Categories: Nasional

Pandemi Covid-19 Bisa Berakhir 7 Tahun Lagi

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Kapan pandemi akan berakhir merupakan pertanyaan semua populasi dunia. Harapan vaksinasi yang masih berjalan saat ini diyakini sulit untuk mencapai kekebalan kawanan atau herd immunity dalam waktu cepat.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (5/2), beberapa pusat produksi vaksin terbesar di dunia di India dan Meksiko baru saja dimulai. Lebih dari 8,5 miliar dosis vaksin telah dikontrak oleh berbagai negara melalui lebih dari 100 perjanjian. Namun, hanya sepertiga negara yang telah memulai kampanye vaksinasi mereka.

Pejabat sains AS seperti Anthony Fauci telah menyarankan dibutuhkan 70 persen hingga 85 persen cakupan populasi agar semuanya kembali normal. Tim pelacak vaksin Bloomberg menunjukkan bahwa beberapa negara membuat kemajuan yang jauh lebih cepat daripada yang lain, yakni menggunakan cakupan 75 persen dengan vaksin dua dosis sebagai target.

Israel, negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi di dunia, menuju cakupan 75 persen hanya dalam dua bulan. AS bisa tepat pada waktunya hingga awal tahun 2022. Dengan vaksinasi yang terjadi lebih cepat di negara-negara Barat daripada di belahan lain di dunia, tetap saja dibutuhkan waktu 7 tahun bagi dunia untuk pulih.

Kalkulator Bloomberg memberikan gambaran singkat tentang waktu, yang dirancang untuk memperhitungkan tingkat vaksinasi saat ini. Caranya menggunakan rata-rata vaksinasi terbaru. Perhitungannya akan berubah-ubah, terutama pada hari-hari awal peluncuran.

Misalnya, salah satu negara, berdasarkan tingkat inokulasi terbaru di Kanada, dibutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mencapai cakupan 75 persen. Gambaran ini harus menjadi peringatan bagi politisi dan pejabat kesehatan Kanada untuk tingkatkan cakupan.

Mendapatkan Kekebalan Kawanan

Vaksinasi melindungi dari Covid-19 setelah mendapatkan suntikan. Tetapi jika hanya sedikit orang dalam komunitas yang divaksinasi, virus dapat terus menyebar tanpa terkendali. Dengan semakin banyaknya orang yang mendapatkan vaksin, sekelompok orang mulai membangun pertahanan kolektif terhadap virus atau kekebalan kawanan. Misalnya, meskipun ada sekumpulan kasus campak di komunitas yang tidak divaksinasi, kekebalan kawanan mencegahnya menyebar ke seluruh negara.

Vaksin yang tersedia saat ini membutuhkan dua dosis untuk vaksinasi penuh. Perhitungannya, untuk cakupan didasarkan pada dua dosis per orang dalam populasi tetapi tidak membedakan antara dosis pertama atau dosis kedua yang diberikan. Pengelompokan tersebut dapat merusak tingkat vaksinasi harian dan tidak tersedia di lebih dari 20 persen negara. Maka dari itu masyarakat dunua diharapkan agar mendukung pelaksanaan vaksinasi agar Covid-19 segera berakhir.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Mantan Dirut PT SPRH Divonis 11 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi PI Rp64,2 Miliar

Mantan Dirut PT SPRH Rahman divonis 11 tahun penjara dalam kasus korupsi dana PI 10…

11 jam ago

Kebakaran Hebat di Jalan Belimbing Pekanbaru, Lima Kios Ludes Dilalap Api

Kebakaran menghanguskan lima kios di Jalan Belimbing, Pekanbaru. Damkar mengerahkan tujuh armada dan berhasil mencegah…

12 jam ago

Rapat Banggar Berujung Kericuhan, Bentrokan Pecah di Gedung DPRD Riau

Kericuhan di DPRD Riau usai rapat Banggar memicu bentrokan dua kubu. Polisi menyelidiki insiden, sementara…

13 jam ago

Polisi Ungkap Temuan Baru Kematian Dokter PPDS di Siak, Dua Jenis Obat Disita dari TKP

Polres Siak menyebut belum ditemukan tanda kekerasan secara kasat mata pada dokter PPDS yang meninggal.…

15 jam ago

Bupati Inhu Dorong UMKM Urus Sertifikat Halal Gratis, OPD Diminta Aktif Dampingi

Bupati Inhu meminta OPD mendampingi UMKM mengurus sertifikat halal gratis agar pelaku usaha memanfaatkan program…

1 hari ago

APHI Riau Dorong Pelaku Usaha Hutan Garap Peluang Bisnis Karbon Lewat Aturan Baru

APHI Riau dan Fairatmos menggelar diskusi perdagangan karbon guna memperkuat kapasitas pemegang PBPH menyambut implementasi…

2 hari ago