Petugas haji menyantab hidangan bakso di Restoran Mang Oedin di wilayah Al Balad, Jeddah. HILMI SETIAWAN/JAWA POS).
JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Setelah sebelumnya berkeliling merasakan dinginnya suasana di Taif, kali ini giliran menjelajah Kota Jeddah. Di kota pelabuhan ini, banyak titik yang bisa dikunjungi. Mulai dari kota tua Historical Jeddah World Heritage sampai sejumlah pusat belanja.
Menyusuri kota tua Jeddah, suasananya benar-benar berbeda. Jalannya tersusun dari bebatuan. Bukan terbuat dari aspal seperti jalan pada umumnya. Meskipun begitu jalannya kuat dan bisa dilalui mobil.
Ada sejumlah bangunan bekas benteng yang langsung menghadap ke laut merah. Kemudian samping bangunan benteng itu, tampak rumah-rumah besar berdesain Eropa. Rumah-rumah itu masih kokoh namun tidak berpenghuni. Sementara di bagian dalam rumah penduduk yang dibangun bertingkat.
Ornamen khas Arab Saudi tempo dahulu begitu terasa. Mulai dari adanya balkon kayu di setiap jendelanya. Balkon tersebut tidak terlalu luas. Tetapi terlihat elegan karena warnanya kontras dengan cat dindingnya. Sehingga menimbulkan kesan meriah pada setiap bangunannya.
Kota tua itu langsung terhubung dengan komplek pertokoan yang dikenal dengan sebutan Bab Syarif. Di lokasi ini toko-toko terhampar luas. Menempati bangunan-bangunan yang menyerupai ruko. Bangunan yang digunakan juga berdesain Arab masa lalu.
Beraneka jenis barang yang dijual. Di antaranya adalah kacang-kacangan, parfum, sajadah, karpet, dan lain sebaginya. Saat berkunjung ke pasar Bab Syarif ada sejumlah tenaga kerja asal Indonesia yang juga berbelanja. Mereka mengaku suka berbelanja pada hari Jumat sore. Karena mereka leluasa keluar rumah.
Tidak jauh dari kota tua tersebut ada masjid besar yang dikenal dengan sebutan Masjid Qisas. Mustafa, driver petugas haji, menuturkan sesuai namanya kegiatan qisas juga dilakukan di tempat itu.
"Ada seperti gazebo di samping masjid. Di situ dilakukan qisas pada hari Jumat," tuturnya.
Setelah berkeliling sampai menjelang sore, waktunya mencari tempat makan. Di antara yang sering jadi rujukan jamaah haji adalah pertokoan di wilayah Al Balad. Salah satu warung yang terlihat ramai di kunjungi adalah Restourant Mang Oedin.
Ada beberapa jamaah haji khusus yang makan di tempat itu. Mereka menyempatkan diri mampir santap makanan khas Indonesia sebelum ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Di warung ini tersedia aneka makanan khas Indonesia.
Mulai dari bakso yang dipatok seharga 14 riyal atau sekitar Rp56 ribu. Kemudian juga ada gado-gado seharga 18 riyal (Rp72 ribu) dan semangkuk soto ayam dibandrol 22 riyal (Rp88 ribu). Di toko ini juga dijual pecel lele. Tetapi juru masak mengatakan pecel lelenya habis.
"Lelenya masih diternak," katanya lantas tertawa.
Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi
Polsek Kuantan Mudik menertibkan PETI di areal PT KTBM dan memusnahkan lima rakit tambang ilegal…
Pemkab Bengkalis mengusulkan lima lokasi pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dengan konsep pendidikan terpadu bertaraf internasional.
Wabup Rohul meninjau UPTD PAB Ujungbatu dan meminta PLN segera menstabilkan pasokan listrik demi layanan…
Pawai Waisak di Pekanbaru berlangsung meriah dengan 3.000 peserta dan 12 mobil hias meski sempat…
Polisi mengungkap kasus pembunuhan sopir truk Minyakita di Pekanbaru. Rekan kerja korban diduga menjadi otak…
PUPR Kuansing mulai memperbaiki Jalan Pasar Modern Telukkuantan yang rusak dan berlubang menjelang Iduladha.