Categories: MUI Menjawab

Bolehkah Ibu Menyusui Tidak Puasa, tapi Bayar Fidyah

Pertanyaan:

Ustaz, saya mau nanya, bolehkah ibu menyusui tidak puasa, tapi membayar fidyah? mohon penjelasan tentang siapa yang wajib membayar fidyah dan bagaimana ukuran dan cara membayar fidyah?

Siti

Jawaban

Seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dapat berbuka atau tidak berpuasa apabila sang ibu takut bila puasa tersebut menyebabkan air susunya berkurang dan dapat mengurangi kualitas susu bagi anaknya. Menurut ulama, orang-orang yang dituntut membayar fidyah puasa bila meninggalkan puasa adalah:

A.Orang yang meninggalkan puasa karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh.

B.Orang tua yang tidak lagi memiliki kemampuan atau daya untuk berpuasa.

C.Wanita hamil yang berbuka puasa karena takut membahayakan  kandungannya.

D.Wanita menyusu yang berbuka puasa karena takut membahayakan anak yang disusuinya itu.

E.Seorang yang mati sebelum sempat mengqadha puasanya.

F.Seorang yang sengaja menangguh-nangguh qadha puasanya sehingga tiba Ramadhan berikutnya dan ia belum menunaikan puasa qadhanya. Ia wajib membayar fidyah di samping mengqadha puasanya itu.

Kadar fidyah bagi sehari puasa yang ditinggalkan ialah satu mud (cupak) yaitu seperempat gantang atau suku gantang. Menurut taksiran ulama, kadar satu mud menyamai lebih-kurang 800 gram mengikut timbangan gandum. Syarat makanan yang hendak dikeluarkan fidyah ialah makanan pokok penduduk setempat.

Satu fidyah hanya harus diberikan kepada seorang fakir miskin saja. Namun jika fidyah itu banyak, jika hendak diberikan kepada seorang atau beberapa orang fakir dengan syarat bilangan mereka tidak boleh melebihi bilangan fidyah (supaya tidak berlaku satu fidyah diberikan kepada lebih dari seorang fakir).

Jika orang yang wajib membayar fidyah tersebut tidak mampu membayarnya karena miskin, maka terhapuslah kewajipan membayar fidyah seperti terhapusnya kewajipan membayar zakat fitrah. Pendapat ini yang dinyatakan Syeikh Ibnu Hajar di dalam kitabnya Tuhfah. Namun menurut sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak terhapus kewajipan membayar fidyah karena miskin dan fidyah yang belum terbayar itu menjadi hutang. Jika ia mati sebelum membayar fidyahnya, hendaklah dikeluarkan dari harta peninggalannya.(*)

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Tabebuya Bermekaran, Wajah Kota Pekanbaru Berubah Jadi Lebih Indah

Bunga Tabebuya bermekaran di sejumlah ruas jalan Pekanbaru. Warga terpesona melihat pemandangan kota yang lebih…

2 hari ago

Kalam Kudus Menang di Dua Laga, Putra-Putri Melaju ke Final HSBL Selatpanjang

Kalam Kudus meraih dua kemenangan pada HSBL Selatpanjang 2026 dan memastikan tim putra-putri melaju ke…

2 hari ago

Mengarak Tabak hingga Makan Beradat, Tradisi Melayu Batang Peranap Kembali Digelar

Festival Adat Batang Peranap menampilkan Beghagak Tabak, Caca Inai dan Makan Beradat sebagai upaya melestarikan…

3 hari ago

Harga Dexlite Melonjak, Antrean Biosolar di Pelalawan Mengular

Harga Dexlite naik Rp5.050 per liter, pengendara beralih ke biosolar hingga antrean di SPBU Pangkalan…

3 hari ago

Akses Pelabuhan Tanjung Harapan Dibangun Ulang, Ini Panjang dan Ketebalan Jalannya

Pelindo mulai meningkatkan jalan akses Terminal Tanjung Harapan Selatpanjang senilai Rp1,48 miliar untuk kenyamanan dan…

3 hari ago

Lahan 221 Hektare Jadi Sorotan, Mitra Agrinas dan Ninik Mamak Koto Garo Saling Lapor

Konflik pengelolaan lahan eks PT RAL di Koto Garo, Kampar, memanas setelah Mitra Agrinas dan…

3 hari ago