Categories: Nasional

Tegar, Meski Cobaan Silih Berganti

Novriyanti bisa dikatakan sosok wanita yang tegar. Cobaan hidupnya silih berganti datang. Mulai dari ayah meninggal, suami di-PHK, sampai kakinya harus diamputasi karena penyakit diabetes.

(RIAUPOS.CO) – Wanita yang biasa disapa Yanti ini mengaku tak menyangka dirinya mengidap penyakit diabetes. Ia baru mengetahui saat harus dirawat di rumah sakit.

Saat itu, ia membersihkan kamar mandi yang tanpa sengaja bagian tubuhnya terkena keramik. Darah keluar dan tak berhenti. Ia pun diperiksalah ke RSUD Arifin Ahmad. Gratis pakai BPJS Kesehatan.

Dari situlah, diketahui bahwa dirinya terkena diabetes. Luka itu menyebar dan membuat jari di bagian kaki kanannya membusuk. Sampai akhirnya diagnosa dokter bagian tulangnya pun telah digerogoti sehingga harus diamputasi. Hal itu membuatnya kaget.

“Siapa yang tidak kaget mendengar itu. Kehidupan yang dijalani harus berubah. Untunglah suami serta mertua maupun orang tua tetap menyemangati saya,” ucapnya, akhir pekan lalu.

Waktu itu saat dirinya akan diamputasi, para dokter ada yang bilang di bawah betis, sampai betis ada juga yang bilang sampai lutut. Untuk menyiasati itu, kaki saya di perban sebab membengkak. Sampai akhirnya hasil akhir harus diamputasi sampai betis.

“Dokter maupun perawat tidak menyangka saat saya menyanggupi untuk diamputasi. Katanya kepada saya, ibu kok tegar sekali,” begitu jelasnya.

Begitu menyanggupi diamputasi, ia pun harus menunggu hingga satu malam. Tiba di malam hari, ia mendapat kabar bahwa hb dan kadar gulanya naik. Artinya harus menunggu selama satu pekan.

“Di ruang operasi itu saya dibius setengah badan. Yaitu dari bagian pinggu sampai kaki. Sementara bagian atasnya tidak. Saya pun mendengar dokter bilang gunting dan lainnya. Serta saya melihat dan mendengar kaki saya digorok,” terangnya.

Masa perawatannya berlangsung selama satu bulan di RSUD Arifin Ahmad. Suami tercintanyalah yang setia merawatnya. “Begitu mengetahui kaki saya diamputasi, anak saya tidak mau mendekat. Lalu saya bilang ke Alif, nak bunda kangen loh, boleh cium bunda. Barulah dia mau,” urainya.

Semenjak kakinya diamputasi, banyak orang yang membantunya baik memberi sumbangan berupa sembako maupun uang. Tak luput artis Ruben Onsu pun pernah datang ke rumahnya serta memberi bantuan uang untuk modal usahanya.

“Bantuan itu saya jadikan usaha kecil-kecilan dengan membuat kedai di rumah. Namun, karena di daerah sekitar kontrakan mulai sepi dan tinggal tiga orang yang menempati, jadinya sekarang sudah tidak jualan di kedai,” paparnya.

Kini ia membuat usaha keripik dan buat piring dari rotan. Bahannya dibeli dari Bekasi. “Dulu waktu saya mau melahirkan Alif, suami saya izin ke perusahaannya. Kata orang perusahaan tidak boleh pergi dan disuruh memilih, mengundurkan diri atau dipecat. Suami lebih memilih mendampingi saya untuk lahiran. Sehingga mengundurkan diri,” ujarnya.

Lalu setelah melahirkan, sang suami mencoba mencari kerja. Dapatlah bantuan dari sang ayah untuk bekerja di mana ayahnya bekerja pada Desember 2013 lalu. “Karena ayah saya meninggal, jadi pas Januari 2014, suami saya di PHK,” jelasnya.

Novriyanti percaya, cobaan demi cobaan yang menghampirinya akan selalu ada hikmahnya. “Jangan disesali apalagi sampai putus asa. Tetap berjuang dan berusaha serta semangat menjalani hidup. Kalau disesali dan putus asa, tidak akan pernah maju dalam hidup ini,” begitulah kalimat yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya.

Suatu ketika dirinya pernah mendapat bantuan kaki palsu gratis. Membuat dirinya semangat karena bisa berdiri lagi. Takdir berkehendak lain. Begitu dirinya mendapat dan mengenakan kaki palsu tersebut, ia terjatuh. Sehingga menimpa kaki kirinya.

“Kaki kiri bagian lutut saya sudah pernah dioperasi karena tulang bagian dalamnya sakit. Jadi ketika kaki palsu itu menimpa kaki kiri membuatnya bengkak. Sehingga harus dioperasi lagi. Itulah kuasa Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Sehingga saya ber-istigfar ketika pikiran saya melampaui batas,” tuturnya.

Yanti ingin membahagiakan ibunya dan anaknya. “Ibu saya stroke dan ia tinggal di kampung. Kemudian anak saya benar-benar harus dijaga, karena dia kan keturunan saya. Makan selalu dijaga, bahkan kalau minum selalu pesan yang tawar. Dia sudah terbiasa makan dan minum yang tidak berasa,” ujarnya.***

Laporan SOFIAH, Pekanbaru

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

APBD Rohul 2025 Terserap 92,87 Persen, Pemkab Kembali Raih WTP ke-10 Berturut-turut

Pemkab Rohul mencatat realisasi APBD 2025 sebesar Rp1,9 triliun atau 92,87 persen dan kembali meraih…

8 jam ago

Dari Semak Belukar Jadi Kebun Herbal, Mahasiswa FK Unri Hadirkan Program Lentera TOGA

Mahasiswa FK Unri mengubah lahan kosong di Teluk Makmur, Dumai, menjadi kebun TOGA produktif untuk…

8 jam ago

Tak Lolos SMAN/SMKN? Disdik Riau Siapkan 2.179 Kursi Gratis Lewat Jalur BOSDA Afirmasi

Disdik Riau mengumumkan 70.616 peserta lulus SPMB 2026. Bagi yang belum diterima, tersedia 2.179 kursi…

8 jam ago

Pemko Pekanbaru Kejar Target, Perbaikan Jalan Rusak Tahun Ini Ditargetkan Tembus Lebih dari 42 Km

Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 km pada 2026, disertai pembangunan drainase…

8 jam ago

Buron 3 Tahun, DPO Kasus 15 Kg Sabu di Bengkalis Akhirnya Ditangkap Polisi

Buron 3 tahun kasus 15 kg sabu di Bengkalis berinisial A (48) akhirnya ditangkap Polres…

12 jam ago

Idris Resmi Dilantik Jadi Anggota PAW DPRD Kampar, Gantikan Irwan Saputra

DPRD Kampar melantik Idris sebagai anggota PAW Fraksi PAN untuk sisa masa jabatan 2024–2029 dalam…

13 jam ago