Categories: Pekanbaru

DPRD Pekanbaru Undang Pakar Jepang, Sampah Bisa Jadi Pupuk dalam 24 Jam

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru menghadirkan pakar teknologi Prof Dr Eng Jaswar Koto dalam rapat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Pertanian, serta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, Senin (2/3), guna membahas konsep pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi ala Jepang.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Isa Lahamid dan Ketua Komisi IV Rois. Dalam pertemuan itu, Jaswar Koto bersama tim memaparkan skema pengelolaan sampah terintegrasi yang dikombinasikan dengan sektor agrobisnis pertanian dan peternakan.

Usai rapat, Isa Lahamid menyampaikan apresiasi atas gagasan yang disampaikan. Ia berharap pemaparan tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di Kota Pekanbaru.

“Hari ini kami sengaja mengundang Bapenda Kota Pekanbaru untuk mendengarkan dan mendiskusikan hasil pemaparan dari Prof Dr Eng Jaswar Koto. Beliau ini menggunakan teknologi asal Pekanbaru yang sekarang tinggal di Jepang,” ujarnya.

Dalam paparannya, Jaswar menjelaskan bahwa melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, limbah yang masuk dapat diolah menjadi pupuk dalam waktu 24 jam.

Menurutnya, realisasi program tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dari Pemerintah Kota Pekanbaru, termasuk penentuan skema pengelolaan, apakah dilaksanakan langsung oleh pemko, melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), atau melibatkan pihak ketiga.

“Kita ingin bagaimana ini bisa terwujud. Tentunya perlu telaah lebih lanjut terkait sistem pengelolaannya,” katanya.

Jaswar juga menyebutkan, konsep pengolahan sampah menjadi pupuk tersebut berpotensi menjadi investasi yang menguntungkan, terutama untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan.

Ia mengklaim, dengan kebutuhan modal awal sekitar Rp37 miliar, pengelolaan sampah terpadu itu diproyeksikan mampu menghasilkan pemasukan hingga Rp74 miliar per tahun. Namun, skema pendanaan apakah melalui investasi murni, BUMD, atau pemerintah, masih perlu pembahasan lanjutan.

Teknologi yang ditawarkan menggunakan metode gravitasi, serupa dengan sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Jepang. Dengan metode tersebut, sampah yang masuk pada hari yang sama dapat langsung terproses dan tidak menumpuk hingga keesokan harinya.

“Kami putra Pekanbaru berharap masyarakat bisa mengambil contoh dari Jepang yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik,” ujar Jaswar.(end)

Redaksi

Recent Posts

Tak Boleh Dicicil! Disnaker Pekanbaru Tegaskan THR Harus Cair Penuh Sebelum 8 Maret

Disnaker Kota Pekanbaru tegaskan THR 2026 wajib dibayar penuh sebelum 8 Maret. Perusahaan dilarang mencicil,…

1 jam ago

Catat! Sekolah di Meranti Libur 16–29 Maret, Masuk Kembali 30 Maret

Sekolah di Kepulauan Meranti libur Idulfitri 16–29 Maret 2026. Kegiatan belajar kembali normal pada 30…

1 jam ago

Hutan Mangrove di Bibir Selat Melaka Dirambah, Ancaman Abrasi Mengintai

Sebanyak 3,4 hektare mangrove di Bengkalis dibabat untuk tambak udang. Warga khawatir abrasi pantai makin…

2 jam ago

326 Lubang Menganga, Jalur Simpang Beringin–Maredan Rusak Parah

Sebanyak 326 lubang rusak di jalur Simpang Beringin–Maredan. Sopir truk waswas, pemerintah targetkan perbaikan sebelum…

3 jam ago

Hak THR Tak Dipenuhi? Ini Nomor dan Link Pengaduan Resmi Disnakertrans Riau

Disnakertrans Riau buka posko pengaduan THR jelang Idulfitri 1447 H. Pekerja bisa lapor langsung, via…

22 jam ago

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Disorot, Ada yang Hanya Terima Rp55 Ribu per Bulan

Data P2G mengungkap gaji guru PPPK paruh waktu di sejumlah daerah sangat rendah, bahkan ada…

24 jam ago