tak-sadar-gula-darah-tinggi-diabetes-berujung-komplikasi-dan-kematian
(RIAUPOS.CO) – Diabetes merupakan induk dari segala penyakit akibat kadar gula darah yang tinggi. Penyakit ini dapat berujung komplikasi seperti jantung, stroke, dan ginjal, hingga berujung kematian. Kurangnya pengetahuan masyarakat terutama di daerah terpencil membuat masyarakat tak sadar dan tak memahami jika kadar gula darahnya sudah tinggi, akibatnya tidak terkontrol.
Dalam diskusi Novo Nordisk Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk Affordability Project baru-baru ini, akses penanganan diabetes bagi kelompok rentan di daerah terpencil dan sangat terpencil masih sulit. Fasilitas layanan primer seperti puskesmas menjadi ujung tombak.
Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan Yanti Herman mengatakan selama ini tenaga kesehatan akan mendapatkan pelatihan pengelolaan diabetes, pendampingan kegiatan, pemenuhan alat dan insulin sesuai kebutuhan. Ia manambahkan orang dengan diabetes memerlukan pengobatan jangka panjang dan pendekatan komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Namun untuk menjawab kebutuhan ini, masih banyak tantangan yang terjadi di daerah terpencil dan sangat terpencil, seperti infrastruktur, sumber daya, dan kompetensi tenaga kesehatan yang terbatas.
“Hal ini menyebabkan banyak kasus diabetes di daerah terpencil dan sangat terpencil yang harus dirujuk ke rumah sakit besar, tetapi isu geografis menyebabkan tidak semua pasien mau dan dapat pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Banyak kasus yang menjadi tidak dapat dikontrol dengan baik,” kata Yanti.
Diabetes Berujung Komplikasi
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat R Nina Susana Dewi mengatakan diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Kontrol dan penanganan yang tepat akan menurunkan dampak kematian. Prevalensi diabetes di Jawa Barat menurut Riskedas 2018 adalah 1,74 persen atau sekitar 570.611 orang.
“Memang diperlukan kolaborasi dan kerja keras dari petugas-petugas di lapangan, untuk mendapatkan data dan bagaimana kita bisa mengidentifikasi ulang pasien-pasien yang pernah diobati di Puskesmas,” kata Nina.
Ketua PP PERKENI Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD, KEMD, FINASIM, mengatakan diabetes merupakan penyakit yang sangat kompleks dan progresif sehingga dapat menimbulkan kecacatan dan kematian. Diabetes pembiayaan yang begitu besar, baik bagi masyarakat maupun pemerintah.
Menurut data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes terus meningkat dari 10,7 juta jiwa pada 2019 menjadi 19,5 juta pada 2021, membawa Indonesia ke peringkat kelima di dunia, naik dari peringkat tujuh pada 2019. Dari 19,5 juta penderita diabetes, diperkirakan bahwa 50 persen dari mereka belum terdiagnosa, hanya 13 persen pasien yang sudah terdiagnosa menjalani perawatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan hanya 1,2 persen kasus yang terkontrol dengan baik.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Edwar Yaman
Sapi kurban bantuan Presiden Prabowo berbobot 830 kilogram akan disembelih di Masjid Al-Jami’ Desa Babussalam,…
Bupati Kuansing Suhardiman Amby resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PPM Provinsi Riau dalam…
Koperasi Desa Merah Putih di Siak diresmikan sebagai upaya memperkuat ekonomi desa dan menjaga stabilitas…
SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru bersama DUDI menggelar penyelarasan kurikulum guna meningkatkan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan…
KBI Riau membagikan 40 paket sembako kepada warga sekitar Candi Muara Takus dalam rangka menyambut…
Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, peternakan hewan kurban di Pekanbaru mulai ramai pembeli meski tantangan usaha…