Categories: Nasional

Perlu Upaya Keras untuk Jadi Negara Maju

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Indonesia saat ini berupaya untuk kelar dari jebakan kelas menengah atau middle income trap. Untuk menaikan status menjadi negara maju perlu upaya keras dari berbagai pihak.

Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Azis menyebut, setidaknya terdapat beberapa tantangan Indonesia untuk keluar dari jebakan kelas menengah. Mulai dari penyediaan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), supremasi hukum hingga masih banyaknya perilaku tindakan korupsi.

"Ada empat masalah di situ yang selalu menjadi perhatian," ujarnya dalam acara diskusi virtual, Kamis (17/6).

Harry memaparkan, permasalahan yang dihadapi Indonesia diantaranya, infrastruktur yang masih kurang memadai dan produktivitas SDM yang masih rendah. Menurutnya, pemeriksaan pada semester II 2021 untuk wilayah BPK VI nantinya, memfokuskan program pemerintah untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

"Ini sesuai prioritas nasional pemerintah. Nanti kami lihat akhir tahun, apakah betul SDM sudah meningkat dan mampu mengatasi problem jebakan kelas menengah," paparnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, adanya supremasi hukum yang belum tegas sepenuhnya dan perilaku korupsi yang masih merajalela. "Ada perilaku tindakan korupsi di sana sini," ucapnya.

Berdasarkan laporan pemeriksaan BPK terkait kegiatan rasionalisasi anggaran, terdapat beberapa temuan pemerintah daerah (Pemda) yang belum melaksanakan rasionalisasi pendapatan daerah dari pagu penyesuaian target pendapatan dan belum melaksanakan rasionalisasi belanja daerah minimal 35 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Pemeriksa Keuangan Negara V BPK Bahrullah Akbar menyebut, Pemda masih melaksanakan refocusing dan realokasi tanpa ketersediaan dana hasil rasionalisasi. "Pemda menganggarkan dana refocusing dan realokasi selain untuk penanganan Covid-19," tuturnya.

Ia melanjutkan, terkait kewajiban penanganan dampak ekonomi, ditemukan permasalahan bahwa pemda tidak merencanakan kegiatan penanganan dampak ekonomi dan belum merealisasikan berbagai kegiatan meskipun sudah direncanakan. Bahkan, perencanaan kegiatan yang ada juga disebut tidak didukung dengan hasil kajian verifikasi di lapangan.

Selanjutnya, terkait dengan penyaluran stimulus dan bantuan sosial, ditemukan bahwa pemda tidak menyusun rencana kegiatan belanja stimulus UMKM, hingga menyalurkan stimulus tidak tepat sasaran.

"Pemda sudah anggarkan rencana belanja stimulus UMKM namun tidak memiliki prosedur pemberian yang memadai, pemda tidak menyalurkan stimulus atau tidak tepat sasaran," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

PETI di Kampar Kiri Digerebek, Satu Operator Ekskavator Diamankan Polisi

Polisi membongkar aktivitas PETI di Kampar Kiri Hulu dan mengamankan operator ekskavator. Sejumlah peralatan tambang…

4 jam ago

Warga Rambah Sempat Krisis Air Bersih, Ternyata Kabel Pompa Dicuri

Warga Rambah sempat kesulitan air bersih setelah kabel pompa distribusi di Desa Pawan dicuri. Aliran…

4 jam ago

Dosen Unilak Bekali Siswa SMKN 1 Kandis Jurus Branding Digital dan Hitung Harga Jual

Dosen Unilak membekali siswa SMKN 1 Kandis dengan kemampuan digital branding dan menghitung HPP untuk…

1 hari ago

Air Sungai Singingi Kembali Keruh, PETI Diduga Jadi Penyebab

Air Sungai Singingi kembali keruh setelah PETI diduga beraksi. Warga meminta aparat meningkatkan razia demi…

1 hari ago

Tempuh 192 Km Selama 22 Jam, Goweser Paliko Siap Meriahkan Gowes Merdeka 2026

Tempuh 192 km selama 22 jam, tiga Goweser Paliko dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota hadir…

1 hari ago

Gowes Merdeka 2026 Dimulai, 1.500 Peserta Taklukkan Rute 17 Km di Pekanbaru

Sebanyak 1.500 peserta meramaikan Gowes Merdeka 2026 di Pekanbaru dengan menempuh rute 17 kilometer hingga…

1 hari ago