Categories: Nasional

Sri Mulyani Curhat soal Naikkan Cukai Rokok

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku, dalam setiap pengambilan keputusan yang dampaknya besar terhadap mayoritas masyarakat selalu menemui dilema. Apalagi, terkait keputusan kenaikan cukai rokok yang menjadi polemik dan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

"Ini policy yang rumit banget, ini sangat dilema, atau trimela bahkan dalam hal ini," kata Sri Mulyani dalam podcast Deddy Corbuzier dikutip Jumat (7/1).

Sri Mulyani menjelaskan, dalam pengambilan kebijakan cukai rokok, maskipun kontribusi dalam penerimaan negara sangat besar yaitu mencapai Rp175 triliun. Menurutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan faktor kesehatan. "Itu (penerimaan negara) gede, kemudian concern kesehatan muncul," katanya.

Sri Mulyani menyebut, saat ini para perokok usia anak harus mendapat perhatian. Sebab, anak usia yang masih sangat muda, bahkan usia 10 tahun sudah merokok. "Itu persentasenya meningkat terus. Waktu itu hampir mencapai 10 persen. Jadi pemerintah harus menurunkan dong persentase orang yang merokok terutama anak-anak kecil ini," tuturnya.

Sri Mulyani mengatakan lebih jauh, dalam menerapkan kebijakan tersebut sangat sulit karena mendapat tekanan dari berbagai pihak. Pihak yang mengutamakan faktor kesehatan selalu curiga terhadap kenaikan cukai rokok yang dinilai masih kecil. Sebaliknya pihak di industri rokok juga keberatan jika cukai rokok naik terlalu besar.

"Kalau saya naikinnya kekecilan orang-orang kesehatan marah-marah, mereka bilang oh Menteri Keuangan pasti dilobi sama industri rokok. Kalau naiknya ketinggian, di sininya (industri) marah oh mesti Menkeu dilobi sama orang-orang kesehatan, apalagi sama dunia internasional," jelasnya.

Sehingga, kata Sri Mulyani, dalam memutuskan kebijakan ini harus memperhitungkan skenario dan penghitungan elastisitas. Artinya pemerintah juga memperhitungkan dampak dari setiap persentase kenaikan.

"Rokok lintingan yang banyak buruh itu kenaikannya di bawah 5 persen. Jadi naik 10 persen ke atas yang industri, yang tembakaunya impor, yang tembakaunya pakai mesin. Itu kan cara main cantik," imbuhnya.

Di sisi lain, Sri Mulyani menambahkan, setiap penerimaan cukai ada dana bagi hasil yang disebar ke daerah. Nantinya, pemerintah daerah pun dipersilahkan untuk memanfaatkan dana tersebut baik untuk belanja kesehatan, memperbaiki gizi hingga membantu para petani dan pekerja di sektor rokok. "Jadi dikembalikan lagi. Lalu kita juga bantu untuk memerangi rokok ilegal," pungkasnya,

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Aslog Kapolri Pimpin Langsung Pemadaman Karhutla di Pelalawan

Mabes Polri mengirim 6.000 liter Formula X-Fire untuk memperkuat pemadaman karhutla di Pelalawan, terutama kawasan…

15 jam ago

Kabut Asap Pekanbaru, Sekolah Kembali Tatap Muka Terbatas dengan Wajib Masker

Kabut asap karhutla masih berdampak pada sekolah di Pekanbaru. PTM terbatas diberlakukan dengan kewajiban masker…

15 jam ago

Hujan Lebat Guyur Kuansing, Salat Istisqa Dialihkan Jadi Tausyiah dan Doa Bersama

Hujan lebat mengguyur Kuansing sejak Jumat dini hari. Salat Istisqa dialihkan menjadi tausyiah dan doa…

15 jam ago

Kasus Dugaan Pencabulan Santriwati, Pengasuh Ponpes di Lubuk Dalam Dibekuk

Pengasuh ponpes di Lubuk Dalam, Siak, RS alias KR ditangkap terkait dugaan pencabulan santriwati. Polisi…

15 jam ago

HSBL 2026 Pekanbaru Segera Bergulir, 46 Tim Siap Adu Kemampuan

HSBL 2026 Pekanbaru diikuti 46 tim dan menghadirkan kategori Junior khusus pelajar SMP atau sederajat…

1 hari ago

PSPS Pekanbaru Tantang PSIS di Laga Pembuka Championship 2026/2027

PSPS Pekanbaru menghadapi PSIS Semarang di laga pembuka Championship 2026/2027. Askar Bertuah menargetkan poin dari…

2 hari ago