Categories: Nasional

Lestarikan Tradisi Pantun, PHI88 dan HI FISIP Unri Kejar Gelar MURI

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Perhimpunan Hubungan Internasinal (PHI) 88 dan Jurusan HI Fisip Universitas Riau (Unri) berupaya meraih gelar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk tradisi pantun. Misi ini diberi titel MURI for HI Unri Penulisan 10.000 Baris Pantun.

''Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap tradisi pantun dan melestarikannya. Apalagi kini pantun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia,'' ujar Fasha Pratama selaku panitia kepada Riaupos.co, Kamis (14/4/2022). 

Dilanjutkan Fasha, karena ini menjadi misi alumni HI dan Jurusan HI FISIP Unri maka peserta penulisan pantun berasal dari alumni, mahasiswa dan dosen HI FISIP Unri. Adapun jadwal kegiatannya adalah 25 Maret-22 Agustus 2022 masa penulisan pantun dan penganugerahan gelar MURI pada 26 November 2022.

''Guna mendukung misi tersebut, kami sudah menggelar Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu pada Senin (4/4/2022) di Auditorium Sutan Balia kampus FISIP Unri,'' ujar Fasha yang mantan Mayor Komahi itu.

Workshop dibuka oleh Dr Tri Joko Waluyo MSi selaku Ketua Jurusan HI FISIP Unri. Turut hadir lewat platform zoom meeting, Adi Kusuma sebagai pemrakarsa sekaligus Ketua PHI88 FISIP Unri, sebuah organisasi alumni angkatan 1988. 

Dalam workshop tersebut, dua narasumber memberikan materi pelatihan via zoom meeting. Pemateri pertama adalah Rendra Setyadiharja SSos MIP. Ia merupakan rekoris/peraih MURI dalam pantun bidang seni pertunjukan. Pemateri kedua yakni Yoan S Nugraha Cht CI M-NLP Sert-PSA selaku penggiat pantun.  

Menurut Yoan, pantun bukan semata seni tradisi lisan budaya Melayu. Pantun sudah menjadi bagian keseharian orang-orang Melayu dalam berkomunikasi. Lebih khusus lagi dalam penyampaian pesan atau nasihat secara bijak.

Para penutur pantun memiliki kekayaan kosa kata terhadap benda-benda di sekitarnya. Juga mempunyai pemahaman dan kecepatan berpikir dengan kondisi atau situasi yang ada.

Kini, kedua pelaku seni dari Tanjungpinang, Kepri tersebut bersinergi dalam Pantunesia, sebuah gerakan untuk membumikan serta melestarikan seni pantun. Mereka semakin termotivasi setelah UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda.

Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, Kamis (17/12/2020). Penetapan pantun ini menjadi tradisi budaya tak benda ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air telah diakui yakni pencak silat, seni rakit perahu pinisi, Tari Saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis itu.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

Editor: Eka G Putra

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Kementerian Agama Gandeng BPJS Lindungi Dai 3T di Riau

Kemenag, Baznas, dan BPJS Ketenagakerjaan beri perlindungan JKK dan JKM bagi dai 3T di Riau…

18 jam ago

Agung Nugroho Targetkan 5.000 Warga Ramaikan Petang Belimau

Pemko Pekanbaru targetkan 5.000 warga ikuti Petang Belimau, lepas 10.000 bibit patin di Sungai Siak…

18 jam ago

Pemuda Padel Hadirkan Lapangan Super Panoramik di Pekanbaru

Pemuda Padel resmi hadir di Pekanbaru dengan lima lapangan standar internasional dan program latihan bersama…

19 jam ago

Imlek 2026, JNE Hadirkan Barongsai dan Banjir Promo hingga 77 Persen

JNE rayakan Imlek 2577 dengan barongsai, bagi angpau, dan promo ongkir hingga 77 persen, termasuk…

19 jam ago

Honda Bikers Fun Motour Camp 2026, Touring Seru Plus Edukasi Safety

Honda Bikers Fun Motour Camp 2026 di Kampar diikuti 100 bikers Hobiku, padukan touring, camping,…

19 jam ago

Jantung hingga Kanker, Biaya Penyakit Kronis Tembus Rp50 Triliun

BPJS Kesehatan keluarkan Rp50,2 triliun untuk 59,9 juta kasus penyakit kronis sepanjang 2025, jantung tertinggi.

19 jam ago