Categories: Nasional

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Program Food Estate di Kalteng

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Program Ketahanan Pangan Nasional yang "diserahkan" kepada Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, mendapat kritik dari berbagai pihak. Salah satunya dari Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan. Dia meminta pemerintah melakukan kalkulasi ulang soal itu.

Syarief Hasan mendorong pemerintah untuk membuat kalkulasi dan pertimbangan matang terkait rencana pelaksanaan Program Food Estate di Kalimantan Tengah. Pasalnya, proyek ketahanan dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah beberapa kali melaksanakan program itu tetapi hasilnya nihil.

Apalagi, kata politikus Demokrat itu, pemerintah telah memastikan bahwa Program Food Estate akan dilaksanakan di eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG), Kalimantan Tengah. Lahan ini pernah dikembangkan di masa pemerintahan Soeharto akan tetapi gagal. Menurutnya, eks PLG ini hanya menyisakan kerusakan lingkungan dan kerugian negara.

“Dulunya, di eks PLG Kalimantan Tengah tersebut dilakukan pembukaan lahan sebanyak satu juta hektare. Lahan ini dibuka dengan mengubah lahan gambut dan rawa menjadi sawah yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Pemerintah harus belajar dari kejadian masa lalu agar tidak terulang kembali,” ungkap Syarief.

“Pemerintah harus melakukan kajian mendalam dan berkoordinasi dengan pakar dan akademisi di bidang pertanian dan ketahanan pangan. Sehingga tidak terjadi kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada Food Estate dan percetakan 1,2 juta ha sawah di Merauke,” ungkapnya.

Anggota Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan ini juga mempertanyakan langkah Pemerintah menunjuk Kementerian Pertahanan sebagai leading sector Program Food Estate tersebut bukan tupoksi-nya Kementerian Pertahanan.

“Kementerian Pertahanan memiliki tugas berat untuk memperkuat pertahanan negara. Apalagi, akhir-akhir ini, perseteruan antara Amerika Serikat dan Cina makin memanas di Laut Cina Selatan yang beririsan dengan Laut Natuna Utara,” tuturnya

Syarief juga berpandangan, Kementerian Pertahanan seharusnya fokus juga dalam mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. Menurutnya, Kementerian Pertanianlah yang seharusnya menjadi leading sector. Sebab, Kementan adalah lembaga yang paling dekat dengan program ketahanan pangan.

“Bekerja sama dan koordinasi memang sah-sah saja, akan tetapi pemerintah harus menempatkan kelembagaan sesuai tugas utamanya. Namun bila pemerintah tetap menetapkan Kemenhan sebagai leading sector-nya, maka kebijakan ini juga berpotensi melanggar UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,” tutup Syarief Hasan.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Fajar Fikri Juara Denmark Open 2026 Usai Libas Aaron Soh

Ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sukses menjuarai Denmark Open 2026 usai mengalahkan pasangan…

6 jam ago

Bawa Lari 12 Ekor Sapi Kurban senilai Rp195 Juta, “Adi Black” Ditangkap Polsek Rumbai

Polsek Rumbai menangkap seorang pria berinisial SK alias Adi Black akibat mengelapkan 12 ekor sapi…

6 jam ago

Marak Pasangan Mesum di Penginapan, Anggota DPRD Pekanbaru Minta Pemko Cek Izin THM dan Hotel

Anggota DPRD Pekanbaru Muhammad Sabarudi meminta Pemko Pekanbaru tidak sekadar menggelar razia pekat, tetapi juga…

6 jam ago

Sempat Kirim Pesan Pamit, Perempuan Muda di Meranti Ditemukan Meninggal di Perairan Tanjung Kedabu

Suleha Rindiyani (22), warga Desa Tanjung Kedabu, Kepulauan Meranti, ditemukan meninggal dunia di perairan setempat…

6 jam ago

Rektor Prof Sri Indarti Kukuhkan Lima Guru Besar Universitas Riau dari Berbagai Keilmuan

Universitas Riau resmi mengukuhkan lima guru besar baru dari berbagai disiplin ilmu, meningkatkan jumlah total…

7 jam ago

Dishub Pekanbaru Jaring 47 Truk Tonase Besar Pelanggar Lalu Lintas

Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru bersama tim gabungan menjaring 47 truk tonase besar yang melanggar aturan…

7 jam ago