Categories: Nasional

Update Google Chrome Palsu Incar Data Pribadi dan Akun Bank

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Bisnis di seluruh dunia menjadi target penipuan siber baru yang menyamar sebagai laman unduhan pembaruan Google Chrome. Waspada karena itu adalah pembaruan palsu. Di belakangnya ada sekelompok penjahat siber yang mengincar data-data penting pengguna internet sampai ke akun bank.

Hal ini ditemukan oleh para peneliti di Proofpoint. Dilansir dari TechRadar, Kamis (23/7), para peneliti mengidentifikasi organisasi penargetan kampanye malware di Kanada, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat. Praktiknya dengan ribuan pesan yang dikirim ke seluruh dunia hanya dalam beberapa pekan.

Pesan-pesan itu memberi tahu para korban bahwa mereka perlu meningkatkan versi Google Chrome atau browser Internet Explorer terbaru. Namun seperti sudah disinggung di atas, itu palsu dan sebenarnya menyertakan tautan ke situs web yang justru mengandung malware.

Proofpoint mengidentifikasi kampanye sebagai karya aktor ancaman produktif TA569, juga dikenal sebagai SocGholish. Sebab pesan yang terkandung di dalamnya termasuk tautan situs web yang dikompromikan dengan inject ke HTML SocGholish.

Inject ini dapat menganalisis geolokasi, sistem operasi, dan peramban yang digunakan oleh penerima. Dan, jika dianggap sebagai korban yang sesuai, mereka akan meyakinkan target untuk mengklik tautan di pesan email. Namun, alih-alih pembaruan Google Chrome yang dijanjikan, mengklik tautan ini mengunduh salah satu dari beberapa muatan berbahaya.

Analisis Proofpoint menemukan Trojan perbankan (Chthonic) yang merupakan varian dari Trojan perbankan Zeus yang terkenal buruk, serta perangkat lunak kendali jarak jauh (NetSupport) yang dapat memberikan akses jarak jauh bagi peretas ke sistem yang dikompromikan.

Serangan itu menargetkan sejumlah bisnis besar di berbagai vertikal, termasuk pendidikan, pemerintah negara bagian, manufaktur, dan banyak yang lainnya.

"Meski teknik ini bukan hal baru, masih efektif karena mengeksploitasi keinginan penerima yang dituju untuk mempraktikkan kebersihan keamanan yang baik," tulis Proofpoint dalam posting blog yang menguraikan temuannya.

"Menjaga perangkat lunak diperbarui adalah saran umum keamanan, dan aktor ini menggunakannya untuk keuntungan mereka. Kampanye ini menggambarkan bahwa taktik malware dan aktor ancaman tidak harus menjadi virus untuk menemukan kesuksesan, bahkan dalam lanskap ancaman yang berubah dengan cepat saat ini," tegas para peneliti.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

56 ASN Rohul Berangkat Haji, Bupati Ingatkan Fisik dan Etika

Bupati Rohul melepas 56 JCH Korpri menuju Tanah Suci. Jemaah diingatkan menjaga kesehatan, sikap, dan…

21 jam ago

Pickup Bertanki Modifikasi Dipakai Timbun Solar, Dua Pelaku Dibekuk

Polres Siak menangkap dua pelaku penyalahgunaan biosolar subsidi dengan modus mobil tangki modifikasi dan barcode…

1 hari ago

252 Kuota Diperebutkan, SKO Riau Saring Atlet Muda Lewat Tes Ketat

Sebanyak 422 calon siswa berebut 252 kursi di SKO Riau. Seleksi ketat digelar untuk menjaring…

1 hari ago

Tanpa Dokumen Resmi, Puluhan Ton Bawang dan Cabai Dimusnahkan di Tembilahan

Sebanyak 48,39 ton komoditas pangan ilegal dimusnahkan di Inhil. Barang tanpa dokumen ini dinilai berbahaya…

1 hari ago

Bandel Jualan di Trotoar, PKL HR Soebrantas Jadi Target Utama Penertiban

Pemko Pekanbaru prioritaskan penertiban PKL di Jalan HR Soebrantas dengan pendekatan humanis demi menjaga ketertiban…

1 hari ago

PCX Ngasab Seru di Pekanbaru, Bikers Diajak Jajal Fitur Canggih Honda PCX 160 Roadsync

Honda PCX Ngasab di Pekanbaru hadirkan pengalaman touring seru sambil memperkenalkan fitur canggih Roadsync kepada…

1 hari ago