pelita-indonesia-teruskan-penghijauan-di-kampus-baru
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Institut Bisnis dan Teknologi (IBT) Pelita Indonesia meneruskan upaya penghijauan di areal kampus baru di Jalan Srikandi, dekat Tuanku Tambusai ujung. Penghijauan dilakukan mengingat areal kampus yang baru selesai dibangun dan diresmikan pemakaiannya itu masih minim dengan pepohonan.
Penanaman pohon kali ini dilakukan bersama mahasiswa yang tergabung di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Rabu (2/2). Belasan mahasiswa di bawah asuhan Green Officer Pelita Indonesia DR Achmad Tavip Junaidi menanam pohon pinang di lahan yang telah ditentukan.
Achmad Tavip mengatakan, Pelita Indonesia bertekad menjadi kampus unggul, kampus merdeka dan kampus hijau. Untuk mencapai tekad kampus hijau diperlukan kegiatan penanaman di lahan kampus yang berdiri megah itu.
"Semangat penanaan pohon ini bukan saja ingin menjadikan kampus hijau. Tetapi juga bertujuan menggugah keinginan warga kampus, terutama mahasiswa agar membudayakan penanaman pohon. Hal ini perlu dilakukan mengingat bumi saat ini sedang terjadi perubahan iklim yang sering disebut sebagai global warming atau pemanasan global," katanya. (fas)
Menurut salah seorang dosen IBT Pelita Indonesia itu, suasana hijau oleh pepohonan yang rindang akan baik sekali untuk proses belajar-mengajar. Selain indah dipandang mata, juga menjadikan kondisi di kampus bisa lebih sejuk.
Hal yang sama disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Anto Siregar. Salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) BEM Pelita Indonesia itu, antusias untuk melakukan penanaman pohon. Dikatakannya, kampus sedang libur perayaan Imlek sehingga sebagian pengurus BEM dan UKM lainnya berhalangan ikut.
"Seperti kita ketahui kampus ini masih baru selesai sehingga belum memiliki pepohonan. Agar tidak gersang maka kami melakukan penanaman pohon. Kelak ketika pepohonan yang ditanam tumbuh besar, maka kampus yang dibangun megah ini akan terlihat hijau dan sejuk," katanya.
Menurut Anto, budaya menanam memang perlu ditumbuhkan di jiwa para mahasiswa dalam rangka pelestarian alam. "Budaya itu kita mulai dari lingkungan kampus, lalu akan diterapkan ke lingkungan yang lebih luas lagi," katanya.(fas)
Bapanas menemukan Minyakita dijual hingga Rp20 ribu per liter di Pekanbaru, jauh di atas HET…
DPRD Pekanbaru menilai persoalan drainase menjadi penyebab utama banjir, sementara pemko mengklaim normalisasi terus berjalan.
Prof Firdaus resmi mendaftar calon Rektor Unri 2026–2030 dengan dukungan tokoh adat, ulama dan masyarakat…
Sebanyak 882 siswa SD di Rohil mengikuti TKA susulan akibat gangguan internet, listrik padam, hingga…
Sapi kurban bantuan Presiden RI untuk Bengkalis dibanderol Rp96 juta, sementara pengawasan hewan kurban di…
Polres Kuansing kembali menertibkan aktivitas PETI dengan memusnahkan 10 rakit penambang emas ilegal di Kuantan…