Categories: Pekanbaru

Belum Perlu Status KLB DBD

(RIAUPOS.CO) — Meski korban jiwa bertambah menjadi dua orang, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Pekanbaru belum perlu ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Rujukannya, tahun 2016 saat penderita 800 orang lebih dengan 10 di antaranya meninggal dunia, Pekanbaru juga belum KLB.

Kasus DBD hingga pekan ke-29 tahun 2019 sudah ada 284 kasus DBD dan merenggut dua korban jiwa. Pada April 2019 lalu, DBD sudah merenggut satu korban jiwa. Nazhif Ahmad Ashshiddiq (6) seorang bocah laki-laki warga Sukajadi. Dan Juli, bocah bernama Klaryanda Gistian usia tiga tahun warga Tangkerang Timur Kecamatan Tenayan Raya meninggal karena DBD.

Dua orang yang sudah meninggal dunia akibat DBD tahun ini menyamai angka korban meninggal sepanjang 2018 yang juga dua orang. Meski begitu, angka ini belum bisa membuat status DBD di Kota Pekanbaru ditingkatkan jadi KLB. ‘’Belum perlu (KLB, red). Tahun 2016 yang sampai 800-an orang (penderita, red), juga hampir KLB, tapi belum,’’ kata Plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Pekanbaru M Amin pada Riau Pos, Kamis (25/7).

Ke-284 penderita DBD di Pekanbaru tahun 2019 tersebar di Kecamatan Payung Sekaki sebanyak 55 kasus. Ini diikuti oleh Kecamatan Tampan 49 kasus.  Selanjutnya, Sukajadi 36 kasus, Marpoyan Damai 31 kasus, Tenayan Raya 25 kasus, Bukit Raya 22 kasus, Senapelan 15 kasus, Rumbai Pesisir 12 kasus, Rumbai 13 kasus, Sail 11 kasus, Limapuluh 10 kasus dan Pekanbaru Kota 5 kasus.

Merujuk pada yang disampaikan Amin, tahun 2016 kondisi jumlah penderita DBD di Pekanbaru memang cukup parah. Hingga pertengahan November saja penderita berada di angka 843 orang. Dari jumlah ini 10 orang diantaranya meninggal dunia.

Jika diperbandingkan dengan tahun 2018, penderita DBD berjumlah 358 orang. Meski penderita tahun ini lebih sedikit yakni 284, namun angka kematian yang sama dengan tahun lalu perlu diwaspadai. Hal ini diakui oleh Amin. ‘’Karena itu, di tempat yang sudah terdeteksi ada demam berdarah, kami turunkan tim untuk fogging,’’ katanya.

Dia juga mengimbau masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan gotong royong bersama dan memberikan edukasi serta penyuluhan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan 3M plus yakni menutup, mengubur dan menguras. ‘’Terutama kaleng-kaleng bekas. Ini dibuang sembarangan lalu ada menampung air bersih, di sini nyamuk berkembang biak. Kaleng-kaleng itu lebih baik dimanfaatkan untuk hal lain,’’ sambungnya.

Diwanti-wantinya juga, jika ada anggota keluarga yang sakit demam panas tinggi, hal ini jangan diabaikan. ‘’Bawa ke dokter, baik rumah sakit atau puskesmas. Periksa darahnya. Di puskesmas juga ada alatnya. Ini penting untuk antisipasi,’’ singkatnya.(yls)

Laporan M ALI NURMAN, Pekanbaru

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Pemko Pekanbaru Targetkan Perbaiki Jalan Rusak Lebih dari 42 Kilometer

Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 kilometer tahun ini, menyasar pusat kota…

13 jam ago

Konsisten Sejak 2019, DBC Kembali Kirim 15 Peserta Meriahkan Riau Pos Fun Bike 2026

Duri Bike Community memastikan ikut Riau Pos Fun Bike 2026 dengan menurunkan 15 peserta dan…

13 jam ago

Butuh Pegawai Tangguh, BPR Indra Arta Perpanjang Pendaftaran Rekrutmen

BPR Indra Arta Indragiri Hulu memperpanjang pendaftaran rekrutmen pegawai baru hingga 26 Januari untuk menjaring…

13 jam ago

Jalan Berlubang di Pangkalankerinci Dikeluhkan, Pemkab Pelalawan Diminta Bertindak

Warga dan DPRD Pelalawan mendesak pemkab segera menambal jalan berlubang di Pangkalankerinci karena dinilai rawan…

14 jam ago

Bupati Siak Turun Tangan Atasi Kendala Gaji ASN

Pencairan gaji ASN di Kabupaten Siak terkendala administrasi dampak SOTK baru. Bupati Afni memastikan proses…

14 jam ago

Sampah Masih Menumpuk di Pekanbaru, Warga Diminta Ikut Mengawasi

Tumpukan sampah masih ditemukan di Pekanbaru, terutama di Jalan Soekarno Hatta. DLHK mengajak masyarakat ikut…

14 jam ago