Pertamina bersama jajaran pengurua Hiswana Migas Riau dan Depot Sei Siak foto bersama. (Istimewa) PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Beberapa waktu terakhir antrean panjang lajur pengisian BBM jenis biosolar menjadi pemandangan yang awam terlihat di beberapa SPBU di Pekanbaru dan sekitarnya. Konsumen rela antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut. Menanggapi hal itu, Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi di Riau khususnya Kota Pekanbaru. Pertama, adanya pengingkatan kebutuhan. Kedua adanya disparitas harga antara BBM subsidi (biosolar) dengan BBM Non Subsidi (Dexlite). "Ini menyebabkan terjadinya migrasi. Yang tadinya pengguna jenis BBM non subsidi berlaih menjadi pengguna BBM subsidi," ungkapnya saat konferensi pers, Senin (27/7/2026). Baca Juga: Polres Bengkalis Musnahkan 8,2 Kg Sabu dan 5.005 Butir Pil Ekstasi Ketiga, kata Wilson, di daerah Sumatera Barat saat ini tengah terjadi perbaikan jalan. Sehingga mobil angkutan barang, logistik ataupun penumpang dari maupun ke Pekanbaru, saat ini memilih melakukan pengisian BBM di wilayah Riau. Sehingga mereka mengisi full di Pekanbaru sebelum kembali ataupun menuju lokasi tujuan. "Ini yang menyebabkan terjadi peningkatan. Kami bersama regulator sama-sama menyaksikan menanyakan kepada supir-supir yang mengantre BBM tersebut," paparnya. Menindak lanjuti hal tersebut, Wilson menjelaskan bahwa Pertamina sudah berbagai upaya. Di antaranya ialah melakukan peningkatan suplai yang cukup besar untuk solar di Riau. "Bisa dilihat bahwa tren dari bulan April sampai hari ini ada peningkatan penyaluran kurang lebih hingga 20 persen," lanjutnya. Baca Juga: Investasi Triwulan II di Riau Serap 10 Ribu Lebih Tenaga Kerja Ia juga menjelaskan kuota solar di Riau untuk tahun 2026 per TW 3, ada penambahan dari regulator sekitar 10.000 kiloliter (kl). ''Boleh dibilang untuk bulan Juli ini, bisa kami proyeksikan hampir 100.000 kl per bulan. Ini adalah angka yang sudah sangat besar dibanding sebelumnya yang masih 90,000an kl. Berarti ini menunjukkan ada peningkatan kebutuhan yang besar di masyarakat," terangnya lagi. Berbicara soal kuota sendiri, ia mengatakan awalnya kuota di Riau ialah 1,053,000 kl. Untuk saat ini, karena terjadi penambahan, kuota menjadi 1,063,000 kl. "Kalau dibilang kurang, tapi angkanya sudah mencapai 1 miliar liter pertahun," ungkapnya. Selain penguatan stok, upaya lain yang dilakukan Pertamina ialah meminta SPBU untuk melakukan penambahan waktu layanan atau penambahan jam operasional hingga penambahan jalur untuk dapat melayani masyarakat lebih cepat. Baca Juga: Pengedar Narkoba di Sukajadi Diciduk, 24,23 Gram Sabu Disita "Kami mengimbau masyarakat tetap tenang. Karena kami terus melakukan penguatan stok di SPBU. Khususnya solar. Kami tidak hanya berfokus di daerah kota, tapi sampai ke kepulauan. Kami memastikan kapal pengangkut BBM ke Bengkalis, Rupat, Meranti dan lainnya bisa sampai lebih cepat dengan kondisi armada angkut yang sehat," paparnya. Pihaknya mengaku terus melakukan pembenahan, termasuk monitoring dan evaluasi harian agar bisa melakukan penyaluran BBM lebih cepat Hal senada diungkap oleh Fuel Terminal Manager Sei Siak, Yokky Firza Sukma Hendra. Pihaknya memastikan stok solar saat ini dalam kondisi sangat aman. Baca Juga: Banggar DPRD Rohil Skors Rapat, Kehadiran Sekwan dan Kuorum Jadi Sorotan "Kapasitas solar kita ada di angka 8 hari. Kapal-kapal sudah disiapkan sebagai buffer stock apabila ada permintaan berlebih. Bahkan, saat stok masih penuh pun kapal sudah datang," ungkapnya. Pihaknya juga melakukan percepatan penyaluran ke SPBU dengan penambahan mobil tanki, jam operasional lebih awal sampai dengan mengoperasikan depot di luar waktu regularnya. "Beberapa minggu lalu bahkan kami hampir beroperasi 24 jam untuk memenuhi kebutuhan yang cukup tinggi," terangnya. Baca Juga: Perkuat Tata Kelola Pengadaan, Kemenkum Riau Ikuti SENI PBJ Batch 4 Skenario pemanfaatan golden time (waktu jalanan sepi) juga dilakukan agar BBM bisa sampai lebih cepat. "Artinya kita memajukan jam operasional ke waktu prime time," sambungnya. Di sisi lain, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) melalui Ketua DPC Hiswana Migas Riau Tuah Laksamana mengatakan bahwa SPBU siap melayani mobilitasi masyarakat Provinsi Riau. "Kami pada prinsipnya menjalani SOP yang telah diatur oleh Pertamina. Dalam menjalankan regulasi biosolar di SPBU ada aturan. Setiap pembelian biosolar menggunakan barcode. Itu dilakukan supaya subsidi tepat sasaran dan itu sudah berjalan," pungkasnya. Baca Juga: Akses Jalan ke Wisata Desa Gema Kampar Dibenahi, Perusahaan dan Masyarakat Bergotong Royong Pihaknya juga melayani permintaan dari daerah pesisir seperti kebutuhan nelayan sesuai dengan aturan. Terkait permintaan Pertamina untuk penambahan jam operasional pun sudah direalisasikam oleh SPBU. "Untu penambahan jam operasional, SPBU di jalan lintas melayani 24 jam dan SPBU di kota ada penambahan waktu distribusi sampai jam 00.00 tergantung situasi tempat. Rata-rata menambah jam untuk melayani masyarakat," paparnya. SPBU juga berupaya menambah dispenser. "Biasa 2 jadi 4. Ini cara kami mengurai antrean," katanya lagi. Baca Juga: Ditjenpas Riau Sebut Tiga Pengawal Tahanan Kabur Terindikasi Lakukan Pelanggaran Berat Pihaknya juga mengaku melakukan pengawasan optimal di setiap SPBU. Selain memastikan pembelian BBM subsidi menggunakan QRCode, SPBU juga dikatakannya diawasi dengan CCTV 24 jam. "Jadi dalam penyaluran kami dapat dilihat dan ada audit siap mempertanggungjawabkan penyaluran dengan CCTV. Pengawasan optimal supaya tepat sasaran. Dengan begitu, ia mengimbau masyarakat agar tidak panic buying. Pemerintah daerah, Pertamina, BPH Migas, Polda Riau hingga DPRD sudah support untuk hal ini. Jadi masyarakat ggak usah panik. Beli seperti biasa sesuai kebutuhan," lanjutnya. Ia berharap, untuk TW 4 ini, pemerintah daerah bisa memberika rekomendasi penamabhan kuota lebih untuk Riau kepada BPH Migas. "Mudah-mudahn TW 4 Pemda merekom penambahan yang lebih lagi," harapnya. Baca Juga: Demi Keselamatan Siswa Akibat Kemunculan Harimau, Disdik Inhil Liburkan Pembelajaran Tatap Muka di Sungai Danai Imbauan yang sama juga disampaikan oleh pengurus Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) Azmi Aziz. Pihaknya mengajak masyarakat jangan terpancing berita hoax dan mempelajari jurnal resmi terkait. "Persoalan ini rentan dengan perselisihan dan irisan SPBU. Untuk itu masyarakat jangan mudah terpancing. Semoga pemerintah provinsi Riau bisa merekomendasikan untuk menaikkan kuotanya gitu lebih lagi," tutupnya.(azr) Editor : M. Erizal Bagikan: Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami? Riau Pos Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami! Artikel Terkait Pertamina Pastikan Penanganan Cepat Insiden Kebakaran Kendaraan di SPBU 14.282.667 Pekanbaru Selasa, 21 Jul 2026 | 12:39 WIB Pertamina Pastikan Penanganan Cepat Insiden Kebakaran Kendaraan di SPBU 14.282.667 Pekanbaru Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyampaikan, kebakaran kendaraan di SPBU Jalan Hang Tuah Ujung ditangani cepat sesuai prosedur UPA PKK Unri dan Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Riau Tembus Pasar Global Selasa, 14 Jul 2026 | 15:47 WIB UPA PKK Unri dan Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Riau Tembus Pasar Global Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Riau dan Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Riau tembus Pasar Global Pertamina Pantau Perubahan Pembelian BBM Nonsubsidi ke Subsidi Jumat, 3 Jul 2026 | 11:11 WIB Pertamina Pantau Perubahan Pembelian BBM Nonsubsidi ke Subsidi Pertamina pantau peralihan konsumsi BBM dari nonsubsidi ke subsidi usai penyesuaian harga BBM Juli 2026. Berita Terkini Hempas Kamboja 5-1, Sumbang Poin Timnas Indonesia untuk Naik Peringkat Ranking FIFA Hempas Kamboja 5-1, Sumbang Poin Timnas Indonesia untuk Naik Peringkat Ranking FIFA Selasa, 28 Jul 2026 | 06:48 WIB Dalami Dugaan Korupsi di Dinas PUPR PKPP Riau, KPK Periksa Enam Saksi Lagi Dalami Dugaan Korupsi di Dinas PUPR PKPP Riau, KPK Periksa Enam Saksi Lagi Selasa, 28 Jul 2026 | 00:15 WIB Jika Ingin Wajah Bebas dari Jerawat, Konsumsi 5 Makanan Ini Bisa Membantu, dari Bayam hingga Biji Labu Jika Ingin Wajah Bebas dari Jerawat, Konsumsi 5 Makanan Ini Bisa Membantu, dari Bayam hingga Biji Labu Senin, 27 Jul 2026 | 23:43 WIB Winger Liverpool Federico Chiesa Berharap Awal Baru di Bawah Andoni Iraola Winger Liverpool Federico Chiesa Berharap Awal Baru di Bawah Andoni Iraola Senin, 27 Jul 2026 | 23:14 WIB Mitchell Baker Tampil Menjanjikan, Bikin Hattrick dalam Laga Debut di Timnas Indonesia saat Kalahkan Kamboja 5-1 Mitchell Baker Tampil Menjanjikan, Bikin Hattrick dalam Laga Debut di Timnas Indonesia saat Kalahkan Kamboja 5-1 Senin, 27 Jul 2026 | 22:49 WIB Lionel Scaloni Bela Pemainnya dari para Pengkritik setelah Kekalahan Argentina di Final Piala Dunia 2026 Lionel Scaloni Bela Pemainnya dari para Pengkritik setelah Kekalahan Argentina di Final Piala Dunia 2026 Senin, 27 Jul 2026 | 22:45 WIB Real Madrid Siap Rekrut Yan Diomande dalam Kesepakatan 135 Juta Euro Real Madrid Siap Rekrut Yan Diomande dalam Kesepakatan 135 Juta Euro Senin, 27 Jul 2026 | 22:34 WIB Polsek Pangean Musnahkan Delapan Rakit PETI, Polsek Cerenti Sempat Dapat Penolakan Warga Polsek Pangean Musnahkan Delapan Rakit PETI, Polsek Cerenti Sempat Dapat Penolakan Warga Senin, 27 Jul 2026 | 22:15 WIB Gelar Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Gelar Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Senin, 27 Jul 2026 | 22:00 WIB Andrea Pirlo Sebut Dirinya Tidak Akan Melatih Timnas Italia karena Hal Ini Andrea Pirlo Sebut Dirinya Tidak Akan Melatih Timnas Italia karena Hal Ini Senin, 27 Jul 2026 | 21:45 WIB
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar bersubsidi masih terlihat di sejumlah SPBU di Pekanbaru dan wilayah sekitarnya. Tak sedikit konsumen yang harus menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan BBM tersebut.
Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap biosolar di Riau, khususnya Pekanbaru.
Selain itu, terdapat perbedaan harga yang cukup besar antara biosolar sebagai BBM subsidi dan Dexlite yang merupakan BBM nonsubsidi. Kondisi tersebut kemudian mendorong terjadinya perpindahan pengguna.
“Ini menyebabkan terjadinya migrasi. Yang tadinya pengguna jenis BBM non subsidi beralih menjadi pengguna BBM subsidi,” ujar Wilson dalam konferensi pers, Senin (27/7/2026).
Faktor lainnya berkaitan dengan kondisi jalan di Sumatera Barat yang saat ini tengah menjalani perbaikan. Situasi tersebut membuat kendaraan angkutan barang, logistik, maupun penumpang yang melakukan perjalanan dari atau menuju Pekanbaru memilih mengisi BBM di wilayah Riau.
Kendaraan-kendaraan tersebut, kata Wilson, bahkan mengisi BBM dalam jumlah penuh sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah tujuan maupun kembali ke wilayah asal.
“Ini yang menyebabkan terjadi peningkatan. Kami bersama regulator sama-sama menyaksikan dan menanyakan kepada sopir-sopir yang mengantre BBM tersebut,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina telah melakukan sejumlah langkah, salah satunya dengan meningkatkan pasokan solar di wilayah Riau. Penyaluran BBM jenis tersebut disebut mengalami peningkatan hingga sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan tren sejak April hingga saat ini.
“Tren dari bulan April sampai hari ini ada peningkatan penyaluran kurang lebih hingga 20 persen,” lanjut Wilson.
Ia menambahkan, untuk kuota solar Riau pada 2026 hingga triwulan ketiga (TW 3), regulator telah memberikan tambahan sekitar 10.000 kiloliter (kl). Dengan penambahan tersebut, penyaluran pada Juli diproyeksikan mendekati 100.000 kl per bulan.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan penyaluran sebelumnya yang berada di kisaran 90.000 kl per bulan. Menurut Wilson, peningkatan tersebut menunjukkan adanya lonjakan kebutuhan biosolar di tengah masyarakat.
“Untuk bulan Juli ini, bisa kami proyeksikan hampir 100.000 kl per bulan. Ini adalah angka yang sudah sangat besar dibanding sebelumnya yang masih 90.000-an kl. Berarti ini menunjukkan ada peningkatan kebutuhan yang besar di masyarakat,” terangnya.
Dari sisi kuota tahunan, Riau sebelumnya mendapatkan alokasi sebesar 1.053.000 kl. Setelah adanya tambahan dari regulator, jumlah tersebut kini meningkat menjadi 1.063.000 kl.
“Kalau dibilang kurang, tapi angkanya sudah mencapai 1 miliar liter per tahun,” ungkapnya.
Pertamina juga meminta sejumlah SPBU memperpanjang waktu pelayanan dan menambah jalur pengisian. Langkah tersebut dilakukan agar kendaraan yang membutuhkan biosolar dapat dilayani lebih cepat dan antrean bisa dikurangi.
Wilson mengimbau masyarakat tetap tenang karena Pertamina terus memperkuat ketersediaan stok di SPBU. Penguatan pasokan tidak hanya dilakukan di wilayah perkotaan, tetapi juga menyasar daerah kepulauan.
“Kami tidak hanya berfokus di daerah kota, tapi sampai ke kepulauan. Kami memastikan kapal pengangkut BBM ke Bengkalis, Rupat, Meranti dan lainnya bisa sampai lebih cepat dengan kondisi armada angkut yang sehat,” paparnya.
Pertamina juga melakukan pemantauan dan evaluasi setiap hari untuk memastikan proses penyaluran BBM dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Fuel Terminal Manager Sei Siak, Yokky Firza Sukma Hendra, memastikan kondisi stok solar saat ini masih aman. Ia menyebut kapasitas persediaan berada pada kisaran delapan hari.
“Kapal-kapal sudah disiapkan sebagai buffer stock apabila ada permintaan berlebih. Bahkan, saat stok masih penuh pun kapal sudah datang,” katanya.
Untuk mempercepat pengiriman ke SPBU, pihaknya menambah armada mobil tangki serta memperpanjang jam operasional. Depot juga dioperasikan di luar waktu reguler ketika kebutuhan meningkat.
“Beberapa minggu lalu bahkan kami hampir beroperasi 24 jam untuk memenuhi kebutuhan yang cukup tinggi,” terangnya.
Pertamina juga memanfaatkan waktu ketika kondisi lalu lintas lebih lengang atau golden time. Pengaturan tersebut dilakukan dengan memajukan waktu operasional sehingga proses pengiriman BBM dapat berlangsung lebih cepat.
“Artinya kita memajukan jam operasional ke waktu prime time,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Riau Tuah Laksamana memastikan SPBU tetap siap melayani kebutuhan mobilitas masyarakat di Provinsi Riau.
Ia mengatakan, seluruh SPBU menjalankan prosedur operasional standar (SOP) yang telah ditetapkan Pertamina. Untuk pembelian biosolar, konsumen diwajibkan menggunakan barcode sebagai bagian dari upaya memastikan penyaluran subsidi tepat sasaran.
“Kami pada prinsipnya menjalani SOP yang telah diatur oleh Pertamina. Dalam menjalankan regulasi biosolar di SPBU ada aturan. Setiap pembelian biosolar menggunakan barcode. Itu dilakukan supaya subsidi tepat sasaran dan itu sudah berjalan,” pungkasnya.
Menurutnya, SPBU juga tetap melayani kebutuhan BBM masyarakat di wilayah pesisir, termasuk kebutuhan nelayan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Sementara itu, permintaan Pertamina agar SPBU memperpanjang waktu operasional juga telah direalisasikan.
SPBU yang berada di jalur lintas bahkan melayani konsumen selama 24 jam. Sedangkan SPBU di kawasan perkotaan menambah waktu pelayanan hingga sekitar pukul 00.00, menyesuaikan dengan kondisi di lokasi masing-masing.
“Rata-rata menambah jam untuk melayani masyarakat,” paparnya.
Untuk membantu mengurai antrean, sejumlah SPBU juga menambah jumlah dispenser. Jika sebelumnya hanya tersedia dua dispenser, kini ada SPBU yang menambahnya menjadi empat.
“Ini cara kami mengurai antrean,” katanya.
Pengawasan terhadap penyaluran biosolar juga terus dilakukan. Selain memastikan pembelian BBM subsidi menggunakan QR Code, aktivitas di SPBU turut dipantau melalui kamera CCTV selama 24 jam.
“Jadi dalam penyaluran kami dapat dilihat dan ada audit, siap mempertanggungjawabkan penyaluran dengan CCTV. Pengawasan optimal supaya tepat sasaran,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Menurutnya, penanganan persoalan biosolar saat ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah, Pertamina, BPH Migas, Polda Riau hingga DPRD.
“Masyarakat nggak usah panik. Beli seperti biasa sesuai kebutuhan,” lanjutnya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan pada triwulan keempat (TW 4), ia berharap pemerintah daerah dapat kembali memberikan rekomendasi kepada BPH Migas agar kuota biosolar untuk Riau ditambah.
“Mudah-mudahan TW 4 Pemda merekomendasikan penambahan yang lebih lagi,” harapnya.
Imbauan agar masyarakat tetap tenang juga disampaikan pengurus Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), Azmi Aziz. Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan sumber resmi sebagai rujukan.
“Persoalan ini rentan dengan perselisihan dan irisan SPBU. Untuk itu masyarakat jangan mudah terpancing. Semoga Pemerintah Provinsi Riau bisa merekomendasikan untuk menaikkan kuotanya lebih lagi,” tutupnya. (azr)
Seorang wanita diduga dibegal tiga pelaku di Jalan Teropong Pekanbaru. Korban terluka setelah jatuh ke…
Fajar/Fikri mempertahankan gelar China Open 2026 setelah mengalahkan Kim/Seo dalam tiga gim dan meraih dua…
Bakti sosial IKTS Pekanbaru mengumpulkan 176 kantong darah dan melayani 250 warga untuk pemeriksaan kesehatan…
Pemkab Rohul menyiapkan Rp5,4 miliar untuk Pilkades Serentak 2026 di 54 desa. Besaran Bankeu disesuaikan…
Gubernur Riau menyetujui pengalihan aset Jalan Pematang Reba-Pekan Heran ke Pemkab Inhu. Perbaikan jalan rusak…
Polsek Sukajadi menangkap dua terduga pelaku curanmor beberapa menit setelah beraksi. Keduanya diduga beraksi di…