Categories: Nasional

Kompolnas Minta Awasi Komunikasi Maria

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kasus buronan pembobolan bank Maria Pauline Lumowa (MPL) harus dipercepat. Pasalnya, kasus tersebut telah menggantung selama 17 tahun. Pengawasan terhadap komunikasi MPL juga harus dilakukan.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menuturkan, kasus yang telah menggantung 17 tahun ini tentunya harus ditangani dengan baik. Bukti dan keterangan saksi harus dipersiapkan secara matang. “Agar bisa segera dilimpahkan ke Kejaksaan Agung dan bisa sampai ke pengadilan,” terangnya.

Pengawasan terhadap MPL juga perlu ekstraketat. Baik komunikasi dan pertemuan tersangka dengan siapapun. Hal tersebut penting untuk mencegah tersangka itu menjadi buronan kembali. “Jangan sampai melarikan diri kembali,” paparnya.

Yang juga penting, dengan keberadaan MPL dapat diketahui aliran dananya. Kemana saja aliran dana hasil membobol bank BNI yang mencapai triliunan tersebut. “Harus diupayakan untuk bisa kembali, apalagi mengingat uang negara dari kasus ini Baru bisa dikembalikan Rp 132 miliar. Nilai yang begitu kecil dibanding jumlah uang negara yang hilang,” ujarnya.

Kompolnas juga akan memantau perjalanan kasus tersebut. Apalagi, sorotan masyarakat begitu besar dalam kasus tersebut. “Pengawas internal dan eksternal juga memberikan perhatian,” tegasnya.

Kompolnas juga mengapresiasi Polri yang dengan red notice-nya mampu untuk menangkap MPL. Tentu diharapkan buronan lain juga bisa tertangkap secepatnya. “Yang paling penting kerugian negara juga bisa kembali,” urainya.

Sementara Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indoensia (MAKI) Boyamin Saiman berharap kasus pembobolan ini jangan sampai menutupi kasus lainnya. Seperti kasus Djoko Tjandra. “Kasus itu juga harus ditangani dan dibuka, bagaimana buronan bisa keluar masuk Indonesia seenaknya,” paparnya.

Tenaga penegak hukum begitu besar, tentunya bisa menangani semua kasus tersebut bersamaan. Sehingga, jangan sampai karena satu kasus sedang menjadi sorotan, kasus yang lain ditinggalkan. “Jangan sampai teralihkan,” urainya.

Sebelumnya, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo memberikan upaya Polri dalam menangkap MPL. Berulang kali red notice diproses, sayangnya Belanda tidak merespon permintaan tersebut. MPL yang telah berpindah kewarganegaraan ke Belanda terkesan dilindungi di sana.

MPL baru bisa ditangkap saat menyeberang ke Serbia dari Hongaria. Proses waktu ekstradisinya mencapai satu tahun. Dengan mekanisme sidang ekstradisi.(idr/jpg)

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

2 hari ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

2 hari ago

Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Kampar Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare

Polsek Tambang menetapkan NU sebagai tersangka karhutla 15 hektare di Rimbo Panjang setelah penyidik menemukan…

2 hari ago

Pengendara Wajib Tahu! Akses Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Resmi Berubah

Akses masuk Tol Pekanbaru-Dumai dialihkan ke Pintu Tol Bypass Pekanbaru mulai 28 Agustus 2026 karena…

2 hari ago

Bukan Sekadar Lomba, Pacu Sampan 17 Agustus di Sungai Apit Punya Cerita Sendiri

Pacu sampan Sungai Apit menjadi tradisi kemerdekaan yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, dan terus dijaga…

3 hari ago

Pemerintah Buka Peluang PPPK Guru Jadi ASN, Rohil Masih Tunggu Regulasi

Peluang PPPK guru menjadi ASN mendapat respons BKPSDM Rohil. Pemkab masih menunggu regulasi resmi sebelum…

3 hari ago