Categories: Nasional

NJOP Naik Sebabkan Tarif PBB Berubah

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Terhitung sejak 1 Januari 2019 lalu terjadi kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP) satu tingkat di Kota Pekanbaru. Kenaikan NJOP ini menyebabkan terjadi perubahan pada tarif pajak bumi dan bangunan (PBB).

Penjelasan ini disampaikan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekan­baru Zulhelmi Arifin SSTP MSi, Rabu (24/7) menjawab pertanyaan masyarakat terkait kenaikan tarif PBB di Pekanbaru. ‘’Ini karena NJOP naik terjadi perubahan tarif PBB. Juga disebabkan penghapusan diskon yang telah diberlakukan sejak 2014 lalu,’’ kata dia. 

Perubahan tarif PBB, sebut pria yang akrab disapa Ami ini, juga sesuai Peraturan Wali Kota Pekanbaru Nomor 165/2018 tentang perubahan ke empat atas Perwako nomor 138 tahun 2014 tentang pemberian pengurangan PBB pedesaan dan perkotaan (PB2) terutang di wilayah Pekanbaru. ‘’Jadi itu dasar kita melakukan perubahan tarif pajak bumi dan bangunan tahun ini,’’ imbuhnya. 

Dia memastikan, perubahan tarif PBB tidak meningkat signifikan dan sama sekali tidak merugikan wajib pajak. ‘’Karena pada dasarnya besaran tarif PBB tersebut masih berkisar di angka tarif pada tahun-tahun sebelumnya,’’ singkatnya. 

Sebelumnya diberitakan, kebijakan penghapusan denda PBB yang sebelumnya berakhir Selasa (23/7) lalu akan diperpanjang. Perpanjangan akan berlaku hingga jatuh tempo pembayaran PBB 31 Agustus nanti.

Kebijakan penghapusan denda pajak yang berakhir Selasa kemarin diambil Wali Kota (Wako) Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT bertepatan dengan Hari Jadi Ke-235 Pekanbaru. Kini penerapan penghapusan yang akan diterapkan Hingga 31 Agustus nanti bertepatan dengan Hari Jadi Provinsi Riau dan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.

Respon masyarakat terhadap kebijakan penghapusan pajak ini sangat baik. Ini terbukti dari penerimaan pembayaran PBB yang didapat mencapai lebih dari Rp1 miliar tiap hari.

Di bawah kewenangan Bapenda ada 11 jenis pajak daerah yang ditangani. Yakni pajak hotel, restoran, hiburan, reklame, restoran, parkir, air bawah tanah, mineral bukan logam dan batuan, pajak penerangan jalan, PBB-P2, dan BPHTB sesuai UU No 28/2009 tentang  Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Dari seluruh pajak ini, tiga di antaranya PBB, air tanah, serta reklame merupakan jenis pajak official, yakni ditetapkan oleh Bapenda besaran jumlahnya. Ketiganya mengalami kenaikan yang cukup menggembirakan. Untuk PBB 87 persen, reklame 49,7 persen dan air tanah 142 persen. 

Jika dirinci, sejak awal Januari hingga 23 Juli kemarin, Bapenda sudah menghimpun PBB Rp43,3 miliar, BPHTB Rp69,5 miliar, PPJ 61,6 miliar, hotel Rp22, 2 miliar, Restoran Rp66,7 miliar, hiburan Rp12,5 miliar, reklame Rp19,07 miliar, air tanah Rp1,8 miliar, dan parkir Rp11,8 miliar.(ali)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Investasi Rp300 Miliar Masuk Siak, Ratusan Warga Siap Direkrut

Galangan kapal PT MNS di Siak mulai dibangun dengan investasi Rp300 miliar dan diperkirakan menyerap…

1 menit ago

438 CJH Pekanbaru Siap Berangkat, Wako Agung Bakal Lepas Kloter Perdana Jemaah Haji

Sebanyak 438 CJH Pekanbaru diberangkatkan 23 April 2026. Wako Agung Nugroho lepas langsung, jemaah lebih…

2 jam ago

Tragis! Minibus Seruduk Truk Mogok di Tol Permai, Sopir Tewas di Tempat

Kecelakaan di Tol Permai libatkan minibus dan truk mogok, satu tewas dan tiga luka berat.…

12 jam ago

4 Bulan Tak Digaji, Guru Bantu Kampar Mengadu ke DPRD

Puluhan guru bantu di Kampar belum menerima honor selama 4 bulan. DPRD dorong solusi cepat…

14 jam ago

Warga Aktif Lapor Sampah Ilegal, Pemko Pekanbaru Beri Apresiasi Khusus

Pemko Pekanbaru beri penghargaan kepada warga Binawidya yang melaporkan lokasi sampah ilegal, dorong partisipasi publik…

14 jam ago

Dibangun Rp42 Miliar, RS Pratama Penyagun Masih Sepi Tanpa Aktivitas

RS Pratama Penyagun di Meranti belum beroperasi meski sudah dibangun Rp42 miliar. Kendala izin dan…

15 jam ago