Categories: Hukum Kriminal

Cinta Berujung Maut: Polisi Bongkar Kekerasan Sadis Pacar terhadap Gadis Muda

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)Kasus kematian tragis seorang gadis belia akhirnya terungkap. Polisi memastikan korban meninggal akibat kekerasan yang dilakukan berulang kali oleh sang kekasih, AD (19). Fakta tersebut disampaikan Polsek Limapuluh dalam ekspose perkara di Mapolsek, Rabu (22/10).

Kapolsek Limapuluh Kompol Viola Dwi Anggreni menjelaskan, hasil autopsi tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau menunjukkan bahwa korban meninggal akibat benturan benda tumpul di kepala yang menyebabkan pendarahan otak.
“Selain luka di kepala, kami menemukan memar dan luka lecet hampir di seluruh tubuh korban—dari kepala, wajah, leher, hingga kaki,” ujar Kompol Viola.

Hasil pemeriksaan forensik juga mengungkapkan luka-luka tersebut terjadi dalam rentang waktu berbeda, menandakan adanya kekerasan yang dilakukan berulang kali sebelum korban meninggal dunia.
“Pelaku mengakui perbuatannya dan mengaku melakukannya karena emosi sesaat. Tes urine juga menunjukkan pelaku positif mengonsumsi narkoba,” tambahnya.

Dalam ekspose perkara, polisi turut menghadirkan sejumlah barang bukti seperti pakaian korban dan pelaku, kain batik, dokumen, serta hasil autopsi medis. Atas perbuatannya, AD dijerat Pasal 80 ayat (3) juncto Pasal 76C Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Kasus ini mendapat perhatian dari kalangan psikolog. Renny Rahmalia, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Diniyyah Pekanbaru dan Cahaya Adhinata Consulting menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan contoh nyata dari “dating violence” atau kekerasan dalam pacaran, yang kini banyak dialami remaja.

“Korban dan pelaku masih dalam tahap transisi menuju dewasa awal, di mana kemampuan mengelola emosi dan menyelesaikan konflik belum matang,” ujarnya. Menurutnya, ketidakmampuan mengontrol diri dan hubungan yang tidak sehat bisa memicu kekerasan bahkan hingga berujung kematian.

Renny menambahkan, perilaku agresif pelaku dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi psikologis, lingkungan sosial, dan pola hubungan.
“Keluarga memegang peranan besar dalam membentuk karakter anak. Ketika fungsi keluarga tidak berjalan optimal, risiko munculnya perilaku negatif semakin besar,” jelasnya.

Ia mengingatkan, kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap relasi anak muda, serta pentingnya edukasi mengenai hubungan sehat dan pengendalian emosi sejak dini.

Redaksi

Recent Posts

Bupati Inhu Dorong UMKM Urus Sertifikat Halal Gratis, OPD Diminta Aktif Dampingi

Bupati Inhu meminta OPD mendampingi UMKM mengurus sertifikat halal gratis agar pelaku usaha memanfaatkan program…

21 jam ago

APHI Riau Dorong Pelaku Usaha Hutan Garap Peluang Bisnis Karbon Lewat Aturan Baru

APHI Riau dan Fairatmos menggelar diskusi perdagangan karbon guna memperkuat kapasitas pemegang PBPH menyambut implementasi…

22 jam ago

Diterjang Ombak Besar, Speedboat Rute Kuala Tungkal–Sungai Guntung Karam, Seluruh Penumpang Selamat

Speedboat SB Karya Budi karam diterjang ombak besar di perairan Mandah, Inhil. Berkat kesigapan nakhoda,…

24 jam ago

16 ASN Pemko Pekanbaru Resmi Dilantik, Wako Agung: Kinerja Akan Terus Dievaluasi

Pemko Pekanbaru melantik 16 ASN dalam mutasi dan rotasi jabatan. Wali Kota Agung Nugroho menegaskan…

1 hari ago

Masih Nekat Buang Sampah Sembarangan, 29 Pelanggar di Pekanbaru Ditindak DLHK

DLHK Pekanbaru menindak 29 pelanggar yang membuang sampah sembarangan selama Januari-Juni 2026. Denda Rp11,95 juta…

1 hari ago

Aksi Standing di Jembatan Rantau Berangin Berujung Petaka, Pemuda Kampar Jatuh ke Sungai Kampar

Seorang pemuda di Kampar diduga terjatuh ke Sungai Kampar usai melakukan aksi standing di atas…

1 hari ago