Categories: Nasional

Pantauan PTM Merujuk PeduliLindungi

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kemendikbudristek akan menghentikan sementara sistem pelaporan klaster Covid-19 dari tiap-tiap satuan pendidikan. Penyebabnya, banyak misinformasi data yang ditimbulkan. Selama masa pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM), Kemendikbudristek memang menerapkan sistem pelaporan dari sekolah. Tujuannya untuk memantau persebaran virus Covid-19 di setiap institusi pendidikan.

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri mengungkapkan, sebelumnya beredar data bahwa 2,8 persen sekolah menjadi klaster penularan Covid-19. Laporan itu, kata dia, menimbulkan beberapa miskonsepsi di masyarakat. Angka tersebut bukanlah jumlah sekolah yang menjadi klaster Covid-19, melainkan persentase satuan pendidikan yang melakukan pelaporan pada laman Ditjen Dikdasmen. Bahwa salah satu warganya, baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan, terinfeksi Covid-19.

Jumeri meluruskan bahwa jumlah itu tidak murni berasal dari laporan sekolah saat penerapan PTM seminggu terakhir. Itu merupakan akumulasi dari laporan sekolah sejak Juli sampai saat ini.

"Jadi, ini waktunya cukup panjang," ujarnya. Dia menerangkan, jika ada 2,8 persen warga sekolah yang terkena Covid-19, lebih dari 97 persen warga lainnya tidak tertular virus SARS CoV-2 itu.

Jumeri menambahkan, belum tentu penularan Covid-19 yang dilaporkan sekolah yang melaksanakan PTM terjadi di lingkungan mereka.

"Ada 46.500 satuan pendidikan yang mengisi pendataan kami. Satuan pendidikan tersebut termasuk yang sudah PTM maupun yang belum PTM," katanya.

Untuk itu, demi validitas data kegiatan PTM, Jumeri menyatakan sudah menghentikan sementara sistem pelaporan sekolah. Pihaknya akan merujuk pada aplikasi PeduliLindungi untuk memantau PTM di tiap-tiap sekolah. "Ini akan menjadi aplikasi tunggal yang bisa digunakan Kemendikbud(ristek), Kemenkes, dan lembaga lainnya," kata dia.

Terpisah, Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta dinas pendidikan setiap pemda segera menindaklanjuti dugaan temuan klaster Covid-19 yang terjadi akibat pelaksanaan PTM. Dinas terkait juga didorong mengevaluasi penyebab terbentuknya klaster tersebut.

"Sehingga dapat diketahui apakah klaster itu benar-benar terjadi akibat PTM atau merupakan penyebaran dari tempat lain," jelasnya.

Selain itu, Bamsoet (sapaan Bambang Soesatyo) meminta Kemendikbudristek memperbanyak dan mengakselerasi pemberian vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak usia 12–17 tahun. Hal tersebut dimaksudkan untuk penguatan proteksi mereka ketika harus melakukan kegiatan PTM, yang mengharuskan adanya interaksi langsung secara tatap muka dengan teman-teman maupun dengan gurunya.(tau/c9/bay/jpg)

 

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

HSBL 2026 Pekanbaru Segera Bergulir, 46 Tim Siap Adu Kemampuan

HSBL 2026 Pekanbaru diikuti 46 tim dan menghadirkan kategori Junior khusus pelajar SMP atau sederajat…

1 jam ago

PSPS Pekanbaru Tantang PSIS di Laga Pembuka Championship 2026/2027

PSPS Pekanbaru menghadapi PSIS Semarang di laga pembuka Championship 2026/2027. Askar Bertuah menargetkan poin dari…

4 jam ago

Jembatan Siak I Akan Dipelihara, Arus Kendaraan Dialihkan ke Siak III

Pemprov Riau akan memelihara Jembatan Siak I dan Siak III pada pekan ketiga September dengan…

4 jam ago

Pasokan BBM di Riau Naik 27 Persen, Pertamina Respons Lonjakan Kebutuhan

Pertamina Patra Niaga menaikkan pasokan BBM JBT di Riau hingga 27 persen seiring meningkatnya kebutuhan…

4 jam ago

Komjak RI Cek Kejari Pekanbaru, Seluruh Pengaduan Masyarakat Disebut Sudah Ditindaklanjuti

Komjak RI mengunjungi Kejari Pekanbaru untuk mengecek pengaduan masyarakat dan sarana prasarana serta mengingatkan pentingnya…

4 jam ago

Viral Video MBG di SDN 015 Tambusai Utara, Pihak Sekolah Tegaskan Tak Pernah Menolak

Video pembagian MBG di SDN 015 Tambusai Utara viral dan memunculkan anggapan penolakan. Sekolah menegaskan…

7 jam ago