Categories: Nasional

Saleh: Indonesia Pengekspor Vaksin Terbesar

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay sependapat dengan pernyataan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari yang menyarankan Indonesia memproduksi vaksin sendiri dalam menangani pandemik virus Corona (Covid-19).

Menurut Saleh, segala sesuatu yang akan dikonsumsi dan dipakai di Indonesia sebaiknya memakai produk lokal.

Tidak hanya vaksin dan obat-obatan, tetapi juga produk lain seperti makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain.

"Memakai produk dalam negeri diharapkan dapat menaikkan nilai-nilai kebangsaan dan meningkatkan ketahanan nasional," ucap legislator Partai Amanat Nasional (PAN) itu dalam keterangan yang diterima jpnn.com, Selasa (28/4).

Dalam hal pengadaan vaksin untuk mengatasi virus corona, katanya, jika para ahli Indonesia memang mampu, tentu sangat baik untuk segera memproduksi dan menelitinya sendiri.

Dengan begitu, Indonesia benar-benar mandiri dan bebas dari tekanan pihak lain dalam melindungi bangsa sendiri.

“Mungkin banyak orang tidak tahu bahwa Indonesia adalah negara terbesar pengekspor vaksin ke negara lain. Sejauh ini, ada 12 jenis vaksin yang diekspor ke 141 negara. Di antara 141 negara itu, ada 49 negara Islam yang mempercayai kehalalan vaksin Indonesia," ucap Saleh.

Wakil Ketua Fraksi PAN DPR ini menambahkan di dunia saat ini ada 100 industri vaksin.

Dari 100 Industri vaksin itu, hanya 30 yang diakui oleh WHO. "Dari 30 itu, Indonesia adalah salah satunya," tegas Saleh.

Maka dari itu, dia meyakini para ahli di negara ini mampu memproduksi vaksin sendiri.

Pemerintah juga diminta segera memberikan dorongan dan dukungan agar Indonesia bisa menjadi negara terdepan yang terbebas dari virus corona ini.

Saleh mengatakan, ada banyak alasan mengapa Indonesia harus memproduksi sendiri vaksin corona.

Selain demi ketahanan nasional, sampel virus yang diteliti juga akan lebih tepat dan cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Sebab, jika memakai vaksin dari negara lain, belum tentu cocok dengan kondisi alam negara kita.

"Soal vaksin ini memang harus hati-hati. Karena vaksin adalah benda luar yang disuntikkan ke dalam tubuh. Jika ada unsur yang berbahaya di dalamnya, bisa saja itu akan membawa dampak yang tidak ringan. Mungkin tidak langsung dirasakan, tetapi beberapa tahun atau setelah puluhan tahun berikutnya," ucap mantan Ketum PP Pemuda Muhammadiyah ini.(fat/jpnn)

Sumber: Jpnn.com
Editor: Erizal
 

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Agung Nugroho Wajibkan Seluruh Provider Ikut Bereskan Kabel FO Semrawut di Pekanbaru

Pemko Pekanbaru mewajibkan seluruh provider internet ikut menata kabel fiber optic ilegal. Penertiban dilakukan bertahap…

12 jam ago

Diduga Kompresor Mati Saat Menyelam, Pria di Sungai Indragiri Masih Hilang

Seorang penyelam di Inhil diduga tenggelam setelah kompresor udara mati saat evakuasi kapal. Tim gabungan…

12 jam ago

Lima Tahun Direstorasi, Mangrove Teluk Pambang Bengkalis Kini Jadi Sorotan Dunia

Restorasi mangrove Teluk Pambang di Bengkalis selama lima tahun membuahkan hasil. Kawasan kini pulih, menarik…

12 jam ago

Pemko Pekanbaru Tegaskan Komitmen Berantas LGBT, Satpol PP Diminta Perketat Pengawasan

Pemko Pekanbaru menyiapkan pembinaan, penyuluhan, dan penindakan untuk mencegah LGBT dengan melibatkan Satpol PP, mubalig,…

12 jam ago

UPTJJ Wilayah VI Tuntaskan Sejumlah Ruas Jalan Rusak di Rohul

Pemprov Riau mempercepat perbaikan jalan provinsi di Rokan Hulu. Sejumlah ruas telah kembali fungsional, sementara…

13 jam ago

Junaidi Resmi Jadi Tersangka OTT di Siak, Polisi Dalami Dugaan Kasus Kapal Gratis

Polres Siak menetapkan Kadishub Junaidi sebagai tersangka OTT terkait program kapal gratis. Penyidik masih mendalami…

14 jam ago