 jam ago

Bupati Siak Turun Tangan Atasi Kendala Gaji ASN

Pencairan gaji ASN di Kabupaten Siak terkendala administrasi dampak SOTK baru. Bupati Afni memastikan proses…

14 jam ago

Sampah Masih Menumpuk di Pekanbaru, Warga Diminta Ikut Mengawasi

Tumpukan sampah masih ditemukan di Pekanbaru, terutama di Jalan Soekarno Hatta. DLHK mengajak masyarakat ikut…

14 jam ago