Categories: Nasional

Tak Ada yang Kebal dari Covid-19

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Isu Herd Immunity atau kekebalan kawanan kembali diperbincangkan. Dalam konsep itu, semakin banyaknya lonjakan kasus harian, akan bisa membuat masyarakat kebal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan negara-negara mengeluarkan apa yang disebut sertifikat kekebalan untuk virus corona. Sebab para ilmuwan masih tidak yakin apakah antibodi Covid-19 mengurangi risiko infeksi ulang.

Artinya tak ada satupun orang bisa kebal dari Covid-19. Tidak ada jaminan pula orang yang sudah terinfeksi, tak terinfeksi lagi. Mereka bisa kembali terinfeksi Covid-19 dan sudah terjadi di beberapa negara.

"Kami tidak memiliki informasi itu. Oleh karena itu, bisa saja seseorang kemudian mengalami infeksi baru karena kekebalan hanya dapat bertahan beberapa bulan, kami tidak merekomendasikan itu (sertifikat kebal Covid-19)," kata Asisten Direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika WHO, Dr Jarbas Barbosa seperti dilansir dari CNBC, Kamis (17/9).

Antibodi umumnya diproduksi sebagai respons terhadap partikel asing atau antigen yang menyerang tubuh dan membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi. Ahli kesehatan mengatakan belum ada cukup data untuk menunjukkan bahwa antibodi virus corona memastikan kekebalan terhadap virus.

Sebuah studi kecil yang diterbitkan di Nature Medicine pada Juni menunjukkan, antibodi virus corona hanya dapat bertahan dua hingga tiga bulan setelah seseorang terinfeksi virus. Para peneliti di Distrik Wanzhou, Cina membandingkan respons antibodi dari 37 orang tanpa gejala dengan pasien yang bergejala. Mereka menemukan bahwa orang tanpa gejala memiliki respons antibodi yang lebih lemah daripada mereka yang memiliki gejala.

Pada  Juni, Pakar Penyakit Menular AS Dr Anthony Fauci, mengatakan jika Covid-19 bertindak seperti virus corona lainnya, kemungkinan durasi kekebalannya tidak akan lama. "Jika Anda melihat sejarah virus corona, umum yang menyebabkan flu biasa, laporan dalam literatur menyebutkan bahwa daya tahan kekebalan yang melindungi berkisar dari 3 hingga 6 bulan hingga hampir selalu kurang dari setahun," katanya kepada JAMA Editor Howard Bauchner.

"Tak bisa menjamin perlindungan yang lama," kata dr Fauci.

Durasi kekebalan memiliki implikasi penting untuk pengembangan vaksin. Bahkan jika seseorang kehilangan kekebalan setelah jangka waktu tertentu. Jika para ilmuwan menemukan berapa lama kekebalan bertahan, mereka mungkin dapat merekomendasikan kapan seseorang mungkin membutuhkan dosis vaksin lain.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

2 hari ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

2 hari ago

Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Kampar Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare

Polsek Tambang menetapkan NU sebagai tersangka karhutla 15 hektare di Rimbo Panjang setelah penyidik menemukan…

2 hari ago

Pengendara Wajib Tahu! Akses Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Resmi Berubah

Akses masuk Tol Pekanbaru-Dumai dialihkan ke Pintu Tol Bypass Pekanbaru mulai 28 Agustus 2026 karena…

2 hari ago

Bukan Sekadar Lomba, Pacu Sampan 17 Agustus di Sungai Apit Punya Cerita Sendiri

Pacu sampan Sungai Apit menjadi tradisi kemerdekaan yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, dan terus dijaga…

3 hari ago

Pemerintah Buka Peluang PPPK Guru Jadi ASN, Rohil Masih Tunggu Regulasi

Peluang PPPK guru menjadi ASN mendapat respons BKPSDM Rohil. Pemkab masih menunggu regulasi resmi sebelum…

3 hari ago