Categories: Nasional

Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Bersih dari Segala Branding Rokok

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Dibutuhkan proses superpanjang untuk menghasilkan juara bulu tangkis. Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang bakatnya melimpah saja, perlu waktu lebih dari sepuluh tahun untuk ”jadi”. Dimulai dari audisi beasiswa bulu tangkis 2007 hingga menjadi juara BWF Tour Finals 2017. Proses itu pula yang sedang dijalani ribuan peserta Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2019.

Saat ini audisi sedang menyapa Purwokerto. Sejak 2015 memang PB Djarum meluaskan jangkauan audisi. Tiap tahun kota yang disambangi berbeda-beda. Tujuannya, bakat yang terjaring merata dari semua daerah. Untuk edisi 2019, kebetulan audisi digelar di Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo, dan Kudus.

Kelompok umurnya U-11, U-13, dan U-15.

Dari pengamatan Jawa Pos, branding PB Djarum dalam audisi di Purwokerto itu sudah sangat berkurang. Sejak memasuki area GOR Satria, venue audisi, yang menyambut peserta bukanlah tulisan Djarum. Melainkan backdrop merek minuman ringan yang juga anak perusahaan PT Djarum bergambar trio juara dunia alumnus PB Djarum: Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, dan Kevin Sanjaya.

Di dalam GOR memang masih ada beberapa A-board pemisah lapangan yang bertulisan Djarum Foundation dan PB Djarum. Tapi, jumlahnya tak sebanyak brand anak-anak perusahaan Djarum yang lain. Tulisan Djarum Badminton Club di kaus peserta juga tidak ada. Digantikan e-commerce milik Djarum. Saat pertandingan, mereka memakai jersey yang dibawa dari rumah.

Komisioner KPAI Sitty Hikmawati menyebutkan, audisi PB Djarum memiliki suasana yang arahnya ke rokok. Faktanya, tidak ada satu pun orang yang merokok di dalam gedung. Iklan rokok tidak ada. Mengarahkan anak ke rokok (misalnya dengan tur ke pabrik rokok dan kebun tembakau) juga tidak ada. Audisi bersih dari segala branding rokok.

Sebaliknya, anak-anak dicekoki dengan prestasi. Misalnya dengan memajang foto-foto juara para pemain didikan PB Djarum. Tujuannya, tak lain, adalah memberikan motivasi buat anak-anak belia peserta audisi. Supaya mereka berani bermimpi dan bekerja keras.

Memang, jalan dari audisi hingga menjadi juara –sekali lagi– sangat panjang. Bahkan, jika sudah terjaring pun, mereka tak lantas bisa langsung berprestasi. ”Tahapannya banyak untuk menjadi atlet PB Djarum. Dari pendaftaran, seleksi, final, sampai karantina. Anak-anak berkompetisi terus,” ungkap Fung Permadi, manajer PB Djarum.

Pendaftaran dilakukan di kota-kota yang menjadi host audisi. Peserta kemudian menjalani tahap seleksi. Mereka bisa menunjukkan skill dan kemampuan di lapangan. ”Syarat untuk ikut, tentu punya teknik dasar bulu tangkis yang baik. Itu kriteria yang pas untuk kelompok U-11 dan U-13,” jelas Fung. ”Hanya segelintir yang sudah menguasai dengan baik sesuai apa yang kami gambarkan walaupun peserta banyak,” lanjut dia.

Setelah lolos seleksi, peserta harus menempuh final yang diadakan di Kudus. Mereka bertarung untuk bisa lolos ke karantina. Peserta yang lolos akan mengikuti tahap karantina di asrama PB Djarum selama seminggu. ”Karantina ini gunanya untuk melihat konsistensi dan semangat si atlet. Dalam berlatih dilihat kesungguhannya. Dalam bertanding relatif lebih mudah,” kata pria 51 tahun itu.

Jika lolos karantina, mereka berhak menerima beasiswa selama setahun. Segala fasilitas otomatis mengikuti. Tempat tinggal, makan, biaya pertandingan, dan sebagainya. Fung mengatakan, dalam setahun tersebut akan dilakukan evaluasi. Tahap itulah yang menjadi pertarungan sengit para atlet untuk bisa lolos ke tingkat nasional.

”Tentunya dilihat prestasinya seperti apa. Perbandingan dia dengan teman-temannya,” terang Fung. ”Biasanya dalam enam bulan pertama berlatih penuh dan ikut ke turnamen-turnamen di sekitar Kudus. Kalau hasilnya baik, diikutkan turnamen level selanjutnya. Sampai dinaikkan ke sirnas (sirkuit nasional, Red),” papar peraih perak Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 1999 tersebut.

Begitu masa beasiswa setahun sudah habis dan tidak mampu menunjukkan perkembangan berarti, si atlet akan dikembalikan ke orang tua. Yang mampu berprestasi di ajang sirnas tentu bisa terus dibina. Mereka bakal dikirim ke turnamen-turnamen yang skalanya lebih tinggi. Mulai tingkat nasional hingga internasional. Sampai muaranya diambil pelatnas.

Saat ini, selain Kevin dan Leo Rolly Carnando, ada empat pemain PB Djarum jebolan audisi umum yang berada di Cipayung. Mereka adalah Bobby Setiabudi, Aisha Galuh Maheswari, Aisyah Sativa Fatetani, dan Alifia Intan Nurrokhim. Mereka berstatus magang.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erizal

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

PETI di Kampar Kiri Digerebek, Satu Operator Ekskavato Diamankan Polisi

Polisi membongkar aktivitas PETI di Kampar Kiri Hulu dan mengamankan operator ekskavator. Sejumlah peralatan tambang…

2 jam ago

Warga Rambah Sempat Krisis Air Bersih, Ternyata Kabel Pompa Dicuri

Warga Rambah sempat kesulitan air bersih setelah kabel pompa distribusi di Desa Pawan dicuri. Aliran…

2 jam ago

Dosen Unilak Bekali Siswa SMKN 1 Kandis Jurus Branding Digital dan Hitung Harga Jual

Dosen Unilak membekali siswa SMKN 1 Kandis dengan kemampuan digital branding dan menghitung HPP untuk…

22 jam ago

Air Sungai Singingi Kembali Keruh, PETI Diduga Jadi Penyebab

Air Sungai Singingi kembali keruh setelah PETI diduga beraksi. Warga meminta aparat meningkatkan razia demi…

23 jam ago

Tempuh 192 Km Selama 22 Jam, Goweser Paliko Siap Meriahkan Gowes Merdeka 2026

Tempuh 192 km selama 22 jam, tiga Goweser Paliko dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota hadir…

23 jam ago

Gowes Merdeka 2026 Dimulai, 1.500 Peserta Taklukkan Rute 17 Km di Pekanbaru

Sebanyak 1.500 peserta meramaikan Gowes Merdeka 2026 di Pekanbaru dengan menempuh rute 17 kilometer hingga…

23 jam ago